Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #12

Memori 11 : Pengumuman dan Penentuan

SENIN, 14 JULI 2014

Saat ini, aku berada di depan pintu UKS aku berdiri dan terlihat banyak murid yang mengerumuni seseorang di depan jendela kantor kepala sekolah, karena ada papan pengumuman berwarna putih berada di depannya. Beberapa teman angkatan sibuk membicarakan tentang hal itu, apalagi di jam istirahat.

Ada seorang bapak yang berusia 45 tahun sedang keluar dari sebuah ruangan sambil memegang 14 kertas HVS. Sementara itu, kakak kelas mulai berdatangan. Ada beberapa yang aku kenal. Mereka mulai mengerumuni si pembawa pesan.

Staf TU lalu menempelkan kertas ke papan pengumuman dan para murid mulai mengikuti bapak bertubuh kurus, berambut putih. Mulanya berjumlah sekitar 10 orang. Selang beberapa detik saja, jumlah bertambah dua kali lipat. Hingga seperempat dari jumlah siswa di sekolah ini berada di lokasi yang sama.

Terlihat dari gerak-geriknya, mereka seperti sedang berusaha mencari cara agar bisa membaca pengumuman.

Ketika beliau selesai menempelkan pengumuman, beliau berbalik dan terkejut karena dikelilingi lautan manusia yang berada di depannya.

Suara riuh pun menguasai tempat itu.

"Aduh kalian ini, bapak jadi pengap nih," keluhnya.

Suara bapak itu kalah saing dengan jumlah murid yang sibuk menanyakan kelas baru mereka.

"Percuma kalian tanya bapak. Kalian di sini mau lihat muka bapak atau pengumuman?" katanya dengan volume yang cukup besar.

Suara-suara itu masih mendominasi tempat ini. Pertanyaan itu adalah "Pak, aku dapat jurusan dan di kelas berapa?"

Bertanya hampir bersamaan dan saling sahut-menyahut.

Beliau begitu kesal, tergambar jelas dari ekspresinya.

Menarik napas panjang dan akhirnya mengusap wajah sambil berkata.

"Nak, tolong menyingkir dulu ya. Bapak mau lewat, nanti lihat lah papan pengumuman ini sepuas kalian," pinta bapak TU setengah pasrah.

Semua murid menuruti instruksi bapak ini. Kembali ribut setelahnya karena mereka ingin melihat di kelas mana ilmu akan dipelajari.

Penentuan jurusan melalui tes yang kami kerjakan sehari sebelumnya.

Aku, sejak melihat pengumuman di tempel. Bergegas untuk ikutan melihat pengumuman itu. Berdesak-desakan dengan yang lainnya. Mencari di jurusan mana nama ku tertera, di mulai dari kelas X IPA 1 sampai X IPS 4. Penyusuran pertama ku gagal dan apakah, aku tidak diterima? Jadi ku ulangi dari awal.

Setelah ditelusuri, nama ku terpampang di pengumuman kelas X IPA 1. Begitu banyak suara manusia. Aku dengar ada yang memanggil nama ku, entah siapa. Beberapa menit kemudian. Seseorang mencolek bahu ku dan ternyata dia, teman akrab ku waktu SMP kelas 9. Mungkin ini adalah surprise yang didapatnya. Ya, kami pikir akan berpisah setelah lulus.

Ternyata cerita kami masih dipertemukan. Pastinya.

"Kok kamu ada di sini Shania?" Ekspresi wajahnya heran.

Dia tertawa, aku? tentu saja tertawa. Senang karena bisa bertemu lagi.

"Bisalah, banting setir. Kamu dapat jurusan dan kelas berapa?"

Alis ku terangkat, kemudian tertawa.

"Oalah, kalau aku kelas X IPA 2. Di lantai dua kelasnya."

Annira Nur Syafitri berkata sambil tertawa, kami ingin mengobrol lebih banyak. Tapi bel tanda masuk ke kelas berbunyi.

"Kelasmu dimana Shania?"

"Masih mencari kelas nya, belum ketemu. Duluan ya Nur." Aku melambaikan tangan.

Langkah kaki ini melangkah pergi ke kelas ku. Sambil melambaikan tangan ke arahnya. Nur, itulah nama yang panggilan teman akrab ku.

X IPA 1, begitulah tulisan pada papan kayu yang berwarna biru. Karton pelapisnya juga berwarna sama dan tulisannya kombinasi antara warna hitam dan putih. Lokasi kelasnya sangat strategis dibandingkan kelas-kelas yang lain. Dua bangunan di belakang kelas ini ada ruang guru dan toilet perempuan. Sedangkan dua bangunan di depan kelas. Ada toilet laki-laki dan UKS.

Halaman kelas X IPA 1 terhubung langsung ke lapangan upacara dan ada pohon besar yang berdiri kokoh

Ketika langkah kaki ini memasuki ruang kelas baru ku. Suasananya terasa sepi dan hanya beberapa murid baru yang ada di kelas ini.

Wajah-wajah dan juga ruangan yang terasa asing bagiku.

Aku memilih tempat duduk yang paling strategis, tepat di depan papan tulis. Aku memperhatikan kursinya. Sangat berbeda dari yang sering kami pakai saat MOS.

Bukan kursi kayu, melainkan kursi yang terbuat dari besi.

Kursi itu dilapisi kain berwarna biru dan juga busa yang terasa empuk jika kita duduk. Sambil melihat sekeliling, aku berusaha beradaptasi dengan hal yang baru ku kenal hari ini.

Satu persatu mereka masuk ke dalam kelas. Mengisi kekosongan bangku yang sedari tadi diam membisu. Ruangan kelas ini bersiap merekam kenangan kami.

Lihat selengkapnya