Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #25

Memori 24 : Secret Admirer? Yakin?

Aku sengaja menceritakan tentang Arni dan Galih di memori 24. Karena persis di tahun 2023, aku tidak bisa mengakses kehidupan mereka lagi. Hal itu mungkin dapat aku usahakan, hanya saja waktu kita sudah habis. Sesuatu yang dipaksakan, ujung-ujungnya tidak akan baik. Boleh jadi memori ku tetap berada di kepala dan menghilang seiring berjalannya waktu.

Mungkin saja, mereka semua yang ada di dalam memori ku. Termasuk Arni dan Galih. Sudah menemukan cerita, teman dan skenario kehidupan yang baru. Jauh dari memori masa lalu yang sudah lewat ini.

Hai Arini Arni. Maaf jika aku baru bisa menyapamu lewat kata. Semenjak duduk di kelas dua SMA, kau banyak menggantung harapan kepadaku. Berharap kisah itu dijadikan sebuah buku. Entahlah Arni, sepertinya aku mau menyerah saja. Kembali dengan harapan semu di ujung rindu. Melupakan semua harapan, mudah. Tapi untuk menceritakan lagi, apakah bisa? Hai Arini Arni, aku bersembunyi di balik dinding ini. Bahkan cerita kita masih di dalam ingatan dan hati. Aduhai, bagaimana lah. Semua menjadi satu, dari mana harus aku mulai? Tolonglah bantu aku mencari jawaban atas pertanyaan yang selalu mengelilingi ku. Dari mana aku harus mulai?

Aku mulai frustasi.

*****

Sebenarnya cerita ini atas dasar ide dari Arni. Termasuk cerita MOS. Ketika itu, aku hanya memberikan beberapa tulisan di buku tulis. Hanya dia yang bisa ku percaya. Setelah membacanya, Arni langsung antusias. Menagih kapan aku menyelesaikannya. Bahkan, dulu pernah ke Gramedia. Berharap ada buku tentang kami di sana. Jadi wajar saja, Arni lebih banyak muncul dibandingkan teman-teman perempuan ku yang lain. Aku pernah berjanji kepada Arni untuk menuliskan cerita perjalanan kami selama 3 tahun di SMA. Bahkan aku menyanggupi janji itu. Tidak adil rasanya ketika cerita ini bisa dibaca orang lain. Tetapi pembaca tidak tahu apa yang terjadi antara Galih dan Arni. Walaupun pada akhirnya hanyalah sebuah memori.

Namanya Bhaskara Galih Pratama. Kakak senior laki-laki yang hobinya gebrak-gebrak meja, waktu jadi panitia MOS di kelompok 4. Setiap kali lewat di depan meja, hal itu pasti dia lakukan. Jujur saja, aku tidak suka. Apalagi matanya itu, kadang dibuat sinis. Apa gunanya coba! Setiap kali melihatnya. Aku malah berpikir bahwa dia adalah orang yang sedang sakit mata.

Galih, entah bagaimana reaksinya ketika membaca catatan memori ku yang dikemas jadi buku. Terserah, aku tidak peduli. Toh, aku tidak lagi berada dalam lingkungan sekolah kan. Boleh dong aku hanya memanggil namanya saja. Galih yang sok ganteng itu. Huh!

Untuk Arni, terimakasih sudah menciptakan banyak memori. Bahkan dulu mendukungku supaya cepat menerbitkan buku. Nyatanya aku perlu bertahun-tahun memantaskan diri. Berdebat dengan diri sendiri. Tapi aku selalu berusaha untuk menyelesaikan ini semua. Meskipun banyak luka lama terbuka jahitannya. Bahkan ada yang telah sembuh, namun kembali kambuh. Aku juga minta maaf jika hal ini membuat kamu teringat akan hal-hal konyol serta menyebalkan di masa SMA.

*****

Hari terakhir MOS. Semua kakak kelas perilakunya berbeda 180 derajat. Salah satunya kak Galih.

Aku bukan peramal, jadi aku tidak tahu apa yang ada dipikiran Arni saat itu. Selesai jam istirahat, dia menjadi akrab seketika. Ada satu teman Arni, perempuan. Ikut terlibat dan lebih banyak jadi pendengar. Entahlah apa yang mereka bicarakan. Aku saat ini duduk di bangku dan membereskan perintilan-perintilan MOS.

Kak Galih adalah sosok orang yang membuatku bingung akan sikapnya. Apakah pacarnya tidak cemburu?

Aku melihat reaksi Arni, dia sepertinya ingin tau banyak tentang kak Galih. Lebih tepatnya penasaran. Setelah itu, kak Galih keluar kelas. Teman perempuan Arni ke bangkunya.

Arni malah menghampiri ku. Lalu duduk di bangku depan. Tubuhnya menghadap ke arah ku.

"Ternyata dia berbeda. Ramah dan baik orangnya Shan. Beda jauh saat kita lagi MOS," ucap Arni.

"Siapa? Kak Galih?" Kenapa aku bertanya. Padahal jawabannya tetap dia.

Arni tertawa mendengar pertanyaan ku. Terdengar konyol, memang. Saat menceritakan itu, mata Arni berbinar-binar. Seolah-olah kak Galih sebagai sosok pangeran berkuda putih yang datang untuk menjemput kekasih hati.

Mungkin, dari rasa kagum. Bisa menumbuhkan benih-benih cinta. Seperti aku dengan kak Dhery.

Arni, aku bingung bagaimana menceritakan kejadian yang kamu alami. Menggambarkan perasaan mu dengan jelas melalui susunan kata. Tentang ceritamu, aku rasa butuh buku kedua. Namun, izinkan aku menceritakannya sedikit. Kemungkinan buku kedua itu perlu waktu lebih lama lagi.

Saat kamu membaca catatan memori ini. Aku berharap tidak ada lagi perasaan kepadanya dan kamu juga sudah sembuh dari rasa sakit. Berdamai dengan diri sendiri. Karena aku tidak dapat memastikan reaksimu ketika membacanya. Maaf kalau catatan memori ku. Harus menunggu selama 10 tahun baru selesai dijadikan buku dan dapat dibaca. Aku tidak sanggup mengingat kenangan yang tidak bisa diputar kembali. Makanya setiap kali ingin menulis, aku hanya bisa bertahan. Tujuan ku cuma satu. Menuntaskan janji yang terlanjur aku sanggupi dan setujui.

Semoga novel ini hanya sebagai hiburan saja.

Hiburan yang menyenangkan sekaligus menenangkan.

*****

Aku memang senang sendiri ketika kelas X SMA, karena hanya itu yang bisa aku lakukan. Tidak ada orang yang menarik selain kak Dhery dan diri sendiri. Melanjutkan perjalanan tanpanya. Entah apakah aku bisa?

Pada saat istirahat, aku berjalan menuju kantin. Beberapa kakak kelas laki-laki yang masih menggunakan seragam olahraga. Terlihat tidak peduli dengan bel tanda istirahat dan malah asyik bermain bola Basket. Termasuk kak Tian. Ketika dia mencetak skor, para kakak perempuan berteriak histeris. Dari ekspresi wajah kak Tian, dia begitu menikmati jadi pusat perhatian. Ternyata senyumannya manis.

Aku juga melihat kakak perempuan, dua orang yang masih memakai baju olahraga duduk di pinggir lapangan. Kebetulan saat itu aku melihat Arni keluar dari kantin bersama temannya, membawa kresek. Mereka selesai membeli jajanan di kantin. Arni dipanggil kakak kelas. Aku memperlambat langkah kaki.

"Dek, nama kamu Arni kan?" Salah satu kakak kelas bertanya. Perempuan pemilik senyuman unik ini. Mengangguk pelan.

"Oh, dia ini yang naksir Galih itu ya?"

Lihat selengkapnya