Memori 2014
Pada kesempatan kali ini, aku ingin menceritakan salah satu teman ku. Hingga sekarang keberadaannya tidak aku ketahui. Setidaknya, dengan menceritakan kisah ini. Aku bisa menjelaskan sedikit kekeliruan yang terjadi. Semoga ada kesempatan untuk bertemu dengannya kembali.
Intan Najima Apriliana, nama lengkap teman ku. Informasi yang pernah aku dengar darinya secara langsung. Aku tidak mengetahui persis dimana rumahnya. Kenal hanya sebatas bertegur sapa. Tapi aku harap kamu tidak melakukan tindakan konyol dengan mencari tentangnya. Apa urusan mu? Hanya kepo? Buat apa?
Semenjak kak Dhery pergi. Nima sering menghindar, tidak banyak bertemu dengan ku. Walaupun kami pernah satu kelas di tahun pertama. Dia adalah sosok aneh dalam ingatan teman-teman dan juga guru di sekolah ku. Pertama, dia adalah orang yang sering datang terlambat ke sekolah. Bukan hanya itu. Bahkan kalau ada nominasi siswa yang paling sering terlambat ke sekolah. Aku yakin, dia pasti menang, bahkan mengalahkan anak-anak IPS yang masuk kategori.
"KAU INI. BUAT MALU SAJA! SEHARUSNYA TEMPAT MU DI IPS. BUKAN IPA!"
Salah satu guru piket. Aku lupa siapa namanya, dengan keras membentak Nima. Sampai saat ini, aku tidak tau apa yang membuatnya sering datang terlambat ke sekolah. Mereka hanya bertanya alasan lalu menghukum, selesai.
Begitulah, anak IPA selalu dilabeli sebagai anak baik dan IPS justru kebalikannya.
Namun selama 3 tahun bersekolah. Aku paham akan satu hal. Mau sebaik apapun lingkungan. Pasti ada yang tidak baik. Mau seburuk apapun lingkungannya tetap ada yang baik, bahkan menjadi yang terbaik.
Menurut ku, IPA dan IPS bukan tentang hitam putih. Tapi merupakan pilihan sesuai kebutuhan.
Mungkin, jika pertama kali mengenal Nima. Orang akan berpikir bahwa dia adalah sosok yang terlihat aneh, cuek, kaku, tidak sabaran dan tidak peduli. Sering diremehkan orang lain, dilihat hanya sebelah mata.
Tapi aku pernah mendengar pertanyaan dan mendengar impian dari Intan. Aku kembali menimbang kesimpulan orang lain tentang dia.
Waktu pelajaran Biologi. Nima bertanya.