Aku dan Opi menyempatkan waktu, kami punya janji untuk makan siang. Awalnya ingin bernostalgia di salah satu warung. Ternyata hari ini pemilik warung itu tidak buka. Jadi, Opi memutuskan untuk melewati jalan menuju sekolahku dulu. Melalui kaca mobil, aku melihat tembok-tembok besar mengelilingi lapangan sebelum bangunan sekolah. Ada halte angkutan umum di depan lapangan itu. Aku biasa melewatinya sebagai alternatif jalan pintas ketika bersekolah di SMADA. Kini tidak bisa lagi.
Banyak hal sudah berubah. Tapi pohon Jambu Monyet yang menjadi tempat kami bercerita setelah pulang sekolah, tetap berada di sana. Dulu, aku bisa melihat langsung ke arah jalan. Sekarang tembok-tembok itu menghalangi pandangan mata. Suasana yang tidak bisa aku rasakan lagi.
Opi menerima sebuah panggilan telepon. Mereka sepertinya membahas sesuatu yang sangat penting. Terlihat dari ekspresi wajah pengemudi mobil, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.
"Shan, kita makan di tempat lain saja ya," usul Opi. Aku hanya menganggukkan kepala.
"Tapi, enaknya makan dimana ya?"
*****
Ini adalah semester kedua. Satu bulan berlalu. Kami mulai memasuki aktivitas belajar mengajar seperti biasanya. Hari ini aku sudah memikirkan hal itu secara matang. Kalau tidak sekarang, kapan lagi. Maka, setelah jam pelajaran berakhir, disusul dengan bel berbunyi. Aku keluar kelas menemui Nur yang sedang berjalan keluar gerbang sekolah dan memintanya untuk menunggu sebentar.
Setengah berlari, aku kembali masuk ke halaman sekolah. Tentu saja pak Darso yang duduk di posnya, mengernyitkan dahi. Heran melihat ku kembali masuk. Padahal 8 menit lalu, bel berbunyi. Harusnya pulang ke rumah, mungkin ada sesuatu yang tertinggal. Pikir pak Darso. Bahkan, mas Yanto tercengang. Sambil membawa sapu di tangan. Arah matanya melihat ku berlari seperti mengejar sesuatu. Kalau hari ini terlambat satu detik saja, pasti akan berbeda cerita. Lagipula, aku sudah berjanji dalam hati untuk mempertemukan mereka. Beberapa teman ku kebingungan.
"Shan, kamu mau kemana? Ada barang yang tertinggal?" Nima melihat ku berlari. Tidak peduli, gerakan ku membuat sedikit angin yang dia rasakan.
Untunglah, Arni masih ada di halaman depan Mushola. Aku langsung mengatur nafas. Kemudian dengan cepat berdiri di hadapan Arni. Teman di sebelahnya kaget melihat aku tiba-tiba muncul dari kerumunan orang-orang yang ingin segera pulang. Arni juga kaget, aku membaca dari matanya. Tapi dia tetap berusaha tenang.
"Arni, ikut aku."
Tangan ku dengan sigap meraih tangannya. Teman satu gang Arni bertanya-tanya. Panik. Berusaha menahan ku. Arni dengan sikap tenangnya memberi tahu bahwa hari ini tidak bisa pulang bersama. Kejadian itu terjadi dengan cepat. Aku mempercepat langkah kaki, namun masih mengawasi Arni yang berusaha menyusul.
"Bisa pelan-pelan Shan. Aku capek mengikuti langkah kaki mu," gerutu Arni. Kami sudah sampai di depan gerbang sekolah.
"Shania, kenapa tadi lari-lari?" Mas Yanto bahkan menghentikan kegiatan menyapu. Saat melihat ku berjalan keluar gerbang.
"Teman ku ketinggalan Mas," jawab ku tanpa menghentikan langkah kaki. Tapi kepala menoleh ke arah Mas Yanto.
Arni menggerutu, ekspresi wajahnya kesal. Pikiran ku saat itu adalah, bagaimana kalau Nur sudah dijemput. Gagal sudah mempertemukan mereka berdua. Arni dengan sabar mengikuti ku hingga akhirnya kami bertiga bertemu di pohon Jambu Monyet.
Pertama kali mereka bertemu, hanya saling pandang. Aku tau bahwa mereka saling berkata dalam hati, 'ini ternyata orangnya'. Setelah beberapa detik berlalu, Arni mengulurkan tangan, memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nur lalu menyambutnya. Mereka saling berjabat. Perkataan dari Arni yang hingga kini masih aku ingat.
"Kelas kita bersebelahan. Tapi kenapa tidak bisa saling kenal?"
"Semua itu butuh perantara," jawab ku.
Arni mengangguk setuju, Nur hanya diam tanpa menanggapi perkataan kami berdua. Suara klakson motor berbunyi. Nur ternyata sudah dijemput. Kami bertiga lalu saling mengucapkan kata perpisahan.
Setelah itu, aku dan Arni berjalan melewati lapangan ini menuju halte. Orang-orang mengenalnya dengan sebutan lapangan bola SMADA. Perasaan bersalah membuat ku meminta maaf kepada Arni. Karena tindakan yang aku lakukan. Membuatnya hari ini tidak pulang bersama rombongan.
"Santai, angkutan umum masih banyak. Cuma rugi di uang saku aja," jelas Arni.
"Kenapa?"
"Sebetulnya aku harus naik angkot yang memang disewakan untuk antar jemput. Bayarnya per bulan. Rugi juga kalau hari ini malah naik angkot lain untuk pulang." Mendengar ucapan dari Arni, yang bisa aku lakukan. Hanya bisa tertunduk lemas.
"Tapi, aku senang. Bertemu dengan teman baru."
Kalau boleh aku menyampaikan ini kepada dia. Aku ingin bilang, sosok yang paling dewasa diantara kami adalah Arni. Kami bertiga menjadi akrab ketika naik kelas dua SMA hingga lulus. Walaupun kelas kami lebih dekat. Satu fakta itu harus aku tuliskan. Selama bersekolah, hanya Arni yang tidak pernah satu kelas dengan kami berdua. Aku dan Nur.
*****