Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #38

Memori 39 : Buku Catatan Nima


(Contoh buku catatan ini milik teman sekelas ku, tahun 2015. Digunakan sebagai ilustrasi. Tulisan yang tertera di foto, bukan tulisannya. Itu adalah tulisan sekretaris kelas X IPA 2, namanya Tatiana)

Shania, begitulah orang-orang memanggilku. Gadis yang lumayan lama move on, mungkin itu yang ada di pikiran pembaca. Sampai belasan tahun, kemudian memutuskan untuk berani menulis ceritanya. Membiarkan semua kejadian mengalir di dalam tulisan. Ada beberapa hal sudah hilang dari ingatan. Tentu saja aku senang, bahkan jika tulisan ini selesai. Semuanya bisa aku lupakan.

Sekarang, aku menjadi lega. Rasanya hidup ku sangat beruntung, karena orang-orang yang ada di cerita ini tidak peduli sama sekali. Bahkan membiarkan memori yang tanpa sengaja terekam, kini dibaca banyak orang. Mungkin mereka pikir, novel ku tidak mempengaruhi apapun di kehidupan mereka. Berharap apa? Toh isinya cuma celotehan masa lalu. Mau bagaimana lagi? Tapi ya, semoga mereka punya kesibukan dan pekerjaan atau apapun itu. Sehingga membuat ku sebagai penulis amatir yang selalu khawatir ini, menjadi lebih tenang.

Aku menarik nafas panjang, lalu melirik ke arah buku yang dipenuhi nuansa warna biru. Lama aku memperhatikannya. Mata ku berkedip lebih banyak dalam lima detik. Mencari hal di dalam otak, menganalisis benda tersebut. Untuk apa?

Sebuah buku yang memiliki cover dari film kartun Frozen, terkenal pada masanya. Seingat ku, ketua kelas kami di kelas Xl IPA 2 juga memiliki buku yang bertema kartun Frozen. Aku letakkan diatas meja. Buku ini aku temukan saat Dita bercerita tentang sebuah tulisan yang isinya membingungkan. Ketika mendengar Dita bercerita, aku segera bergegas mencari dan menyimpan buku itu. Hampir dua tahun aku membiarkan tumpukkan beberapa buku tersebut di sudut kamar. Hingga akhirnya, memutuskan untuk merapikan dan membawa beberapa buku penting yang menjadi sumber referensi untuk novel kedua. Entah bagaimana ceritanya buku “Frozen” itu sampai ke tangan ku.

Aku harap ada pertanyaan yang selama ini belum sempat terjawab. Pada akhirnya menemukan jawaban. Walaupun terselip sebuah keyakinan, bahwa ada beberapa hal memang harus dilupakan tanpa adanya jawaban.

Setelah cukup panjang memikirkan beberapa pertimbangan. Tanganku meraih smartphone. Kemudian memutuskan untuk mengambil foto bukunya dan langsung mengirim hasilnya ke WhatsApp Cici. Berniat untuk mengajak dia berdiskusi. Tentu saja, dia orang yang bisa aku percaya. Namun, aku sebenarnya masih bingung.

******

Aku senang berada disini, walaupun esok lusa. Melalui suatu peristiwa yang dengan terpaksa membuat ku harus meninggalkan kota kelahiran ku. Entah itu karena pendidikan atau pernikahan. Boleh jadi sebuah kematian. Betul kan?

Entah berapa banyak kendaraan yang berlalu lalang di depan ku. Setiap beberapa menit sekali berhenti, membentuk antrian panjang. Menunggu izin untuk meninggalkan jalanan ini.

Kami menyewa sebuah ruko, Ayah memilih lokasi tepat berada di sebuah Masjid yang disampingnya ada komplek pemakaman. Banyak kendaraan roda dua dan empat melintasi jalan raya di depan ruko ini. Jalan raya utama pusat kota. Suara kendaraan menemani keheningan kami.

Sekarang, usia ku memasuki seperempat abad. Tidak masalah, itu bukan hal yang penting bagiku. Namun, bagi keluarga Ayah dan Mamak. Itu penting. Bahkan sangat penting. Tentu saja, aku sering dijodohkan. Sampai kepala ku terasa berdenyut berkali-kali. Pusing meladeninya. Mereka hanya melihat ku dengan mata penuh rasa iba dan prihatin. Tapi, aku merasa baik-baik saja. Untuk saat ini.

Terapi menulis, jadi satu-satunya terapi dengan efek samping paling kecil. Daripada harus menelan beberapa pil dengan kontrol waktu yang ketat.

Oleh karena itu, dengan senang hati aku menjalani terapi menulis. Kegiatan menulis juga membuat ku merasa lebih baik. Walaupun terkadang, beberapa peristiwa membuat ku harus beristirahat sejenak. Membiarkan emosi meluap dengan sendirinya. Meskipun begitu, aku tetap melanjutkan kegiatan ini. Contohnya menulis jurnal harian. Supaya aku bisa melepas tanpa memiliki rasa takut kehilangan memori. Lalu memilih untuk membiarkan semua tetap berada di tempat yang seharusnya. Melepaskan bukan berarti melupakan. Hanya saja, keputusan untuk mengikhlaskannya membuat kaki menjadi lebih ringan melangkah ke depan.

Jika hidup untuk bertahan hidup, maka itulah hidup. Jika ingin menemukan kehidupan, maka terima semua kenangan dan perjalanan hidup itu, menjadi bagian dari kehidupan.

Kita tidak bisa selamanya terjebak dengan waktu yang sudah terlanjur berlalu. Bahkan sudah membeku seperti batu.

Tidak perlu berharap. Biasanya, kita memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan orang dan perasaan di masa lalu yang memiliki kemungkinan kecil, sekitar 5%. Hanya orang-orang yang benar-benar tulus akan bertahan dan menyimpannya di tempat khusus. 95% memilih segera memastikan dan memantaskan diri bertemu teman hidup di waktu yang tepat. Segala sesuatu memang sudah disediakan skenario terbaiknya. Aku belajar melepaskan dan mengikhlaskan beberapa kenangan.

Tetaplah bertahan, kamu tidak boleh merasa sendirian. Walaupun tidak ada pasangan. Kamu masih punya Tuhan.

Lihat selengkapnya