Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #27

Memori 26 : Tes dan MPLS

Dalam hitungan jari kanan, hari-hari banyak tugas dan mendengarkan celotehan guru akan segera dimulai. Angkatan kami menjadi anak tengah untuk satu tahun ke depan. Bukan lagi anak bungsu yang masih imut-imut nan polos.

Seperti tahun sebelumnya, aku masih setia menggunakan angkutan umum. Mobil yang dicat hitam seluruhnya, berhenti tak jauh dari gerbang sekolah. Penumpangnya ada siswa SMA, ada siswa SMP dan seorang Tante yang bermata sipit juga ada di mobil ini.

Satu persatu teman ku turun dan mulai berjalan melewati gerbang itu. Aku mengikut langkah kaki mereka, lalu berhenti sejenak. Aku melihat banyak anak-anak berseragam putih biru, memasuki sekolah ku. Apakah mereka salah masuk gerbang? Bukan kah anak-anak itu harusnya ke gedung sekolah yang bersebelahan dengan sekolah ku? Suasana itu membuat ku kembali mengingat sejenak, aku berdiri di tengah gerbang dalam waktu yang lama. Tahun kedua di SMA, aku mulai terbiasa dengan lingkungan sekolah. Semua menjadi akrab di mata. Tiba-tiba saja otakku memutar sebuah memori pertama kali menginjakkan kaki di depan gerbang ini. Dulu, aku masih berusaha untuk beradaptasi dan mengenal lingkungan baru. Selang satu menit kemudian, aku mulai tersadar.

Telinga ku mendengar suara kendaraan roda dua. Perlahan-lahan suara itu merambat dan akhirnya terdengar jelas deru mesinnya.

TIIN....TIIN....TIIN....

Suara klakson motor itu terdengar. Kedua bahu ku refleks mengangkat, dalam hitungan dua detik. Bahu ku kembali ke posisi semula. Itu terjadi karena aku terkejut.

"Hei kamu. Cepat masuk. Jangan berdiri di sana!" teriak pak Darso dengan nada khawatir.

Pak Satpam sekolah itu dengan cepat menegur ku, lalu mengarahkan beberapa anak-anak berseragam putih biru menuju sebuah gedung. Ternyata mereka murid baru disini. Aku menoleh ke arah bapak Satpam, lalu meminta maaf dan menunduk karena malu. Kemudian kaki ku berjalan cepat menuju ke halaman depan koridor sekolah. Melihat reaksi ku, beliau hanya bisa geleng-geleng kepala.

Aku mempercepat langkah menuju kelas. Hari ini seperti mengulang kejadian satu tahun lalu. Hanya saja suasananya berbeda. Beberapa teman sekelas ku menjadi panitia MOS.

Tentu saja, semua memori tentangnya masih ada dan tersimpan begitu rapi. Bukan melupakan, hanya sedikit menjeda karena aku ingin menikmati hari. Lagi pula, dia juga sibuk dengan kegiatan dan urusan kampusnya. Aku memang memutuskan untuk tidak berkomunikasi dengannya. Dari dulu, aku memahami diriku.

Aku berjalan menuju kelas dengan mata yang melirik ke arah kanan kiri. Memperhatikan mereka, warga sekolah yang baru. Beberapa diantaranya sudah memakai atribut untuk mendukung kegiatan Masa Orientasi Sekolah. Aku tersenyum, melihatnya. Ternyata begini ya, kakak kelas melihat ku di tahun kemarin.

Rasa-rasanya lucu sekali kalau diingat-ingat. Walaupun beberapa hal memang sangat menyebalkan dan tidak masuk akal. Aku menggelengkan kepala dengan pelan. Berusaha membuyarkan memori.

Entah dimana kelasku yang baru, tapi untuk saat ini. Aku masih berada di kelas yang lama. Sambil menunggu pengumuman pembagian kelas dan juga selama 2 hari ke depan. Kegiatan MOS dilaksanakan. Aku penasaran bagaimana keseruan dan drama kegiatan itu di tahun ini.

Teman-teman ku mulai berdatangan, mengisi bangku-bangku kosong itu. Aku merasakan suasana di ruang kelas ini berbeda. Mata ku kemudian memperhatikan Feren, teman sebangku. Pertanyaan yang sama persis diajukan kepada ku ketika pertama kali duduk di sebelahku. Entah kenapa aku juga menjawab dengan kalimat pertanyaannya. Setelah itu tidak ada percakapan sama sekali. Pertemuan pertama itu membekas hingga kini.

Bel tanda istirahat berbunyi, aku keluar kelas. Tadi pagi aku tidak sempat sarapan. Jadi tujuan ku sekarang menuju kantin sekolah. Ada beragam jenis makanan tersedia disini. Aku memilih untuk membeli beberapa gorengan. Sekarang perut ku sudah terisi, aku kembali ke kelas. Hari ini aku hanya ingin sendiri. Memperhatikan pohon besar dan rindang yang ada di depan ku. Merasakan angin sejuk yang berhembus, Beberapa saat kemudian, dia duduk di sampingku. Memulai sebuah percakapan yang harus segera diberikan keputusan. Disela-sela mendengarkannya, ada salah satu teman perempuan. Berbeda jurusan, ikut duduk bersama kami. Selama kami satu kelas, aku baru kali ini mendengar dia berbicara dengan terbata-bata. Dari eskpresi wajah dan gestur tubuhnya, dengan cepat aku mengetahui bahwa dia sedang gelisah.

Pada semester pertama, semua siswa diberikan kesempatan untuk pindah jurusan dari IPA ke IPS atau sebaliknya. Kelasku ada satu siswa yang pindah jurusan. Nima curhat dan merasa dia salah kelas. Mulai dari nilainya tidak mencapai standar, kurang motivasi belajar dan dia merasa aneh sendiri di kelas. Selama 6 bulan, pemikiran-pemikiran dia terasa diluar kotak. Kemudian meminta pendapat kami, pindah jurusan atau bertahan. Temannya tidak setuju, dia bilang jurusan IPA sudah cocok dan paling pas untuknya. Sedangkan aku hanya diam, menyimak percakapan itu. Memikirkan banyak hal.

Lihat selengkapnya