Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #28

Memori : Tahun Ajaran Baru? Lagi?

Gerbang seekolah itu kembali terbuka. Langkah kaki beramai-ramai memasuki gedung ini. Ritual yang kami lakukan setiap hari, selama jadwal sekolah berlangsung. Walaupun kadang rasa bosan dan malas setiap saat menyapa diri. Keberadaan Pak Satpam mulai terbiasa. Beberapa siswa bahkan tidak peduli. Apalagi saat-saat bel tanda masuk berbunyi dua menit lagi. Mereka akan berlari kencang, memaksimalkan kekuatan yang ada. Setidaknya terbebas dari hukuman. Terlambat adalah sebuah kutukan. Seumur hidup akan dicap kurang disiplin, pembangkang dan tidak taat aturan.

Aku sudah menerima bahwa kak Dhery tidak lagi ada disini. Beberapa hal mungkin terasa ada yang kurang. Namun aku belajar untuk menerima semua kenyataan. Perjalanan ku masih panjang, aku juga mendapatkan teman-teman yang baik disini.

Satu bulan berlalu. Kegiatan belajar mengajar di sekolah, mulai aktif kembali. Aku sudah menemukan kelas baru. Beberapa teman di tahun sebelumnya, kini sekelas dengan ku. Nur, kami menjadi teman sebangku. Upacara di tahun ajaran baru terasa khidmat dan singkat bagiku. Para siswa membubarkan diri, namun aku ingin menemuinya. Mata ku harus fokus mencari sosok itu. Tubuh ku berusaha menghindar tubuh manusia lainnya, dengan lincah mencari celah untuk sampai di barisan kelas Arni. Tekad ku sudah bulat, aku harus memastikannya sendiri. Diantara rombongan itu. Entah beberapa detik. Aku menyadari bahwa salah satu perempuan yang memakai kerudung putih, sedang berbicara dengan temannya. Benar, dia Arni. Tanpa pikir panjang, aku langsung mendekatinya dan berkata, “Kamu Arni kan?” Sorot matanya kini beralih padaku. “Iya, aku Arni. Kenapa?” Tentu saja aku penasaran dengan perubahan penampilannya di semester ini.

“Kamu beneran Arni?” Aku bertanya untuk memastikannya. Kemudian dia mengangguk. Ketika mendengar jawabannya. Perasaanku campur aduk. Terkejut, kagum dan juga terharu.

Barisan kelas semakin sedikit, karena banyak yang berbondong -bondong masuk kelas masing-masing. Ucapan dan raut wajahnya samar-samar mulai muncul di kepala. Dengan lincah, tangan ku menekan huruf-huruf abjad yang membentuk kalimat. Sampai hari ini, aku masih bisa melihat dengan jelas kejadian itu.

“Sebenarnya, aku sudah lama ingin memakai kerudung. Tahun ini aku memantapkan diri,” jelasnya sambil tersenyum. Lapangan upacara hampir setengahnya kosong. Arni diajak teman satu kelasnya untuk segera masuk kelas. Aku yang masih penasaran dengan sesuatu dibaliknya. Dengan cepat aku meraih tangan Arni, berusaha untuk memintanya bercerita lebih banyak lagi. Namun, dia melepaskan tangan ku. Raut wajahnya terlihat kesal. Waktu itu semua murid masuk ke menuju kelas masing-masing. Termasuk rombongan kelas Arni. Sebelum dia pergi, sempat terdengar ucapan dari Arni untuk bercerita ha ini di lain waktu. Tapi, sampai naskah cerita ini aku ketik. Ucapan itu seolah ikut berhenti, hilang seketika. Meskipun di hari selanjutnya dan sepanjang dua tahun menjadi teman akrab. Aku tidak pernah bertanya lagi tentang alasan dia memutuskan untuk memakai kerudung.

Selama mengetik, kepala ku terasa sangat sakit. Terutama di bagian sebelah kanan, sampai ke telinga. Walaupun merasakan pusing dan sedikit mual, aku tetap berusaha kuat untuk menyelesaikan tulisan ini. Ada benda cair yang ingin keluar dari hidung ku, disusul dengan aroma aneh yang semakin kuat.

“Darah, hidung kak Shania keluar darah!” teriak Dita ketakutan. Ternyata, dia memperhatikan ku. Menyadari teriakannya, aku segera mengambil tisu yang ada di meja. Lalu menghapus jejak darah di wajah. Mendengar kehebohan dan beberapa orang mengelilingi ku, Hendra langsung memecahkan tembok-tembok manusia dan segera menemui ku. Meskipun aku masih merasakan pusing dan sedikit panik, aku tetap berusaha untuk tenang. Semua yang ada di sana membubarkan diri. Hendra duduk di sebelah ku. Wajahnya terlihat cemas. Pada beberapa menit berikutnya, ketakutan ku dan dia terjadi. Aku mulai melihatnya perlahan-lahan menjadi buram, dengan secepat kilat menjadi gelap. Apakah ini sebuah pertanda, bahwa aku harus berhenti menulis selamanya? Tolonglah, aku baru saja mulai. Menjengkelkan kadang.

Lihat selengkapnya