Kalau bukan karena dia. Hal ini tidak akan pernah terjadi diantara mereka berdua. Atau boleh jadi, akan selalu jadi rahasia. Di masa SMA yang begitu banyak momen-momen indah. Ada momen yang membuat kami hari itu merasa tidak pernah lagi utuh. Kadang percuma saja mengabadikan semua. Tidak akan bisa memperbaiki atau mengulang kembali kejadiannya. Waktu bergerak maju, tak peduli serapuh apa diriku. Tapi aku ingin sembuh dan tenang. Aku sangat berharap ketika mereka membaca novel ini, tidak mengalami rekasi seperti ku. Semoga.
Itulah salah satu alasan kenapa tulisan ini baru bisa dibaca, meskipun sudah lama aku menyimpannya. Berharap di umur 30 tahun. Semuanya tidak akan lagi sama. Intinya tidak ada yang peduli dan berharap ini semua cerita tanpa arti. Namun semua cerita ini sangat berarti bagiku.
Kabar baiknya, aku semakin semangat menyelesaikan semua ini. Barangkali, menulis adalah salah satu cara ku sembuh dan kembali berani membuka lembaran baru. Terbebas bayang-bayang masa lalu. Rindu? boleh jadi. Rasa itu hanya sebagai pemanis kehidupan. Seperti rest area, lalu kembali lagi ke tujuan. Hidup tetap terus berjalan. Semesta tidak peduli bagaimana keadaanmu saat melewatinya. Ia hanya ingin mengajarkan sesuatu padamu, mengubah bentuk dan membentuk mu menjalani proses perbaikan.
Sebenarnya aku malas mengingat kejadian itu. Membuat kepala dan dada ku menjadi sesak. Sudah lama, semenjak pengumuman kelulusan sekolah. Aku memilih untuk tetap di dalam rumah, tidak akan keluar jauh. Kecuali butuh. Tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Aku sibuk dengan dunia ku. Belajar menulis yang kadang tidak konsisten. Masih ragu-ragu menentukan arah hidup. Tapi aku bukanlah orang yang menyia-nyiakan waktu. Aku belajar menulis, walaupun salah dan gagal berkali-kali.
Aku memanggilnya Si Gula Aren, karena tidak tau namanya. Seingat ku waktu di tahun pertama, dia pernah masuk sendirian ke kelas kami. Beberapa temannya menunggu di pintu kelas. Hari itu, aku bisa melihatnya lebih dekat dan menjadi pertemuan kedua kami. Dengan postur tubuh tegap ditambah langkah kaki yang mantap. Aku merasakan bahwa dia percaya diri dan terlihat berwibawa. Tiba di meja ku. Ya, lagi-lagi pada situasi seperti ini, entah kemana si Feren. Kami sempat beradu pandang sebentar. Matanya. Seketika aku teringat seseorang.
Aku duduk di sebelah kiri, sementara dia berdiri di sebelah kanan. Tubuhnya condong ke arah ku, kedua tangannya bertumpu di sisi meja. Saat melihat ruangan kelas, hal itu sama persis dilakukan guru olahraga kami. Sekarang dia guru kami sudah punya anak dua.
Kak Irvan, dia menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke kelas kami. Menawarkan ekstrakurikuler Rohis, sekaligus mendata para junior yang ingin bergabung dan menjadi anggota. Suara dan kata-katanya begitu lembut membuat ku teringat kembali dengan kak Dhery. Setelah semua selesai, dia kembali melihat ku dengan tatapan yang sama. Waktu itu, aku bingung. Selain ketua rohis, dia juga anggota eskul Pramuka. Beberapa teman di kelas ku mengenalnya. Mereka yang mengenalnya berbondong-bondong mendaftar, terlihat bersemangat dan antusias. Lebih banyak dari gerombolan perempuan. Aku belum tertarik mengikuti eskul itu.
Awal pertama mengenal dia, di mata ku dia adalah sosok laki-laki yang berbeda dari yang lain. Lebih dewasa, tidak seperti kak Naufal yang awal kenal saja sudah jahil dan tengil. Kehadiran mereka berdua membuatku melupakan kak Dhery sejenak. Aku merasa mereka menarik. Sampai suatu hari, ketertarikan itu berubah menjadi sebuah malapetaka. Gara-gara kak Irvan. Andai saja, jika aku bisa kembali. Aku akan menceritakan semuanya.
Aku memiliki dua teman akrab. Nur dan Arni. Ternyata dua-duanya bercerita tentang pandangan mereka. Tertuju ke sebuah nama. Pada bulan Agustus minggu lalu, masih sempat menonton pawai bersama. Bahkan masih sempat bercanda tawa di kamar ku. Sesi curhat-curhatan. Aku membiarkan mereka. Sebuah pesan muncul, aku tidak boleh terlibat.
Ingatan ku tidak sekuat dulu, aku lupa jaraknya berapa lama. Namun hari ini, mereka malah berkelahi satu sama lain. Kami sudah kelas 11. Aku masih ingat bagaimana pertengkaran itu terjadi. Pagi yang cerah dan tenang, aku sedang duduk di kelas. Aku minjamnya dari Tatiana. Sedang asyik-asyiknya membaca buku, ada suara langkah kaki menemui ku. Nafasnya terdengar ingin mengejar target dan siap memangsa siapa saja. Aku melihat wajah Nur. Perasaan marah, kesal dan kecewa campur aduk jadi satu. Arni, setengah berlari menghampiri Nur. Wajahnya terlihat panik dan berusaha membujuk Nur. "Aku minta maaf Nur, aku hanya kagum padanya. Hanya itu," jelas Arni. Namun, dia memilih untuk menghindari Arni. Tidak mau mendengar atau melihatnya, dia pergi meninggalkan kelas kami. Hey, apa yang sebenarnya terjadi. Siapa yang Arni maksud. Kak Irvan? Nama itu seketika muncul di otak ku. Mata ku membesar. Wah, gawat. Aku ikutan panik. Tapi aku tidak mau ikut campur dengan masalah ini. Jadi aku memilih untuk duduk sejenak dan berusaha melanjutkan bacaan. Sampai akhirnya, Nima datang menemui ku. "Mereka kayaknya lagi berantem, ayo kesana," tegas Nima sambil menyeret tangan ku. Aku menolak, setelah dipaksa aku baru menurutinya. Kami berjalan menuju lapangan upacara. Setelah berhasil menyusul. Tangis Nur pecah dan Nima berinisiatif untuk mengajaknya menjauh. Sementara Arni berusaha mendekati Nur. Terjadilah kejar-kejaran kecil. Pertengkaran itu meluas menjadi dua lawan satu. Aku sempat marah dan kesal, lalu terucap. "Kita udah temenan lama, masa cuma gara-gara si biang kerok ini kita berantem. Banyak laki-laki di dunia ini. Bukan hanya dia doang."
Mereka bertiga langsung menoleh dan langsung menatap ku, seolah tidak percaya ucapan itu keluar dari mulut ku. Kami diam beberapa detik sampai akhirnya Nima berbicara. "Kamu dan Shania disini, jangan dekat-dekat dulu. Nur butuh ketenangan," jelasnya. Aku masih bingung menghadapi situasinya dan juga merasa bersalah. Kami mengalah, aku melihat Arni sedikit tenang, lalu mengajak ku duduk di sebuah bangku yang kebetulan berada tepat di depan kelas ku dulu. Gadis gingsul itu sangat berantakan. Aku bertanya pelan. Apa yang sebenarnya terjadi. Dia gelisah, serba salah.