Kamu pasti ingat cerita ku tentang sebuah komunitas yang tidak terkenal dan sering dianggap sebelah mata. Aku resmi menjadi anggotanya sejak kejadian mandi lumpur itu. Seminggu lagi aku mempersiapkan diri menjadi panitia. Setiap tahun pendaftarnya begitu banyak, namun yang bertahan cuma segelintir orang. Kamu juga ingat kakak yang menyembunyikan sebelah sandal ku. Meskipun aku mengetahui bahwa memang dia pelakunya. Aku tidak pernah membahas ceritanya, setelah Masa Orientasi Siswa itu berakhir dan sampai suatu ketika. Tanpa sengaja aku kembali membuka cerita itu di buku ini. Sejujurnya dia baik, sangat baik malah. Sampai aku lupa bahwa dia pernah sejahil itu.
Hari yang telah disepakati pun telah tiba. Saat ini aku kelas 11 IPA 2. Sekelas dengan Nur dan akhirnya memutuskan untuk menjadi teman sebangku. Aku mulai beradaptasi dengan beberapa teman dari kelas beda kelas. Juga posisi duduk ku.
Aku bersiap dengan memakai baju yang sudah dibagikan bapak wakil kepala sekolah kami. Baju itu menandakan bahwa aku bisa menjadi panitia untuk rekruitmen tahun ini. Setiap anggota diwajibkan memakai baju itu dipadu dengan celana olahraga. Aku berkeliling sebentar. Mencari kak Naufal dan Ira. Aku berhenti tepat di depan pohon Beringin. Aku melihat kak Irvan dan Naufal duduk disana. Membuat aku bertanya-tanya. Kenapa dia ada disana? Aku menghampirinya, ya aku kenal dia. Aku tau dia. Pertama, karena beberapa kali dia ada di kelas ku. Kedua dari kisah Nur dan Arni. Dulu aku memang tidak tahu namanya dia. Aku masih ingat cara dia berjalan masuk ke kelas kami. Berdiri tepat di depan meja ku, dengan tatapan anehnya. Iya, dia memang pendiam, tapi menurut ku. Caranya membuat aku cukup merinding. Termasuk hari ini. Kenapa dia tiba-tiba menjadi panitia komunitas. Nima datang, langkah kakinya terdengar semakin jelas. Aku terkejut dia langsung menghampiri kak Irvan dan bertanya dengan nada frontal. Tidak terima. Seperti bisa membaca isi pikiran ku.
"Kak Irvan kapan nih masuk komunitas, aku ngga pernah lihat kakak?" Aku terkejut, orang yang didepan Nima juga terkejut namun dia bisa mengontrolnya. Terlihat tenang, namun teman ku ini. Dia terus-menerus mendesaknya. Hingga jawaban itu terdengar, "Kakak memang anggota, tapi ngga aktif," kilahnya. Tentu saja, dia puas apalagi percaya begitu saja. Aku tau dia, sabarnya terbatas. Kak Irvan mulai kesal, marah dan juga sedikit malu (sepertinya) Untung saja kegiatan briefing sudah dimulai. Kak Naufal memanggilnya, panggilan kedua membuat Nima berhenti mengintimidasi kakak kelasnya. Terbalik ya.
Sebelum kami pergi, ada beberapa pesan yang disampaikan oleh bapak pembina. Ketika aku melihat wajahnya, aku setengah mati menahan ekspresi wajah ku. Teringat jelas kejadian beberapa minggu yang lalu. Beliau masuk kelas dengan percaya diri. Aku baru pertama kali melihat wajahnya. Jujur, bapak yang berdiri di hadapan kami adalah sosok yang keluar dari sebuah karakter fisik idaman. Beliau tinggi, badannya berisi dan berkulit putih. Gayanya parlente dengan wajah rupawan. Beliau memperkenalkan diri, sebagai guru bahasa Inggris yang baru. Pembawaannya tenang, ramah dan mengingatkan ku dengan sosok pak Irawansyah. Tapi aku lupa namanya. Anehnya, ketika memberikan informasi kelas. Kami menjawab IPA 2. Guru di depan kami ini langsung membeku, terdiam sejenak. Namun satu kata yang masih aku ingat sampai sekarang. "Kelas berapa pun, wali kelasnya siapapun sama saja kan?" Guru itu melanjutkan ucapannya. Selang beberapa menit, ada seorang staf TU tergopoh-gopoh, kerudungnya sedikit berkibar. Aku langsung melihatnya memasuki kelas kami. Mengetuk pintu, kemudian bergegas menemui si guru yang sudah duduk di bangku guru dan sibuk membolak-balikkan halaman buku. Matanya fokus mencari daftar nama siswa.
Ternyata beliau salah memasuki kelas. Staf TU itu menyebutkan kelas yang seharusnya dimasukin guru tampan ini. Kami menyebutnya kelas elit, isinya murid-murid yang memilih mata pelajaran peminatan bahasa Inggris. Kelasnya Edmund. Bapak yang berdiri di hadapan kami segera meminta maaf, menyadari kekeliruannya dan pamit. Aku melihat langkah beliau sampai ke depan pintu kelas. Aku mau beliau jadi wali kelas kami. Tapi ya, mau bagaimana lagi.
Aku masih menyimak setiap perkataan dan wejangannya. Nama bapak ini siapa ya? Wajah ku sampai memberikan pertanda, bapak itu menoleh sebentar. Aku teringat, namanya pak Wiranto. Ekspresi wajah ku kembali melunak. Aku melihat kak Naufal membawa sebuah tas berukuran sedang dan memberikan kepada kak Irvan.
Jumlah anggota tetap kami sangat sedikit. Sambil bersiap pergi menuju lokasi, aku memikirkan jawaban yang paling logis. Mungkin itu alasannya kak Naufal mengajak kak Irvan untuk bergabung. Aku menunggu adik kelas yang sebelumnya sudah kenal. Dia bersedia membonceng ku.
Tiba di lokasi, kami di briefing lagi. Acaranya tidak selama dulu, tidak ada istilah senior-junior disini. Sejujurnya, ketika aku mengenal lebih dekat kak Naufal. Pandangan ku berubah. Kagum iya, tapi naksir? Sepertinya tidak. Pembagian pos-pos sudah ada, aku disatukan dengan kak Irvan. Beberapa menit kemudian ada teman dari anak IPS. Tapi dia laki-laki. Aku merenggut, dia tidak lama. Nima ikut kemana kak Naufal pergi. Kak Ira sibuk buat persiapan untuk konsumsi kami. Aku salut dengan ketua dan wakilnya. Acara kami bisa berjalan karena kegigihan mereka juga. Jarak antar peserta ke pos kami lumayan lama. Aku melihat ke depan, melamun. Tiba-tiba ada seorang adik kelas, laki-laki. Datang menghampiri ku, dia membawa setangkai bunga Mawar. Entah darimana. "Mau ga kakak jadi pacar aku?" Mendengar perkataannya, aku kaget. "Siapa yang suruh begitu?" tanya ku sinis. Aku sejujurnya tidak nyaman.
Aku melihat kanan kiri, masa aku ditinggal sendirian. Adik kelas ku mulai memperkenalkan diri dan nama kelompok. Aku mendengar langkah kaki yang berusaha disamarkan, terkesan dipaksakan pelan. Kak Irvan ternyata dibelakang ku, dia membawa sebuah kamera. Aku tidak terlalu fokus kepadanya yang duduk agak jauh disebelah kiri ku. Aku masih ingat permintaan ku untuk membuat adik kelas ku ini bisa pindah pos. Membuatkan ku sebuah puisi, tapi malah dikasih pantun. Aku merajuk, tapi akhirnya dia memohon untuk memberikannya kelonggaran. Tapi aku tetap mau puisi itu (dia ganteng sih, makanya jiwa jahil ku keluar) Namun akhirnya aku meloloskan dan mengijinkan untuk pindah pos. Walaupun puisinya satu baris. Adik kelas ku menyerahkan bunga Mawar yang tangkainya patah. Dalam hati, aku senang sekali. Cuma aku kesal sama kak Irvan, bisa-bisanya dia membuat ku kembali merajuk. Dia meremehkan puisi itu, aku tidak merespon perkataannya. Akhirnya dia kembali duduk di bawah pohon besar, tak jauh dari ku.