Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #32

Memori 31 : Hadiah, Memori Terbaik? Mungkin

Suatu saat hal-hal yang kamu lakukan hari ini membekas di relung hati orang lain.

Dua minggu lagi Nur berulang tahun. Aku dan Arni sibuk memi.kirkan hadiah apa yang akan diberikan kepadanya. Arni adalah salah satu teman terbaik sepanjang kenangan ku semasa SMA. Teman yang paling tulus dan baik. Hanya saja mulutnya agak pedas kalau berbicara. Ya, Nur juga baik. Kami masih mengikuti kegiatan sekolah dan juga beberapa eksul. Berhubungan baik dengan kakak kelas. Kecuali Galih, ya karena tidak ada kepentingan bertemu dia.

Aku ingat sekali, Arni pernah melihat baju yang dipakai kak Irvan. Sehari kemudian, dia mengajak ku ke pasar. Aku tau hari itu hadiahnya. Cuma beda warna aja. Waktu itu baju dengan potongan bulatan di siku lumayan terkenal. Ketika membeli baju itu, aku melihat kebahagiaan di wajahnya.

Sebelum ujian semester, aku meminta Arni mengantar ke rumah kak Irvan. Entah mendapat informasi darimana, kami bisa ke rumah crushnya Nur. Jalan ke rumah kak Irvan cukup menakutkan, tapi Arni dengan tenang menyalip diantara mobil-mobil truk yang lalu lalang keluar masuk. Awalnya kami sempat nyasar, tapi akhirnya ketemu juga rumah yang kami tuju. Di dalam rumah itu, percakapan absrud terjadi. Arni juga cerita kalau membelikan sebuah baju yang terinspirasi dari kak Irvan. Singkat cerita, permintaan ku disetujui. Aku ingat alurnya. Selesai sholat Dhuha, waktu istirahat pertama. Setelah itu, kak Irvan mengucapkan selamat ulang tahun kepada Nur. Sederhana, namun ternyata hal itu bisa membuat keduanya menjadi salah tingkah. Tapi untungnya berhasil dan Nur sangat-sangat senang dengan hadiah yang kami berikan. Aku tentu saja senang. Seingat ku kami masih berada di halaman Musholah itu sebentar. Berbincang-bincang sebentar, tujuan ku disana hanya mencairkan suasana dan mengucapkan terima kasih untuk kesekian kalinya.

Di tahun ke dua SMA, aku masih sering menatap pohon yang pernah ditunjukkan kak Dhery kepada ku. Sesekali merenung dan kadang juga bingung. Batin ku terkadang memberi petunjuk, namun selalu aku abaikan. Aku tau sesuatu, walaupun hanya melihat dari mata dan tanpa kata. Rasa marah, kesal, senang, sedih dan emosi lainnya perlahan membantu ku dan berusaha memahami apa yang sedang aku lalui. Entah pilihan ini benar atau tidak. Aku harap tidak menyakiti siapapun. Tarikan nafas ku terdengar, melonggarkan dada yang terasa sedikit sesak.

Sejak menjadi anggota Rohis, kami semakin aktif. Ada saja ide mereka berdua. Lebih sering menyapu dan mengepel lantai. Pernah suatu ketika, Arni meminjam penyedot debu untuk membersihkan karpet-karpet di tempat ibadah kami. Aku ingat mesinnya lumayan besar, agak berat. Arni dan Nur tergopoh-gopoh membawanya. Aku tidak ikut mereka ke tempat penyimpanannya. Mereka tau kalau aku sering sesak nafas. Setelah mesinnya datang, kabel-kabel yang menggulung dibentangkan. Setelah dinyalakan, ternyata mesin itu rusak. Nah, bingung lah kami bertiga. Kalau mengingat kembali kejadian itu, aku tersenyum.

Aku juga sudah lupa kegiatan di komunitas. Nima jarang bergabung, kecuali ada kegiatan dan rapat.

Ada satu kejadian yang sampai saat ini masih teringat dan kalau mengingat hal itu, aku jadi malu sendiri. Masih ingat dengan sosok kakak kelas yang sombong dan cuek itu. Aku sebenarnya kagum, ya ada rasa penasaran. Nur dan Arni tentu saja mengetahui ini. Tapi aku tau diri. Sebenarnya kalau dibandingkan secara akademik, kalah jauh. Waktu sekolah, aku biasa-biasa saja. Bukan tipe murid yang ambisius. Sangking kagum sama dia, adik ku nama tengahnya pakai nama dia.

Dulu, cowok cuek itu membuat ku penasaran. Sampai suatu ketika, saat membereskan mukena-mukena didalam Musholah. Kami berkeliling sebentar. Nur menunjukkan sebuah sajadah yang ssering dipakai kak Sandi untuk Sholat Dhuha. Awalnya aku ragu dan akhirnya dengan kebiasaan dia, mengajak ku bertaruh. Aku memillih percaya dulu. Bahkan dia mengetahui jadwal beliau ke tempat ibadah. Kalau dipikirkan sekarang, rasa-rasanya agak aneh. Sebenarnya yang suka dengan dia siapa sih? Tiba- tiba ada beberapa botol minyak wangi dekat mimbar, seingat ku ya. Entah apa yang merasuki Nur, dia langsung mengambil botol minyak wangi dan menggosokkan ke sajadah. Aku yang melihat tingkahnya langsung refleks mengikuti, disusul Arni. Jadinya ada tiga jenis minyak wangi. Aku sekarang kepikiran, entah bagaimana baunya. Bakal pusing ga ya kak Sandi. Mana pas banget posisisnya, kalau sujud langsung menusuk hidung wanginya. Aku jamin deh. Setelah semua selesai, kami berdua keluar. Melihat hasilnya dari kejauhan dan benar apa yang dikatakan Nur, 100% akurat.

Lihat selengkapnya