Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #33

Memori 32 : Patah Hati Pertama Kali

Semenjak adegan tatap-tatapan itu. Aku mendapatkan sebuah pesan dari aplikasi chatting, BlackBerry Messenger (BBM). Aku tidak terlalu curiga, karena pernah meminta promote pin BBM ke teman senangkatan jurusan IPS. Mungkin dia punya kenalan dari SMA lain. Awalnya aku mengira dia cowok, ternyata cewek. Percakapan seperti biasanya. Namun seingat ku, aku pernah bercerita dan meminta pendapat tentang hal yang aku alami. Bercerita kalau salah satu dari teman ku, suka dengan kak Irvan. Ya ngga semua, intinya pandangan dia bagaimana. Dulu cerita-cerita ke dia ngga mungkin bakal tersebar dan diketahui teman-teman di sekolah ku. Jadi, aku merasa aman. Aku tidak pernah bercerita terlalu banyak tentang kak Febry kepada dua teman ku. Semua tampak normal, sampai akhhirnya aku bilang ingin bertemu dengan kakak kelas perempuan yang pernah mendengar cerita dan curahan hati ku. Pertanyaan ini sudah ku pikirkan beberapa kali. Nur dan Arni sama sekali tidak curiga, entah apa yang mereka bahas. Mereka terlihat serius sekali sampai mengabaikan aku. Bahu ku naik turun dengan ritme sedikit lebih cepat, jantungku berdetak tak karun. Kalau dipikir-pikir, mana mungkin dia datang ke sekolah. Tidak ada kunjungan atau apapun acara yang mengundang sekolah lain. Aku merasa aman dalam beberapa menit dan mulai menyesal dengan tindakan konyol yang baru saja aku lakukan barusan. HP ku berdering,sebuah pesan masuk dari kak Febry. Aku mematung sebentar, membaca lagi teks jawaban yang dia kirimkan. Hah, kakak itu disini. Main basket? Aku tidak curiga tenang main basket itu, karena dia memang cewek tomboi. Tapi, kalau main basket disini? Tidak mungin, aku mulai curiga. Ada yang tidak beres, aku berdiri dan suara kursi membuat mereka serentak menolehh ke arah ku.

"Eh, kamu mau kemana Shan?" cegah Arni di depan pintu kelas. Aku dengan tegas menyuruhnya tetap di dalam kelas. Setengah berlari, aku menuju lapangan olahraga yang biasa digunakan utuk bermain basket. Mataku mencari sosok perempuan tomboi itu. Beberapa kali aku menyapu pandangan mata ini ke seluruh lapangan. Semuanya laki-laki, hampir seluruhnya kakak kelas dari jursan IPA. Ada kak Tian disana, wajar saja karena dia memang atlet basket. Benar-benar ada yang tidak beres.

Aku kembali mengirim pesan lagi di aplikasi chatting dan membuat ku cukup lama menunggu. Jawaban itu memberikan intruksi bahwa aku melihat ke arah kanan. Oh iya, sejak datang ke lapangan ini. Aku hanya fokus memperhatikan orang-orang yang berada di lapangan. Betapa kagetnya aku, ada kak Irvan disana. Kami saling bertatapan cukup lama. Jarak kami cukup jauh, namun aku bisa melihat tangan yang awalnya di dalam kantong celana, kini berpindah dan menyentuh rambut lalu menunduk sebentar. Makin mirip tingkahnya dengan kak Dhery. Kami masih bertatapan sebentar. Suara Nima memanggil dan menepuk bahu ku, membuat ku refleks menoleh ke arahnya. Fokusku teralihkan.

"Kamu dipanggil Aci sama Arni. Ayo ke kelas sekarang!" desak Nima. Sumpah! Aku hari ini sangat-sangat kebingungan.

Aku melihat mereka berkumpul, anak-anak eskul Pramuka membuat ku bertanya dalam hati. Apa yang aku buat sampai mereka datang berkelompok ke meja ku. Aku duduk di kursi dekat tembok, belum sepenuhnya selesai mencerna apa yang terjadi. Aci duduk disampingku. Dari sikap tubuh, ekspresi wajah yang terlihat sedikit behati-hati dan nada bicara yang terdengar diatur supaya tenang. Tubuhnya condong ke arah ku, lalu bertanya, "Kamu kenal sama kak Febry." Aku terdiam sejenak dan mengangguk pelan. Aci kemudian menarik tubuhnya sebentar. Lalu dia melanjutkan perkataannya, "Kak Febry itu temannya kak Irvan dari SMA lain." Aku merasa disidang dan tatapan mata Arni seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Setelah Aci berkata seperti itu, dia pergi. Arni langsung duduk di depan ku, mengintrogasi.

"Untung, saja Nur tidak ada disini. Apa yang bakal terjadi kalau dia tau," kata Arni dengan cemas.

"Aku bisa jelasin ini setelah pulang sekolah, aku janji."

"Iya, jangan sampai Nur tau cerita ini," Arni, pergi meninggalkan ku. Sendirian. Urusan ini, kenapa diluar prediksi ku. Selama bercerita, kak Febry tidak pernah bilang apapun kepada ku.

Sisa hari ini terasa sangat menguras energi bagi ku. Bahkan mengalihkan fokus ku. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Apapun yang terjadi, si juara kelas yang ada di samping ku selalu rajin mengikuti semua mata pelajaran di sekolah dengan baik dan fokus. Termasuk kelas Kimia yang membosankan bagi ku. Nur selalu berusaha mempertahankan gelar juara, bahkan sebelum kami bertemu ketika masih SMP. Di tahun kedua, aku berada di belakang Tatiana dan Parawangsa, teman akrab Nur dulu. Ruangan disini terasa teduh dan kalimat itu membuat ku semakin merasa bersalah.

"Setiap masuk kelas, aku ingat kalau kak Irvan pernah beranda disini, kamu juga bakal ingat itu kan?"

Sebelum jam sekolah berakhir, aku sempat bertemu dengan Nima ketika pergi ke toilet. Kami berbicara sebentar, dia memberikan satu solusi. Apapun kenyataannya, aku harus membuat Nur merasa aman. Berusaha membuat semua cowok ilfeel kepada ku tidak akan menyakiti siapapun bukan? Kali ini aku berterima kasih kepadanya. Sungguh. Cara itu, hingga hari ini masih aku terapkan. Sesekali.

Pulang sekolah, aku menempati janji kepada Arni. Nur pulang dengan motornya tanpa curiga sama sekali. Tapi aku bisa merasakan bahwa dia mengetahuinya. Aku dan Arni sudah mengajaknya d tempat biasanya. Pendalaman materi dan juga PR lebih menarik perhatian Nur.

Lihat selengkapnya