Setiap kata pasti ada cerita
Banyak yang bilang, masa-masa putih abu adalah sebuah masa yang paling meyenangkan untuk dikenang. Mungkin ya, mungkin tidak. Bagi sebagian orang merasa bahwa masa-masa di SMA adalah yang paling indah. Tapi bagiku, entahlah.
Kamu pasti mengetahui dari awal aku ragu-ragu, takut dan bingung dengan keputusan yang aku ambil sekarang. Entah benar atau tidak. Ternyata dunia yang aku pandang selama ini dengan warna hitam putih. Nyatanya aku lupa, dunia bisa saja berwarna abu-abu atau bahkan lebih indah lagi. Terdiri dari berbagai warna.
Setiap manusia pasti punya ambisi dan tujuan hidup. Tapi aku bahkan tidak memiliki keduanya. Tujuan awal ku menulis kisah ini, karena ingin membuang memori yang membuat ku semakin lama menyimpannya, justru terasa tersiksa.
Aku masih ingat menulis menjadi satu-satunya cara untuk menjadi lebih semangat, ketika masih sekolah dan sampai sekarang adalah novel ini. Merasakan sensasi menciptakan cerita. Bagaimana kepala ku pusing dalam mencari judul, nama-nama tokoh dalam cerita dan mengingat-ingat lagi beberapa kejadian, hingga menguras semua yang ada dalam hidup ku.
Awal judul cerita ini adalah Viva La Vida SMADA. Judul ini memiliki arti Jalan Kehidupan SMADA. Aku juga menambahkan tulisan kecil dibawahnya. Dalam bahasa Indonesia artinya tahun-tahun pertama ku. Semua berubah ketika bertemu dengan teman penulis ku. Judul yang dia berikan cukup sederhana. Tanpa membuat lidah kesulitan mengucapkannya. Jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi jika ada yang bertanya.
Masih ingat dengan kak Sandi? Dibalik wajah yang kurang ramah, sikap dingin dan cueknya itu. Aku baru tau kalau dia punya suara merdu, karena dia dan bandnya tambil di acara sekolah. Sejujurnya, aku sangat menyukai penampilan dia bersama bandnya. Bahkan, siapapun yang melihat reaksiku. Pasti bisa menyimpulkan dengan tepat.
Itu adalah momen yang menjadi bagian dari kenangan manis. Lagu yang dia nyanyikan, menemaniku menulis tentangnya. Aku tidak ingin terlalu banyak mendeskripsikan tentangnya di dalam novel ini, dia pasti tidak menyukainnya.
Semenjak kejadian yang membuat Nur patah hati, aku dan Arni kompak membenci cowok yang tidak ingin kami sebutkan namanya. Aku pernah memergoki dia kebingungan dengan sikap kami. Nur juga seperti mulai tertarik kepada kak Sandi. Walaupun dia selalu menutupi. Aku mengetahui itu dan tidak mempersalahkannya. Lagipula, selama teman baik ku bahagia. Kenapa aku membencinya?
Untuk sementara waktu, semuanya terasa aman dan nyaman. Tidak ada drama-drama yang menurutku sama sekali tidak berguna. Aku merasa tenang dan semoga selamanya. Belum puas aku menikmatinya. Ada lagi kejadian yang membuat ku kembali menebak-nebak. Ujian sekolah mata pelajaran kesenian. Kak Irvan dan rombongan bandnya datang ke panggung kecil yang ada di parkiran. Tempat kami sering bertemu akhir-akhir ini.
Pertama kali aku mendengarkan dia bernyanyi dan sangat mengejutkan. Lagu yang pernah aku dengar beberapa waktu lalu, dia bawakan dipertama kali kami melihatnya bernyanyi. Aku awalnya merasa bingung dan heran. Ekspresi yang aku tampilkan membuat sang vokalis merasa tak nyaman. Dengan cepat aku mengubahnya. Sebenarnya dalam versi siapapun, aku tetap menyukainya. Semua punya ciri khas masing-masing.
Sementara itu, penampilan kak Sandi aku rasa biasa saja. Arni sedikit lebih heboh karena ada, ya kamu taulah siapa dia. Aku mendengar lagu itu, mencerna maknanya.