Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #36

Memori 35 : Perpisahan Kakak Kelas

Walaupun beribu kali aku berusaha untuk tidak lagi kembali. Tapi aku harus tetap kembali. Bukan untuk menyesali, tapi menyudahi yang sejak awal harusnya sudah selesai di hati. Walaupun aku tertatih menuliskan kembali halaman baru dengan pena warna-warni.

Waktu terlalu cepat berlalu, Aku rasa begitu. Di tahun ini aku senang sekaligus sedih. Kakak kelas sudah mulai fokus ke Ujian Nasional. Aku ingat saat itu, sepulang sekolah. Kami bertiga berjalan pelan dari lapangan upacara menuju ke tempat salah satu teman kami yang berasal dari kelas IPS, perempuan jangkung itu duduk berdua dengan teman dekatnya. Aku tau karena mereka selalu bersama setiap kami bertemu. Dua menit saling berbincang-bincang. Ada kak Irvan yang duduk tidak jauh dari kami, bersebelahan. Sindy, yang berada di sebelah ku sedang memainkan sebuah kacamata. Benda itu seketika berpindah tempat ke tangan ku. Dengan rasa percaya diri yang tinggi. Aku memilih mengikuti kata otak untuk memakai kacamata itu. Lalu, menyentuh tangan Sindy agar memperhatikan tingkah ku. Responnya cepat karena dia fokus dan tampaknya serius berbicara dengan Nur, Arni juga begitu. Akhirnya aku menoleh ke arah kak Irvan duduk, tangan kanan ku melambai ke arahnya. Tangan kiri ku sibuk memegang bagian tengah kacamata itu agar tidak jatuh. Kak Irvan malah menoleh ke arah lain sambil tersenyum kecil. Sehebat apapun dia menyembunyikan, aku tau dia mengejek. Sejak hari itu, aku benci pakai kacamata.

Aku lupa hari apa, tapi kami memakai baju olahraga. Hari itu sekolah sudah mulai sepi. Kami bertiga belum pulang.

"Kalian mau tau ga mereka pas ujian duduk dimana?"

Aku dan Arni saling tatap.

"Ayo ikut aku, " perintahnya.

Kami saling bejalan berdampingan. Menuju kelas-kelas yang menjadi tempat ujian. Dengan cepat dan tepat, Nur langsung mengetahui dimana tempat duduk kak Irvan, disusul kak Galih dan kak Sandi. Kami berselfie di bangku panjang yang berada tepat berada di depan ruang ujian kak Irvan.

Setelah itu, tidak. Kami belum pulang. Masih duduk di halaman dalam Musholah. Berbincang sejenak lalu berjalan menuju parkiran sekolah. Arni yang selalu mengantar ku ke rumah. Padahal, jarak rumah Arni dan Nur. Lebih jauh rumah Arni.

Beberapa bulan lagi, mereka akan "diusir paksa" dari sekolah. Ada sebuah perasaan yang menyesakkan dada, tapi apa?

Waktu itu di sekolah, entah ada acara apa. Tapi semuanya memakai pakaian baju kurung melayu khas Bangka Belitung. Ada di satu momen ketika kami bertemu dengan kak Galih di tempat yang sama. Wah, ini kesempatan untuk Arni.

Nur memanggil kak Galih, mengajak berfoto bersama. Aku juga mulai menggoda Arni, dia cemberut. Aku membaca gerakan kakak kelas ini, sepertinya dia terlihat sedikit gelisah, marah, kesal dan mau mnghindar namun tidak enak hati. Semua itu bercampur jadi satu. Ketika siap-siap foto bareng, Eh, si Arni kabur. Wajah kak Galih mengernyit. Sesi foto itu akhirnya jadi, walaupu harus diingatkan karena aku sempat melongo sebentar melihat tingkah Arni.

Lihat selengkapnya