Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #37

Memori 37 : Tahun Ke 3 VLVD

Viva La Vida SMADA, ini akan menjadi kenangan selamanya.

Jika waktu selalu kita pantau setiap detiknya. Maka, terasa lambat dan membosankan. Tanpa terasa, sekitar enam bulan lagi, kami akan meninggalkan tempat ini secara sukarela. Aku mengela nafas, dada rasanya sesak sekali. Dulu, aku berharap waktu berjalan dengan cepat. Namun sekarang, aku sangat ingin waktu berjalan lambat. Semakin dekat dengan perpisahan. Setiap memori yang tercipta menjadi lebih lebih berharga dari beberapa tahun belakangan.

Kami mulai serius dengan hal yang disebut masa depan. Beberapa diantara kami saling berdiskusi tentang apapun itu. Termasuk kampus tujuan dan jurusan yang ingin kami inginkan. Ada yang ingin menjadi seorang dokter, perawat, bidan, ahli komputer, insyiur pertanian, ada juga yang ingin menjadi seorang guru. Berbagai program dari kampus meramaikan dinding mading sekolah. Juga berbagai test jalur masuk ke kampus dengan benefit potongan biaya.

Hari-hari itu menjadi hari yang paling sibuk, juga banyaknya jadwal belajar. Semua sibuk seperti tahun pertama kami berada di tempat ini.

Terasa sangat berat rasanya.

Aku masih berteman dengan Arni dan Nur. Hanya saja tidak lagi sering bertiga seperti dulu. Karena pilihan kami dalam ujian mata pelajaran peminatan yang berbeda. Terakhir kaliaku mengajak Arni bolos pelajaran tambahan demi melihat eksperimen di labolatrium biologi. Saat itu kami sama-sama bosan belajar.

Senin itu, aku dan Tatiana duduk di dalam kelas, Memperhatikan adik kelas upacara, sementara kami akan mengikuti ujian. Waktu berjalan begitu cepat, mau tak mau kami digantikan dengan generasi berikutnya. Dinding-dinding di semua bangunan ini menjadi saksi bisu yang siap menyimpan memori berikutnya.

Ujian terakhir yang menjadi penentu dan bukti bahwa kami telah menyelesikan perjalanan selama 3 tahun menjadi siswa SMA.

Semua fase kehidupan belajar menjadi seorang manusia dewasa kini hampr selesai. Apakah semuanya baik-baik saja dan aman. Aku melangkahkan kaki ke depan pintu. Melewati beberapa kelompok twman ku yang sibuk membandingkan dan juga berdebat tak mau kalah satu sama lain.

"Shan, nanti kamu mau kuliah dimana, jurusan apa?" Tanya salah satu teman kelas.

Aku tersenyum lalu berkata kepada mereka, aku ingin menikah saja. Mendengar jawaban ku, mereka tercengang dan langsung menahan ku keluar.

"Bentar, kamu serius Shania? Menikah muda. Emang sudah ada calonnya?" Aku tidak pernah melihat pacar kamu itu," tanya salah satu teman.

"Tidak, aku mau jadi Psikolog atau Guru Bahasa Indonesia," jawab ku.

"Serius kamu mau jadi Psikolog, eh coba kamu pikir deh. Psikolog itu ga bakal laku. Apalagi di Indonesia. Terus karir Psikolog itu panjang. Mana tau kamu bakal nikah setelah beberapa tahun nanti. Mending pikir-pikir lagi deh,"

Aku menarik nafas panjang mengangguk sebentar. Apapun jawaban ku tetap saja salah dimatanya. Setelah mendengar dia mengoceh selama kurang lebih lima menit. Aku memutuskan untuk keluar kelas dan berjaln sendirian mengelilingi sekolah ini.

Tiga tahun yang akan berakhir beberapa bulan lagi. Ujian itu akan kami hadapi dalam waktu dekat. Aku tidak tau pasti apa yang akan menunggu ku di luar pagar sekolah. Apakah dia akan datang menemui ku seperti yang selalu dia katakan. Tarikan nafas dari tubuh ku, terdengar begitu berat dan terasa sesak. Semua yang terjadi, beberapa diantaranya akan aku simpan sendiri dalam hati.

Ku rayu langkah kaki ini kembali ke kelas. Aku baru ingat hari ini ada acara. Hanya beberapa orang yang betah berada di dalam kelas. Aku tiba-tiba teringat dengan Nur dan Arni. Kemana mereka? Mata ku dengan cepat melihat ke dalam kelas melalui kaca jendela yang transparan. Aku memutuskan untuk mncarinya. Dari depan kelas kami, aku barlari dengan sangat kencang, deisela aku berlari, seperkian detik aku teringat bahwa ada tangga. Tapi aku malah menambah kecepatan adan berhasil melangkah dua anak tangga yang ada di kelas IPA 2, mendarat dengan cukup baik. Sampai Edmund, yang berada dinn kelas IPA 3 saat itu, mungkin tengah serius mempeelajar rumus Fisika. Agak terkejut, mendengar telapak kaki ku mendarat menuju lantai. Suarany cukup keras terrdengar. Apalagi setelah itu aku tertawa kencan, yng selama tiga tahun ini. Mereka hanya melihat mulut ku tak banyak bergerak dan kalau ada hal yang lucu, minim effort untuk sekedar membentuk senyuman. Aku pernah membuat sebuah puisi sebelum acara perpisahan angkatan kami. Namun, puisi itu hanya aku tulis dalam sebuah blog pribadi.

Detik Waktu dan Kenangan Berdebu di Gedung Putih Abu

Kenangan yang kau ciptakan,bukan tanpa alasan

Kau membuatku merindukan hari-hari yang membosankan di sekolah

Lihat selengkapnya