Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #30

Memori 29 : Mabit

Gadis gingsul itu menemui kami di kelas pada jam istirahat. Memberitahukan kepada ku dan Nur, akan diadakan acara Mabit. Kami bertiga menjadi panitia dan itu janggal menurutku.

Nur, yang awal mulanya ingin bergabung di eskul rohis. Aku tentu saja terkejut mendengar permintaanya. Sepengatahuan ku, waktu SMP dia ikut eskul saat kelas IX SMP. Sedangkan aku dari awal ikut dari kelas VII. Aku menatapnya tak percaya. Langsung menyimpulkan bahwa itu caranya dia mendekati crushnya. Arni senang, dia segera memberitahukan ke kak Irvan. Di hari Jum'at berikutnya kami bergabung. Perkumpulan itu dilaksanakan di Musholah sekolah. Aku dan Nur berjalan bersama menuju Musholah. Kami hanya duduk-duduk, mengobrol sebentar sambil menunggu beberapa orang yang belum datang. Nima dan kakak kelas menyusul. Arni tampaknya sibuk lalu lalang. Aku melihatnya dari kejauhan. Dulu kelas kami masih terlihat jelas dari Musholah. Ada dua teman seangkatan ku menemui Arni. Wajah mereka terlihat kesal. Ada apa? Kenapa? Aku tidak sabar menjejalkan pertanyaan-pertanyaan di kepala dan mendengar jawaban langsung dari Arni. Nur menyenggol ku, kami bertemu kak Sandi. Masih dengan wajah judes, cuek dan sok cool dia. Mata ku berakhir melihat kak Irvan, beliau benar-benar mirip kak Dhery. Bukan wajahnya, tapi rasa yang sulit aku jelaskan. Arni berjalan ke arah kami dan aku dengan sabar menunggu kesempatan. Namun sayang, rapat akan segera dimulai. Jadi dengan pasrah aku kembali menunggu rapat itu selesai. Aku dan Nur sesekali melirik satu sama lain. Semuanya normal dan biasa saja. Tapi ada satu hal membuat ku bertanya-tanya. Satu hal yang membuat ku mencegah Arni bangkit dari tempat duduknya. Aku bertanya tentang dua perempuan yang tadi berbicara dengan Arni. Ternyata mereka protes. Kok bisa? Ha? Ada apa ini? Aku harus mendapatkan jawabannya segera!

Menurut cerita Arni, mereka protes karena pernah jadi peserta Mabit, namun tidak ada pemberitahuan dan tiba-tiba. Ada dua anomali ini jadi panitia. Mendengar jawaban itu, aku sejujurnya tidak enak hati. Benar-benar merasa tidak nyaman sama sekali. Aku harus tanya ini sama ketua Rohis. Tentu saja, saat rapat selesai. Nur dan Arni berjalan menuju kelas. Aku langsung mencegah kak Irvan balik ke kelasnya. Jawab dia hari ini benar-benar tidak bisa menenangkan ku. Ada sesuatu yang ganjil. Pertanyaan itu aku tanyakan lagi waktu pelaksanaan Mabit, dengan empat mata. Kali ini aku dan dia sama-sama kesal. Aku kesal jawabannya sama dan dia kesal aku bertanya hal yang sama.

Selama kegiatan Mabit, aku hanya ingat beberapa kejadian. Mungkin ada yang tidak aku tulis dengan rinci, tapi secara singkat saja. Beberapa kejadian yang menurut ku berkesan saja.

Pertama, aku heran kenapa tempat tidur panitia yang bikin bingung. Awalnya panitia tidur di kelas XII IPA 1 lalu dipindahkan ke kelas XII IPA 2. Aku, Nur dan Arni saling menoleh satu sama lain. Anehnya, panitia perempuan dan laki-laki tidur di ruangan yang sama. Tiga kelas itu sudah diatur supaya meja di geser ke belakang. Menciptakan ruangan yang lumayan luas.

Ada beberapa panitia protes. Beberapa panitia lama berkumpul, kami disuruh keluar semua. Pintu ditutup, namun masih terlihat ada celah. Suasana terasa mencengkam dan sejujurnya aku sangat takut.

Kak Irvan, saat itu dimarahi sama teman perempuan seangkatannya dan dia cuma diam. Kami bertiga mengintip di celah pintu. Kakak perempuan merasa ada yang mengintip, lalu melihat ku. Mata kami saling beradu pandang. Sedetik kemudian dia kembali memarahi kak Irvan. Aku yang saat itu masih linglung. Perasaan ku campur aduk. Arni langsung berdehem dan mengulang kembali kata-kata yang dia dengar. Kurang lebih seperti ini, "Tuh, kakaknya marahin kak Irvan." Arni melanjutkan sambil menirukan cara kakak itu berbicara, "Kamu mikir deh. Jadinya kayak gini kan sekarang. Semua ini gara-gara kamu, mereka tidak tau apa-apa jadi ikut terlibat. Aku tidak mau ikut campur, terserah kalian,"

Beberapa detik Arni meniru dia berbicara, kakaknya keluar. Kami terkejut dan dia melihat ku sebentar, lalu pergi dengan wajah yang menahan amarah. Aku semakin takut, dan merasa tidak enak hati. Kak Irvan masih duduk terdiam disana. Suasana malam terasa menyeramkan, ditambah lagi semua panitia terdiam. Sementara itu, peserta Mabit belum sampai di kelas ini karena beberapa panitia melaksanakan kegiatan dan mengisi acara. Kami bertiga masih mematung di depan kelas. Akhirnya kak Irvan keluar dan aku khawatir saat itu. Apa gara-gara aku, dia dimarahi. Aku sampai bertanya, dan aku tanya kenapa, dia jawab nggak apa-apa. Bohong, aku tau dia berusaha terlihat baik-baik saja.

Lihat selengkapnya