Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #35

Memori 34 : Come On, Move On

Come On, Move On

Di dunia ini, ada seseorang yang akan datang tanpa permisi dan pergj tanpa pamit.

Apakah semua orang harus melewati fase masa putih abu? Terutama harus melewati hal-hal yang kurang nyaman dan menyenangkan. Kalau iya, sangat menyebalkan sekali.

Aku sedang melamun di teras depan kelas. Selang, beberapa menit kemudian. Ada beberapa teman ku berlarian kecil masuk ke dalam kelas.

"Ayo masuk kelas San," ajak Nima. Aku masuk ke dalam kelas, ternyata kami ada tugas membuat mading. Saat itu tema kelas kami tentang tulisan fiksi. Teman-teman ku mulai sibuk mempersiapkannya. Salah satu teman ku bertanya, apakah aku akan ikut mengisinya? Sebuah ide muncul di kepala ku. Ini saatnya aku mempraktikkan teori yang ada di buku.

Ada sebuah buku yang kebetulan selalu aku bawa kemana-mana. Buku itu aku beli di sebuah pameran buku. Pameran buku itu diadakan lumayan dekat jaraknya dari rumah ku. Nama gedungnya, gedung Hamidah yang sekarang berahli fungsi menjadi sebuah tempat makanana cepat saji. Buku teori yang menjelaskan bagaimana cara menjadi seorang penulis kreatif. Dulu berasa keren aja menenteng buku itu kemana-mana.

Pernah suatu ketika, saat itu aku meninggalkan buku milik ku diatas pagar Mushola yang ternuat dari kramik putih. Arni mengajak ku ke ruang guru, Ketika kami kembali ke sana. Ka Irvan melihatnya dan dia langsung mengambil buku dan membaca judul. Kemudian membalikkan halaman pertama buku ku. Ya, seperti biasa. Setiap aku membeli buku. Selalu ada sebuah tanggal, lengkap dengan bulan dan tahun dipojok kanan atas.

Kaki ku langsung bergerak, aku ingin mengambil buku itu dari tangan Kak Irvan, secepatnya. Langkah ku terhenti, Arni dengan cepat menyambar tangan ku.

"Tenang saja, buku kamu ga bakal dia bawa pergi. Percaya pada ku," jelas Arni. Seolah dia bisa membaca isi pikiran ku. Kami berdua berdiri, terdiam sejenak.

Setelah melihatnya, kaka Irvan tersenyum kecil. Benar saja, buku itu kembali ke tempat semula.

"Tuh kan, benar kata ku, dia cuma kepo saja. Ayo," Suara panggilan Arni membuyarkan lamunan ku. Kami berdua menuju Musholah.

Kenapa dia penasaran dan tadi, dia tersenyum.

****

"Dari dulu kamu memang suka melamun ya?" tanya Hendra. Pertanyaan dia membuat tubuh ku sedikit tersentak beberapa detik. Lalu menoleh ke arahnya. Kesal. Aku sedang serius mengetik. Aroma kopi yang menyebar menusuk hidung ku. Tapi kali ini aku belajar untuk mentolerir aromanya.

"Cobalah jangan mengganggu Shania yang lagi fokus menulis, Opi," cegah Cici, dia menggelengkan kepala melihat kelakuan Hendra yang selalu menganggu ku.

Entah sampai kapan kejahilannya hilang dari muka bumi ini. Tapi kalau dia tiba-tiba berubah menjai kalem dan sedikit cool. Itu bukan dia.

Aku kembali menatap layar laptop dan fokus menulis. Aku ingat saat itu menulis sebuah cerpen jenis flash fiction. Dengan pembukaan awal sebuah konflik tiga teman dekat. Membicarakan salah satu cowok yang tidak pernah menanggapi perasaan salah satu teman mereka. Semua nama didalamnya aku samarkan. Tujuan aku sebenarnya ingin memberitahukan kak Irvan tanpa berbicara langsung. Aku sangat yakin bahwa dia dengan cepat akan mengerti ini. Karena, dengan cara ini. Aku menyelamatkan banyak orang, termsuk diri ku sendiri. Walaupun aku sampai saat ini yang tidak selamat.

Awalnya, aku merasa bahwa hasil tulisan ku yang tidak jelas ini akan disingkirkan teman-teman ku. Ternyata tulisan ku ada di mading. Seperti dugaan ku sebelumnya, tulisan ku pasti bisa dibaca semua siswa. Aku tentu saja senang, ini pertama kalinya tulisan ku tepajang. Menyapa mata para pembaca. Hampir tidak ada yang tau kalau aku lah penulis cerita dengan kurang lebih seribu kata. Ya, tidak banyak yang tau jenis cerpen ini.

Lihat selengkapnya