Oktober, 1965
Aroma pagi turun dengan lembut, seperti seseorang yang mengetuk jendela dengan pelan agar tidak mengganggu siapa pun. Gerimis kecil merayap dari atap langit yang tak berujung itu, menebar suara halus yang menyatu dengan aroma tanah basah. Udara terasa teduh dan jernih, dunia baru saja bangun dari mimpi panjangnya dan memilih untuk tetap diam sejenak. Dari kejauhan, pepohonan bergoyang pelan, menggugurkan titik-titik air yang memantulkan cahaya pucat matahari yang kali ini lebih suka bersembunyi. Semuanya berlangsung dalam kesunyian yang hangat, membuat siapa saja yang menghirupnya merasa seakan waktu melambat hanya untuk memberi ruang bernapas lebih panjang. Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu muda sibuk memandikan tiga putra-putrinya secara bergantian. Rengekan si bungsu beradu dengan gemericik air yang jatuh dari genting: ia tidak mau mandi.
Wanita itu bergegas menghidupkan radio yang baru saja dibelikan oleh suaminya agar tantrum si bungsu agak berkurang. Si bungsu yang baru 2 tahun itu memang menyenangi radio. Ia bahkan mengoleksi puluhan radio di dalam kamarnya, dibariskan, dijejerkan dengan rapi layaknya prajurit yang sedang apel pagi. Namun, di antara puluhan radio itu, yang hidup cuma satu. Radio yang paling tua. Radio yang sudah ada bahkan sejak tiga putra-putrinya itu belum lahir. Radio sederhana, dengan kenop yang sudah agak aus dan antena yang kadang perlu diarahkan ulang agar suaranya jernih. Radio itu dibawanya ke kamar mandi sambil memandikan si bungsu.
Si bungsu tampak tenang ketika ibunya menggosok badannya dengan sabun, sambil sesekali memainkan air di sekelilingnya. Sementara dua anaknya yang lain, sudah bisa mandiri menyiapkan sarapan sendiri. Kadang-kadang, si sulung membantu adiknya memakaikan dasi seragam, memakaikan sepatu dan menalikannya. Pagi itu, menu sarapan adalah telur ceplok dan kecap, tak lupa tentu saja dengan nasi, sumber energi penting terutama untuk anak-anak, demikian ia selalu berseloroh kepada putra-putrinya agar mau makan. Meski gerimis di luar, anak-anak harus tetap masuk sekolah.
Ketika selesai membilas tubuh si bungsu, ia menghentikan aktivitasnya sepersekian detik. Lantunan irama musik anak secara mendadak digantikan oleh suara penyiar—tampaknya adalah pembaca berita—yang terasa cukup tegang. Mencekam. Penuh teror. Berita penting. Sangat penting. Penculikan dan pembunuhan tujuh jenderal subuh tadi.
Semua berjalan seperti biasa. Si sulung dan adiknya berpamitan untuk berangkat sekolah. Mereka memang sudah terbiasa berangkat sekolah sendiri dengan berjalan kaki. Jarak sekolah dan rumah memang cukup dekat, hanya sekita 500-an meter. Sementara ia mengurusi si bungsu sebelum ia juga harus berangkat mengajar. Si bungsu dititipkan kepada tetangga yang memang rumahnya berdempetan. Setelah semua beres, rumah ia kunci dari dalam dan ia keluar dari pintu belakang dengan menuntun sepeda, sambil menyapa ramah tetangga yang telah berbaik hati menemani si bungsu dari pukul 6 hingga pukul 1 siang.
Selama perjalanan ke sekolah, sudah tidak terhitung berapa orang yang menyapanya. Orang-orang itu tidak ia kenal, tetapi selalu tersenyum dan menganggukkan kepala tiap kali ia lewat. Saat mampir sejenak di sebuah toko ATK untuk membeli keperluan mengajar, seseorang menyapanya,”Pagi, Bu Bupati.”
Ia tersenyum.”Eh, Bu Asih!”
“Masih ngajar di SMP 1, Bu?” tanya seseorang yang dipanggil Bu Asih itu.
“Masih, Bu. Maaf saya duluan ya, Bu. Nanti kita sambung lagi.” Ia tergopoh meraih sepedanya. Sepertinya sudah buru-buru.
Ketika sosoknya perlahan menjauh, banyak orang di toko ATK itu menyanjungnya. Dari obrolan orang-orang di toko ATK itu diketahui bahwa wanita itu merupakan istri seorang bupati. Tidak seperti istri pejabat lainnya, ia tidak begitu memanfaatkan fasilitas khusus yang diberikan pemerintah daerah kepadanya. Ia lebih suka tinggal di rumahnya sendiri daripada di rumah dinas. Ia juga tidak menanggalkan profesinya sebagai guru meskipun suaminya adalah seorang pemimpin daerah. Kesederhanaan itulah yang membuat banyak orang segan dan hormat kepadanya.
Pukul 6.30 ia sudah tiba di sekolah. Masih ada cukup waktu untuk mengaso sambil menyiapkan bahan ajar. Di sela-sela waktu tunggu, ia mendengar selentingan rekan sesama guru yang ngobrol dengan berbisik-bisik dari balik tubuhnya. Meski lirih, ia masih bisa mendengar apa yang dibicarakan dua orang itu karena suasana ruang kantor masih sangat sunyi. Kabarnya dalangnya Partai Arit Nasional. Ssstttt…. diam kau! Ada anteknya di sini! Ia pura-pura tidak mendengar.
“Eh, pagi, Bu,” sapa orang itu, cukup kaget, tetapi berlagak seperti tidak terjadi apa-apa.
Ia hanya tersenyum, tak membalas sapaan pria gempal dan tua itu. Namun, pikirannya melayang ke mana-mana. Apa maksud obrolan tadi? Dalang apa?
“Bapak sehat kan, Bu?” tiba-tiba seseorang mengajaknya ngobrol. Orang yang tadi berbicara berbisik dengan pria tua gempal yang baru saja keluar dari ruang guru.