60 tahun setelahnya…
Suara pintu terkunci dari kamar sebelah membangunkan lelapku. Cahaya tampak berpendar masuk ke celah-celah teralis jendela. Aroma warga beraktivitas tercium dari dalam kamarku. Sepertinya matahari mulai terang-terangan menyembul ke permukaan, menjadi simbol manusia harus segera mencari uang. Manusia-manusia kuat yang rela terhimpit macet di jalan demi kelangsungan hidup orang-orang tercinta di rumah. Berangkat gelap, pulang gelap. Betapa kehidupan yang amat menyenangkan.
Aku membuka sedikit teralis jendela, mengamati warga kos yang satu per satu mulai meninggalkan kamarnya. Leni, seorang kasir minimarket, berjalan ke arah pintu gerbang kos menunggu ojol datang. Sandra, mahasiswi semester 4, bersiap keluar dengan motor matic-nya. Oh ya, ini hari Rabu, dia ada kelas pagi. Aku mengamatinya setiap hari hingga membuatku hafal dengan jadwalnya. Fitri, penghuni kos baru, juga sepertinya sedang menunggu ojol bersama Leni. Ia baru tinggal di sini seminggu. Aku belum terlalu mengenalnya.
Satu per satu, dari lantai satu dan dua, kamar-kamar kos telah ditinggalkan penghuninya. Menurut ingatanku, hanya ada dua orang pengangguran yang tidak ikut-ikutan beraktivitas seperti lainnya. Aku dan seorang lagi di lantai dua. Dia adalah mahasiswi semester akhir, tetapi sering pulang karena memang keperluannya kembali ke kos hanya jika ada janjian bimbingan dengan dosen. Hari ini sepertinya dia ada janji bimbingan skripsi. Sudah dua tahun ini skripsinya tidak kunjung selesai. Tampaknya ia mengejar target ujian skripsi karena sudah ada peringatan DO dari kampusnya.
Aku bergegas ke dapur untuk membuat kopi, kemudian kembali ke teras kamar sambil mencicip pisang goreng yang diberikan oleh ibu kos tadi malam. Pisang goreng Manado dengan sambalnya. Aku menatap cahaya matahari yang makin lama makin terang itu dengan pandangan nanar. Di sana, Samosir, tukang bersih-bersih kos, menyapu halaman yang tidak kotor. Dia adalah orang kepercayaan Bu Moren—ibu kos kami. Kudengar, dia sudah bekerja sejak Bu Moren masih gadis. Lalu setelah menikah. Bu Moren membangun kos-kosan khusus wanita di sini, di lahan milik orang tuanya. Samosir ditarik untuk menjadi tukang bersih-bersih di kos. Meski sudah renta, ia masih tetap semangat bekerja. Ia biasanya datang pukul 7 pagi dan pulang pukul 6 sore. Meskipun halaman kos kali ini tidak ada sampah ataupun daun kering, ia tetap menyapunya dan memastikan tidak ada sehelai pun debu yang tertinggal. Orang-orang sungguh sangat sibuk pagi ini. Aku menghela napas. Sampai kapan ya?
Sudah satu minggu aku tidak berani membuka ponsel. Berita di media akhir-akhir ini sangat membuatku gelisah. Belum lagi rekan-rekan kantorku yang tak hentinya whatsapp dan telepon untuk menanyakan kabarku. Aku sengaja menghilang dari hiruk pikuk dunia maya. Menjauh dari orang-orang dan segala pencapaiannya. Sosial mediaku juga seluruhnya nonaktif, dan hanya menyisakan aplikasi whatsapp karena aku masih perlu berkabar dengan orang tuaku. Satu suara notif tiba-tiba terdengar dari ponselku. Notif yang memang sengaja aku buat nyaring. Satu-satunya: dari Mama.
Nduk, makan apa hari ini?
Entah kekuatan magis apa yang menggerakkan jemari Mama untuk mengirim pesan whatsapp ini, seolah Mama mengerti bahwa anaknya tidak baik-baik saja di perantauan.
Bu Moren semalam ngasih pisang goreng, oleh-oleh dari Manado.
Oalah, sukur. Mama sudah transfer satu juta ya. Nggak banyak, tapi setidaknya bisa bantu buat kamu hidup di sana.
Air mataku menetes. Seharusnya akulah yang mengirim Mama uang. Aku merasa menjadi anak yang tidak berguna. Namun, aku bersyukur Mama tidak banyak menuntut. Mama tidak mendesakku untuk mencari pekerjaan baru. Mama tidak rewel menanyakan kapan dapat kerja setiap hari. Hal yang perlu aku syukuri, memiliki support system dengan hati sebesar Mama. Beliau tahu anaknya sudah berusaha keras. Sudah, istirahat dulu, nanti usahanya dilanjut lagi.
Di Whatsapp, hanya pesan Mama yang kubuka. Gelembung notif pesan sudah ada 500++ pesan belum terbaca. Aku meletakkan ponselku, mengabaikan ratusan pesan yang tak terbaca, dan kembali melamun.
***
Aku pikir news anchor adalah pekerjaan paling menjanjikan selain menjadi aparatur negara, ternyata aku salah. Meskipun sudah mengabdi hampir sepuluh tahun, aku tetap kena lay off. Alasannya karena masyarakat sudah tidak tertarik lagi menonton TV. Lho, kata siapa? Mamaku masih setia menonton siaranku di TV. Beliau tak pernah lupa laporan usai menonton siaranku di TV. Beliau juga tidak jarang memberikan kritik atas penampilanku di depan kamera. Tapi yah, tidak semua orang setuju dengan Mama.
Hari-hari kulalui dengan melamun, seperti hari ini. Usai mandi dan beberes, tanpa sadar kakiku melangkah hingga tiba di pasar. Padahal tadinya aku tidak ada niatan untuk ke pasar. Aku tidak sadar sudah berjalan selama sepuluh menit. Lalu-lalang orang lewat di gang juga aku tidak tahu. Apakah ini karena aku terlalu sering melamun hingga linglung?
“Neng, sehat?”
Suara cempreng ibu-ibu bakul sayur menyadarkanku dari lamunan.
“Hah? Iya, Bu?”
“Apa Neng sakit?”
Aku terdiam sejenak. Aku memang agak linglung dan masih memproses bagaimana aku bisa tiba-tiba sampai di pasar.