Aku masih punya waktu tiga hari sebelum aku benar-benar menghilang dari Jakarta.
Akhirnya, ratusan pesan whatsapp yang sebelumnya terabaikan, kubaca dan kubalas satu per satu. Aku membalasnya bukan untuk menanggapi pesan mereka tempo hari, melainkan untuk berpamitan.
Mendadak banget, Ti???
Loh, tiba-tiba banget???
Ti, ayo sebelum lo pulang, kita ketemu di Sency
Kira-kira ada sepuluh orang yang balasannya setipe. Namun, aku hanya punya waktu tiga hari dengan alokasi: satu hari akan kuluangkan waktu untuk berpamitan dengan penghuni kos, satu hari yang lain akan kugunakan untuk mengemasi barang. Tersisa hanya satu hari. Aku tidak mungkin menemui mereka semua. Sementara, jika aku pilih-pilih mana yang pantas aku temui, nanti yang lain akan cemburu. Rianti bisa ketemu si itu, kok sama aku enggak? Akhirnya dengan segala pertimbangan, aku tidak menemui mereka semua.
Maaf ya, gue harus segera ke Solo. Minggu depan gue udah harus mulai kerja.
Alasan yang mengada-ada. Tetapi hanya itu yang bisa dimaklumi oleh sekalian.
Tok. Tok. Suara pintu kamarku diketuk seseorang. Aku membuka kunci dan mendapati Bu Moren sudah berdiri dengan membawa dua bingkisan.
“Oleh-oleh buat keluarga di Solo,” ucapnya sambil menyerahkan dua totebag.
“Wah, Ibu.. repot-repot.”
“Ini yang satu kue bagea kenari, kue khas Manado. Aku bikin sendiri kemarin khusus buat dirimu. Lalu yang satu kain batik Manado,” katanya menjelaskan.
“Terima kasih, Bu.”
Tiba-tiba Bu Moren memelukku, hangat. Pelukan seorang ibu.
“Kamu kan tahu ya, aku menganggap seluruh penghuni kos di sini sebagai anakku. Aku punya anak lakik semua, sementara dari dulu aku pingin sekali punya anak perempuan. Dulu, aku pernah hampir punya anak perempuan, tetapi Tuhan tidak mengizinkannya mengarungi dunia yang jahat ini. Aku sudah ikhlas… tetapi rasa sayangku kepada mantan calon anakku itu tak akan pudar. Itu sebabnya aku membangun kos-kosan ini. Aku menyayangi kalian semua,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Yasmine pasti bangga di surga sana, Bu,” aku mencoba menghiburnya dengan hati-hati.