Memori Tanpa Makam

Corvi Aldhecca Russida
Chapter #4

Caregiver

Langkah selanjutnya setibanya di rumah adalah menghubungi Pak Herman.

           Sebelumnya, aku sudah menghubungi kontak kerabat Nina, yaitu Bu Betty. Namun ternyata Bu Betty hanya sebagai perantara. Ia mengarahkanku untuk langsung menghubungi seseorang bernama Pak Herman Susilo.  

Selamat siang Bapak Herman, perkenalkan, saya Arumi Rianti.. saya mendapat nomor Bapak dari Ibu Betty. Tempo hari saya mendapat tawaran lowongan sebagai caregiver dari teman saya, lalu saya diminta untuk menghubungi Bapak terkait lowongan tersebut. Apakah lowongan tersebut masih tersedia?

Terima kasih sebelumnya, Pak.


   Lima menit kemudian, balasan kuterima.          

            

Ya, masih 


Apakah saya perlu mengirimkan berkas lamaran, Bapak? Jika iya, ke mana saya harus mengirim berkas lamaran?


Apakah sebelumnya sudah punya pengalaman sebagai caregiver?


Saya pernah setahun merawat orang tua saya yang terkena stroke, Bapak.

 

  Oh.. ya, ya


  Tidak ada balasan lagi setelah 30 menit. Namun, ketika aku sedang mengetik untuk menanyakan sesuatu, satu pesan kuterima dari Pak Herman.

Mbak, bagaimana kalau besok kita ngobrol dulu saja? Ngopi ngopi begitu?


Baik, Pak. Apakah itu artinya saya tidak perlu mengirim lamaran?


Besok saja kita bahas.


***

        Seorang pria paruh baya berkacamata lengkap dengan jaket kulitnya telah menungguku di meja ujung dekat jendela. Tidak ada pengunjung lain selain pria itu. Aku menduga bahwa itu Pak Herman.

        “Selamat siang, permisi… apakah betul ini Pak Herman?” aku bertanya memastikan.

                    “Ya, Mbak Rianti, ya? Silakan duduk, Mbak,” ucapnya ramah.

                     “Silakan pesan mau minum apa,” katanya menawarkan.

                    Aku tersenyum canggung. “Samakan dengan Bapak saja.”

        Pak Herman kemudian memberi isyarat kepada barista yang ada di belakang untuk membuatkanku satu gelas cappuccino tanpa perlu berjalan ke meja pemesanan, seolah beliau sudah mengenal barista tersebut.

        Sebagai pembuka topik, aku memperkenalkan diriku dan menceritakan latar belakangku secara singkat. Pak Herman tampak tertarik dengan latar belakangku yang seorang mantan news anchor dan rela meninggalkan ibukota demi mencari peruntungan di kampung halaman. Aku menjelaskan bahwa keputusanku untuk kembali ke kampung halaman karena terkena imbas PHK massal dan sudah lebih dari tiga bulan menganggur. Aku juga menceritakan bagaimana pengalamanku merawat almarhum papa yang sakit stroke sampai papa akhirnya menyerah dengan penyakitnya itu.

                    “Saya turut berduka cita,” ucap Pak Herman.

Lihat selengkapnya