Memori Tanpa Makam

Corvi Aldhecca Russida
Chapter #5

Nenek

           Astaga! Aku bangun kesiangan!

          Nenek sudah terbangun, menatap langit-langit dengan mata terbuka lebar. Kasurnya sudah basah, pipisnya di pempers rembes ke mana-mana. Aku lupa memasang alarm untuk bangun jam 1 atau jam 2 pagi untuk mengganti pempersnya. Berulang kali aku mengucapkan maaf. Nenek menoleh dan mengerutkan dahi. Mungkin pikirnya, ini siapa?

          “Maaf, Nek, saya lupa memperkenalkan diri. Saya Rianti, perawat baru yang akan merawat nenek selama Mas Alif di Yogya.”

          “Mana Alif?”

          “Mas Alif di Yogya, Nek. Kerja jadi dosen.”

          “Jadi dosen?”

          “Betul, Nek.”

          “Loh, Alif sudah jadi dosen ya? Sepertinya baru kemarin dia lulus SMP.”

          “Hehe, Mas Alif sudah sukses sekarang, Nek. Mari sini rangkul saya,” ucapku sambil pelan-pelan membangunkan tubuh kurus itu.

          Hal pertama yang kulakukan adalah membersihkan tubuh Nenek dari ompol yang sudah meleber ke seluruh tubuhnya. Bajunya basah disertai bau khas urin. Pempersnya sudah menggembung karena terlalu banyak menyerap air seni. Setelah semua sudah kuganti, termasuk seprei, rambut Nenek kusisir rapi. Meski usianya hampir mendekati satu abad, rambut Nenek masih dominan warna hitam. Rambutnya juga halus berkilau. Nenek tidak mungkin melakukan perawatan mahal di salon. Pasti ada kebiasaan khusus semasa mudanya yang membuat rambutnya masih seindah ini.

          “Rambut Nenek masih bagus sekali. Rahasianya apa, Nek?” aku membuka basa-basi dengan ramah.

          “Dulu aku suka keramas pakai lidah buaya.”

          Ingatan Nenek masih begitu tajam. Beliau menceritakan bagaimana dulu ia pernah memiliki tanaman lidah buaya. Tanaman itu, selain menjadi shampoo, juga ia konsumsi sehari-hari, terutama untuk hidangan takjil buka puasa. Ah, iya, lidah buaya memang tanaman yang kaya akan manfaat. Perawatan mahal di salon mana pun tidak akan bisa menyaingi produk-produk alami buah tangan dari Tuhan.

          “Nenek mau sarapan apa?”

          “Roti bakar dan susu. Ada?”

          “Ada, Nek. Saya buatkan dulu ya, Nek.”

          Menurut penuturan Alif, Nenek punya kebiasaan berjemur sambil menyantap sarapan. Kebiasaan ini beliau lakukan karena tiga tahun lalu, beliau pernah jatuh dan kakinya patah. Lansia, apalagi kalau wanita berusia di atas 70 tahun, rentan terhadap pengeroposan tulang. Tulang yang pernah patah bisa membuat kondisi tulang semakin rapuh. Dokter menyarankan Nenek untuk rajin berjemur setiap pagi agar mendapat vitamin D alami. Nenek tidak dianjurkan mengonsumsi banyak obat karena usianya.

        Sementara Nenek menyantap sarapannya, aku kembali ke dalam untuk bersih-bersih.

          Hari pertama merawat Nenek ini membuatku teringat momen saat merawat papa. Setiap detiknya sangat berharga, sebab sebagai caregiver, kita tidak pernah tahu apakah hari ini adalah hari terakhir kita merawat orang tercinta atau tidak. Caregiver adalah orang yang paling tahu sisi kosong dari orang yang kita rawat. Kadang-kadang, sifat manusiawi akan muncul ketika kita merasa lelah secara emosional dan fisik. Namun, keluhan itu sering dianggap sebagi sesuatu yang tidak ikhlas, apalagi jika caregiver itu adalah anaknya sendiri. Berbagai tuduhan sebagai anak durhaka, anak tidak tahu terima kasih, sudah kenyang aku terima. Mereka akan tetap menuding demikian sebelum hal itu menimpa mereka sendiri. Bagiku, merawat orang sakit dengan merawat lansia sama saja. Mereka sama-sama kembali memiliki sifat seperti anak kecil yang manja dan butuh teman.

          Aku masih belum hafal jadwal Nenek, sehingga beberapa kali masih harus menengok jadwal yang ditempel di dinding pintu kamar Nenek. Setelah sarapan, Nenek akan bersantai di ruang tengah sambil menonton TV sampai siang pukul 12. Setelah itu beliau makan siang. Makan siang harus tepat waktu pukul 12, tidak boleh kurang dan lebih. Setelah memindahkan Nenek di sofa, aku ke dapur untuk memasak menu makan siang Nenek.

***

          Alif lupa memberi tahu kalau Nenek alergi daging ayam. Sementara itu kulihat Nenek sudah menyantap ayam goreng kecap asin buatanku. Dengan panik, aku segera menghampiri Nenek dan memasak masakan baru lagi untuknya. Namun, saat piring hendak kuambil, Nenek menyergah.

Lihat selengkapnya