Memori Tanpa Makam

Corvi Aldhecca Russida
Chapter #6

Alif

 

           Aku mungkin baru dua minggu bekerja melayani Nenek, namun Nenek sudah cukup bercerita banyak. Entah kenapa aku senang sekali bisa menjadi teman bercerita Nenek. Lansia dan anak-anak adalah dua golongan manusia yang jiwanya paling tulus. Dibanding dengan pekerjaanku sebelumnya, manusia-manusia yang pernah kutemui jauh sekali dari kata tulus. Aku serasa memakai topeng berlapis-lapis saat masih menjadi pembaca berita. Begitu kamera mati, air wajahku akan berubah drastis tak seperti yang ada di layar TV. Aku sungguh menikmati profesi baruku sebagai caregiver lansia.

           Dari yang sudah diceritakan Nenek dan selalu berulang setiap harinya, bisa kusimpulkan bahwa Alif adalah cucu kesayangan Nenek. Nenek punya sepuluh orang cucu, tetapi sembilan di antaranya sudah hidup berkeluarga di luar kota. Mereka sudah jarang menemui Nenek, paling setiap setahun sekali atau setiap lebaran. Itu pun tidak semuanya lengkap, ada yang pulang di rumah mertuanya. Hanya Alif-lah yang masih tinggal di sini, di rumah yang sekaligus menjadi tempat lahirnya.

           “Alif iku persis bojoku[1],” katanya mengenang.

           Ya, tidak salah. Wajah Alif memang sedikit mirip dengan pria di dalam foto itu. Namun, tidak hanya perihal wajah saja yang membuat Alif mirip dengan kakeknya.

        “Bojoku biyen dosen, Alif juga dosen. Mung Alif, putuku sing dadi dosen[2].”

        Tak terbendung betapa bahagianya Nenek ketika cucu kesayangannya meneruskan karier kakeknya sebagai dosen. Nenek dahulu juga sempat kuliah di universitas ternama dan tertua di Yogya, tetapi tidak selesai karena satu dan lain hal.

        Semakin aku gali, semakin menarik kehidupan lampau Nenek Ayik.

        Yang bisa kusimpulkan, Nenek Ayik terlahir dari keluarga yang cukup terpandang. Mendiang ayahnya, Eyang Soepardi Poncodikromo, adalah seorang arsitek yang mendapat privilege pendidikan tinggi oleh Belanda. Tak banyak orang, apalagi pribumi, yang mendapat fasilitas pendidikan oleh pemerintah kolonial Belanda jika bukan keturunan priyayi/bangsawan. Beliaulah yang merancang bangunan rumah yang kini sudah ditempati oleh empat generasi di bawahnya. Rumah itu dibangun dengan menelan biaya sebesar 2000 gulden, angka yang cukup besar pada masanya.

        Nenek Ayik punya nama asli Siti Utari Poncodikromo. Sebetulnya panggilannya Tari, tetapi ketika kecil Nenek tidak bisa melafalkan “Tari” dan hanya bisa mengucapkan “Ayi” , maka jadilah Ayik digunakan sebagai panggilan kecilnya. Namun, Nenek sudah telanjur nyaman dengan panggilan Ayi/Ayik hingga nama tersebut beliau gunakan sampai usia senja.

        Di setiap sudut ruangan selalu ada—paling tidak satu foto keluarga. Di kamar Nenek, ada juga sebuah foto yang gagah tergantung di dinding dengan pigura yang sudah berdebu.

        “Itu foto keluargaku, waktu bapakku masih ada. Setahun kemudian, bapakku meninggal.”

        Bukti bahwa Nenek Ayik tidak terlahir dari keluarga biasa adalah perawakan mendiang ayah Nenek Ayik yang tampak sangat gagah dan berwibawa. Tidak seperti orang Jawa masa lampau kebanyakan yang pernah kutemui pada umumnya yang mengenakan pakaian adat, Eyang Soepardi mengenakan setelan jas modern, ciri gaya berbusana khas Eropa. Bukti bahwa Eyang Soepardi pernah memiliki hubungan yang erat dengan Belanda. Nenek pula yang menceritakannya. Belanda pernah beberapa kali ingin bekerja sama dengan Eyang Soepardi, tetapi beliau menolak karena satu dan lain hal. Aura yang sama juga dapat kuterima saat melihat mendiang suami Nenek. Sepertinya memang beliau bukan dari kalangan orang biasa.

        Setelah bernostalgia, Nenek kembali menceritakan cucu kesayangannya. Alif adalah anak bungsu sekaligus cucu bungsunya. Dia punya kakak perempuan, tetapi kakaknya sudah pindah mengikuti suaminya di Kalimantan. Pulang setiap dua tahun sekali. Di antara semua cucunya, hanya Alif yang belum menikah.

        “Biyen bocahe badung banget. Gak kena dikandani[3]. Kok sekarang sudah jadi dosen.” Nenek tidak berhenti menceritakan cucunya. Jika kuhitung, Nenek sudah lima kali mengatakan ini dalam sehari.

Lihat selengkapnya