Memori Tanpa Makam

Corvi Aldhecca Russida
Chapter #7

Undangan

Alif menepati janjinya untuk pulang akhir pekan ini. Ia juga tidak lupa membawa titipan Nenek tempo hari, sekotak bakpia kukus isi sepuluh. Aku bisa pulang dan kembali lagi Minggu malam.

        Mama sempat protes kenapa aku mengambil pekerjaan sebagai perawat lansia yang sangat menyita waktuku itu. Bukan karena pekerjaannya yang tidak biasa, melainkan Mama kesepian di rumah.

        “Kan, ada Mbak Atun, Ma.”

        “Ya, kalo pagi siang. Kalo malam Mama sama siapa?”

           Karena itulah, aku mengadopsi satu ekor anak kucing sebagai “teman” Mama di rumah saat aku bertugas. Anak kucing domestik berjenis kelamin jantan yang kuberi nama Tatang. Tatang kudapat dari salah satu tetanggaku yang juga pecinta kucing yang kewalahan mengurus kucingnya yang terus beranak pinak. Tatang tampak masih takut pada hari pertama di rumah baru. Semalaman ia bersembunyi di kolong meja tamu. Mungkin sekitar dua atau tiga hari lagi ia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan baru.

           Meski akhir pekan, notifikasi pesan di ponselku masih kunyalakan, apalagi dari Alif. Takut kalau terjadi sesuatu pada Nenek. Merawat seseorang yang sudah lemah memang harus siap siaga kalau ada kondisi darurat kapan pun itu. Kita tidak pernah tahu. Pengalaman merawat papa membuatku tidak abai akan situasi demikian. Sebab, aku pernah melewatkan satu kesempatan emas yang seandainya saja aku tidak terlambat, mungkin papa masih bisa diselamatkan.

           Notifikasi pesan masuk, dari Alif.

Mbak Rianti, apa malam ini sibuk? Saya mau mengajak makan malam dengan Uti.

              

Malam ini saya free, Mas.

Boleh, Mas, terima kasih. Saya otw dari rumah dalam 30 menit.

Ndak usah, saya jemput saja. Kirim gmaps ya

 Oh, pasti disuruh Nenek. Aku hanya membutuhkan waktu untuk bersiap selama 15 menit sebelum akhirnya 20 menit kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Tak lama pesan Whatsapp masuk: rumahnya sebelah mana?

                Tanpa membalas, aku langsung bergegas keluar menghampiri mobil pajero putih itu. Alif tidak langsung tancap gas. Ia turun, menyalamiku, dan meminta izin berpamitan kepada Mama sebelum membawaku pergi. Sepanjang perjalanan selama 20 menit, aku dan Alif saling diam. Barangkali canggung sebab aku duduk di bangku sebelah kemudi. Alif tidak mengizinkan aku untuk duduk di bangku penumpang belakang.

                Alif mengunci rumah dari luar karena Nenek sendirian. Namun, sebelum menjemputku, ia sudah lebih dulu menggantikan pakaian Nenek dan mengantarnya buang air ke kamar mandi, sehingga ketika aku datang, Nenek sudah siap di meja makan. Tentunya sambil menyalakan TV yang tidak pernah ditonton agar rumah tidak terasa sunyi.

                Makan malam sederhana yang hanya diadakan di rumah dengan makanan yang sudah dipesankan Alif. Kami duduk melingkar bertiga. Aku berhadap-hadapan dengan Alif.

                Di meja makan itu, Neneklah yang paling mendominasi percakapan. Beliau bercerita banyak hal, mulai dari hobinya dulu merawat tanaman, bersepeda dari Solo ke Tasikmadu, Karanganyar, hingga hal remeh temeh lainnya. Percakapan kemudian menyambung dan mengerucut ke arahku. Cerita dimulai ketika Nenek bertanya latar belakangku. Aku sempat melirik sekilas Alif yang tampak setia mendengarkan sambil menyantap hidangan yang tersaji.

                “Saya sebelumnya bekerja sebagai pembaca berita di TV, Nek.”

                Kulihat Alif terbatuk, mungkin terkejut. Sementara Nenek berkata,”Di Magnet TV, ya?”

                “Iya, kok Nenek tahu?”

                “Wah, aku nonton setiap hari. Pantes wajahnya tidak asing.”

                “Serius, Mbak Rianti mantan pembaca berita TV?” Alif menimpali dengan mata sedikit menegang.

                “Iya, hehehe.”

                “Wah, keren!” ucap Alif. “Dengan karier yang sementereng itu, kenapa tiba-tiba pilih kembali ke Solo?”

                “Saya kena PHK massal dari kantor. Ditambah lagi, saya juga sudah capek hidup di Jakarta yang serba emosian. Saya tidak cocok dengan orang-orang Jakarta yang kalau salah sedikit, saya bisa dianjing-anjingin. Mama saya juga sendirian selepas papa meninggal. Jadi mungkin ini sudah rencana Tuhan buat saya pulang.” Alif tampak mendengarkanku dengan saksama.

Lihat selengkapnya