Memori Tanpa Makam

Corvi Aldhecca Russida
Chapter #8

Oetari

19 tahun sebelumnya…


                “Satu… dua….tiga… tahaaan…. tahaaan…. yookkkk… tahaaan….”

                Seorang fotografer memberi aba-aba sebuah keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, empat orang anak laki-laki, dan seorang anak perempuan. Masing-masing anak memiliki nama yang berawalan huruf vokal: Ahsan, Ikhsan, Oetari, Ehsan, dan Oman. Yang paling tua Ahsan, yang paling muda Oman.

                “Sip! Sudah, Bapak, Ibu,” kata sang fotografer setelah hampir 30 menit.

                Mereka pun menunggu lagi sekitar kurang lebih 30 menit yang lain untuk mendapatkan versi cetak dari foto yang sudah diambil. Ekspresi wajah mereka datar karena proses pengambilan gambar yang lumayan membutuhkan waktu yang lama.

                 Sementara itu dari luar datang seorang pemuda sambil membawa surat yang ditujukan untuk sang bapak.

                “Assalamualaikum,” ucap pemuda itu.

                “Waalaikumsalam, ya Paijo?” jawab sang penghuni rumah sekaligus kepala keluarga.

                “Ada kiriman surat dari Pak Noto di Yogya, Pak.”

                Sang kepala keluarga yang bernama Pardi itu membuka amplop dan membaca sekilas surat yang datang dari Yogya itu.

                “Saya belum bisa ke Yogya untuk saat ini. Situasi di Yogya sedang kurang baik. Belanda masih mengepung Maguwo.”

                “Nggih, Pak. Saya sampaikan.”

                Berita dari radio mengabarkan bahwa tentara Belanda masih mengepung ibukota Yogyakarta, terutama daerah Maguwo sampai Malioboro. Perlawanan internal di dalam republik membuat Belanda mengambil kesempatan untuk merebut kembali RI ke tangannya. Belanda memanfaatkan perpecahan ini untuk kembali mengadu domba para kombatan bersenjata. Sebelumnya, perpecahan antara tentara republik sempat pecah di Solo. Perang senjata memuncak, salah satu pelurunya sempat menembus plafon rumah keluarga Pak Pardi. Untungnya pada saat itu sedang tidak ada orang di dalam rumah. Pak Pardi melawat ke Yogya ditemani istri, sedang kelima anak-anaknya berada di luar rumah untuk keperluan masing-masing. Sementara, Paijo, yang biasa disuruh membersihkan rumah, sedang menyapu di pelataran belakang. Meski tidak ada korban, atap genteng di lokasi kejatuhan peluru runtuh dan bolong. Pardi harus merenovasi rumah yang sudah ditempatinya selama hampir 20 tahun itu.

                Rumah itu ia bangun dan desain sendiri. Modal yang dibutuhkan sebesar 2000 gulden. Pardi memang mendapatkan hak untuk mengenyam pendidikan di Belanda. Di sana, ia belajar bagaimana mendesain rumah yang cocok untuk wilayah tropis: langit-langit yang tinggi agar sirkulasi udara di dalam rumah tetap terjaga dan sejuk meski tinggal di daerah tropis yang disinari matahari sepanjang tahun, wilayah dapur yang dekat dengan jendela, seperti sudah meramal bahwa di masa depan, orang-orang di rumah itu akan memasak menggunakan tabung gas yang memang tidak boleh berada di ruangan tertutup. Jendela-jendela besar yang mengisi hampir di seluruh sisi rumah dan selalu terbuka, agar rumah tetap adem tanpa memerlukan mesin pendingin di masa depan. Serta, mini taman dan sumur timba di belakang rumah sengaja dibuat untuk tempat bersantai anggota keluarga. Karena jika taman dibuat di teras, mungkin akan menganggu ketenangan para penghuni rumah. Lalu-lalang orang yang bertamu akan mengganggu konsentrasi penghuni lain yang mencari kedamaian. Rumah yang luas….sangat luas.

                Pada hari Sabtu yang cerah, Oetari tengah bersiap-siap dengan seragamnya untuk ke sekolah, bukan untuk menimba ilmu, melainkan untuk menerima surat pengumuman kelulusan setingkat SMP. Tahun pertama Oetari masuk ke tingkat lanjut setelah lulus dari Hollandsch-Inlandsche School adalah tahun yang sama perubahan sistem pendidikan dari kolonial Belanda ke sistem pendidikan nasional diberlakukan. Dan akhirnya selama kurang lebih tiga tahun menimba ilmu, Oetari akan menerima berita kelulusan.

                Oetari berangkat dengan dibonceng ibunya menggunakan sepeda. Oleh guru yang berjaga di gerbang sekolah, ia dan ibunya langsung diarahkan ke ruang kelas. Surat diterima oleh wali murid, dalam hal ini adalah ibunya. Sambil menyerahkan surat pengumuman, wali kelas berkata,”Oetari adalah anak yang cerdas. Hasil belajarnya bagus, Bu.”

                Prapti menerima surat itu. Saat keluar kelas, ia disambut Oetari yang sudah pasang muka harap-harap cemas. Tanpa kata, ia langsung menyerahkan amplop surat kelulusan itu kepada putrinya tanpa meneruskan pesan dari wali kelasnya.

                Prapti bergegas mengambil lagi sepedanya sambil mengamati putrinya yang berjingkrak bahagia. Ia tersenyum tanpa memperlihatkan gigi. Rasa bangga membuncah sampai ubun-ubunnya. Ia bahagia melihat putrinya bahagia. Mereka pulang dengan membawa kabar baik bagi warga rumah.

                Prapti sangat tahu bahwa putrinya itu sangat hobi belajar. Ketekunan dan kecerdasannya itu menurun dari bapaknya. Sejak masih sekolah di HIS sudah terlihat kepintarannya. Meski anak pribumi, ia fasih berbahasa Belanda, bahkan mungkin menjadi satu-satunya anak pribumi yang fasih berbahasa Belanda di sekolahnya. Pujian demi pujian ia dapatkan dari gurunya di HIS dan di SMP. Oetari memang cerminan bapaknya versi perempuan. Setidaknya putriku tidak berakhir sepertiku yang tidak beruntung, ucap Prapti dalam hati.

                Prapti mendukung penuh putrinya itu untuk lanjut ke Sekolah Menengah Tinggi (SMT). Hal itu tampak ketika beberapa lelaki mencoba datang untuk meminang Oetari, ia tolak mentah-mentah. Salah satu dari lelaki yang pernah datang adalah Pak Lurah yang sudah punya istri dua. Pak Lurah sempat negosiasi dengan Pardi untuk meminang Oetari, namun Pardi tidak menggubris. Tidak gentar, Pak Lurah datang langsung ke rumah dan bertemu dengan Prapti. Namun, penolakan yang sama tetap ia terima.

                “Yen kowe lara ati biyen tak tolak, ojo seret anakku. Aku ra sudi anakku dadi bojo ketelu[1],” ucap Prapti. Ia tak menyilahkan pria bongsor dan bangka itu masuk ke dalam rumah.

                “Anakmu isih tetep iso sekolah, Ti. Aku ora bakal ngapakke anakmu sedurunge umure 20 taun. Kowe ngerti kan, Sulastri, biyen tak kawinke yo bar lulus SMP. Aku lagi duwe anak pas Lastri wis umur rong puluh. Anakmu bakal tak kuliahne[2].”

                “Bapake anakku luwih mampu nyekolahne anakku[3].” Prapti langsung membanting pintu.

                Dengan penolakan bertubi-tubi itu, Pak Lurah tetap pantang menyerah. Melalui bapak dan ibu tidak direstui, Pak Lurah akhirnya  mencoba berbagai usaha dengan mendekati Oetari secara langsung. Awalnya, ia diam-diam akan mengamati aktivitas Oetari. Setiap pagi Oetari berbelanja ke pasar dengan menunggangi sepeda. Aktivitas itu ia amati beberapa lama sampai hafal pukul berapa biasanya Oetari akan keluar rumah. Lalu, ia akan bergerak dengan modus memberikan tumpangan. Percobaan yang pertama berhasil. Namun, ia tidak langsung bergerak segera melamar Oetari. Ia harus konsisten menjadi tukang antar jemput sampai gadis itu terbawa perasaan. Namun, belum sampai satu minggu, usahanya itu diketahui Prapti. Oetari pun dilarang keras ibunya untuk menerima tumpangan dari siapa pun.

                Waktu berlalu, Oetari kemudian melanjutkan pendidikannya di SMT. Hari-hari di sekolah ia lalui dengan normal: bangun tidur, pergi ke pasar menemani ibu, membantu ibu memasak, berangkat sekolah, pulang sekolah, membantu ibu memasak untuk makan malam, belajar, dan kembali tidur. Rutinitas yang terus berulang. Kini ia sudah di tahun ketiga. Tak terasa waktu cepat berlalu. Begitu pun adik-adik Oetari yang kembar, Ehsan dan Oman, juga sudah menginjak kelas 1 di SMT di Yogya.

                Mengingat putrinya itu sudah dibebaskan untuk keluar rumah sendiri, Prapti semakin mengencangkan pengawasannya. Oetari adalah anak perempuan satu-satunya, maka harus ia jaga sepenuh hati. Hal yang sama juga dilakukan oleh Pardi. Lelaki yang datang ke rumah untuk meminang Oetari tiada habis, tetapi baik Pardi maupun Prapti tetap teguh pada pendirian untuk tidak menerima lamaran mana pun sampai Oetari lulus SMT.

                Namun, hal yang berkebalikan justru terjadi pada Oetari. Kedua orang tuanya tidak tahu bahwa putrinya itu telah mengenal rasa suka dengan lawan jenis. Ada satu murid laki-laki di sekolahnya yang mencuri perhatiannya. Hubungan mereka semakin dekat lantaran keduanya berada di komunitas yang sama: satu tim olimpiade matematika mewakili sekolah. Intensitas pertemuan yang banyak membuat mereka tanpa sadar saling bertukar keluh kesah yang akhirnya berujung pada rasa ketertarikan satu sama lain.

                “Buk, waktu ibu ketemu bapak dulu ceritanya bagaimana?” tanya Oetari sambil merajang bawang merah.

                “Ibuk dan bapak dijodohkan, Nduk. Ketemu ya di rumah simbah, di Semarang,” jawab Prapti sambil menuangkan minyak tanah ke dalam kompor.

                “Ibuk… pernah punya pacar sebelum dengan bapak?”

                “Pacaran sih ora, tapi ibuk pernah dekat dengan teman kecil di kampung. Ono opo to, Nduk?”

                “Rasanya gimana, Buk, dekat sama laki-laki?”

                Prapti diam sejenak sambil ingatannya memutar roll kembali mengenang kedekatannya dengan cinta pertamanya. “Indah. Rasane koyo arep ngising[4].”

                “Lah, Buk!” tawa Oetari meledak.

                “Loh, iya, ibuk ra ngapusi[5]. Waktu ada laki-laki yang jemput ibuk ke rumah, perut ibuk tiba-tiba mules. Itulah waktu ibuk sadar ada kupu-kupu beterbangan di perut ibuk.”

                “Trus kok Ibuk gak menikah sama dia kenapa?”

                “Karena restu. Ibuk tidak direstui. Orang tua zaman dulu masih percaya nggak boleh menikah dengan orang yang masih satu kampung dengan kita,” kata Prapti mengenang. “Ono opo to, Nduk? Kamu didekati laki-laki?”

                “Sepertinya iya, Buk.”

Lihat selengkapnya