18 tahun sebelumnya…
Pada bulan basah antara Mei dan Juni, dua tahun setelah Soekarno membacakan proklamasi, kehidupan Ridwan berjalan di antara batas rapuh antara remaja dan dewasa. Antara halaman buku yang belum sepenuhnya ia tinggalkan dan deru senjata yang terlalu cepat ia kenal. Setiap pagi, setelah kabut tipis turun dari pucuk-pucuk bambu, ia bangun di barak-barak sederhana, kadang hanya gubuk beratap rumbia atau ruang kelas kosong yang diubah menjadi markas darurat. Bau tanah basah bercampur dengan aroma bubur tipis yang dimasak tergesa di atas tungku kecil. Di sela sarapan, tawa lepas pemuda lain seusianya masih terdengar di sudut yang lain, tetapi ia tahu tawa itu selalu dibayangi kesadaran bahwa setiap hari bisa saja mengubah hidup mereka selamanya.
Latihan dimulai tak lama setelah matahari merayap naik. Ia berlatih dengan persenjataan yang dipegang dengan ketegasan, ditopang oleh kemarahan kolektif satu bangsa. Ia dan sejawatnya diajari merunduk, bergerak cepat, dan mengirim kode-kode rahasia. Di sela-selanya masih ada percakapan polos tentang keluarga di kampung, tentang sekolah yang terhenti, atau tentang mimpi-mimpi yang disimpan rapi dalam dada. Menjelang sore, ketika suara kicau burung mulai mengisi udara, mereka berpatroli menyusuri desa, melewati sawah yang menguning dan sungai yang mengalir pelan, waspada terhadap kemungkinan kedatangan pasukan sekutu. Tak jarang mereka membantu warga: memperbaiki pagar bambu, memanggul karung padi, atau sekadar menenangkan anak-anak yang takut pada ledakan jauh di kejauhan. Malam hari menjadi waktu yang paling jujur: ketika mereka duduk mengelilingi api kecil, memandangi percikan bara sambil membicarakan masa depan yang terasa begitu jauh.
Di tengah sunyi kegelapan yang merayapi tubuhnya, Ridwan termenung. Esok atau entah kapan, Belanda dan Sekutu bisa saja tiba-tiba menyerang. Melancarkan serangan agresi militer, mengingat suasana di ibukota Yogyakarta sudah mulai bergejolak. Ia mengusap pelipisnya yang berdenyut, mencoba mengusir bayang-bayang buruk yang terus menuntut ruang dalam kepalanya. Di barak kecil yang hanya diterangi lampu teplok, napas para tentara pelajar lain terdengar berat—campuran antara kelelahan dan kecemasan yang tak pernah benar-benar padam. Ridwan menatap wajah sejawatnya; beberapa di antaranya masih limbung mencari jati diri. Namun, di mata mereka tersimpan sesuatu yang lebih kuat daripada rasa takut. Tekad untuk mempertahankan tanah yang bahkan belum sempat memberikan banyak hal kepada mereka.
Memasuki akhir bulan Juni, seluruh pelajar dikembalikan kepada sekolahnya masing-masing untuk menghadapi kenaikan kelas. Namun, hanya berselang beberapa hari saja, Ridwan dan sejawatnya dipanggil kembali karena Belanda mulai melancarkan serangan agresi yang dimulai dari wilayah operasinya, yaitu Besakih. Kemudian serangan itu bergerak ke wilayah selatan hingga puncaknya berada di Malang. Pertempuran itu berlangsung selama 16 hari.
Ridwan merapatkan genggamannya pada senjata yang kini terasa begitu ringan dibanding beban di dadanya. Dari kejauhan, suara derap sepatu berat pasukan Belanda mulai terdengar: ritmis, teratur, namun penuh ancaman. Bersama Seno, rekan sejawatnya, Ridwan bersembunyi di balik pematang, menunggu aba-aba Komandan Mukarto. Jantungnya berdegup cepat, seakan ingin mendahului waktu.
Peluru pertama meletus. Tanah di sekitar mereka pecah, memuncratkan debu dan bau mesiu yang menyengat. Ridwan langsung merunduk, berlari menyusuri parit kecil sambil mencari posisi tembak yang lebih baik. Namun pasukan Belanda bergerak cepat dan terlatih. Rentetan peluru mereka menghujani semak-semak, memaksa para pelajar itu bertiarap dengan napas terputus-putus. Tak jauh di sisi kirinya, Seno berusaha berdiri untuk melempar granat. “Tutup aku, Wan!” teriaknya. Ridwan mengangguk, mencoba menahan tembakan musuh. Namun sebelum granat itu sempat melayang, peluru menembus dada Seno. Tubuh remaja itu jatuh tersungkur ke tanah, matanya masih terbelalak, seakan belum sempat mengerti bahwa nyawanya telah dicabut. Ridwan merangkak mendekat, memanggilnya berkali-kali, tetapi hanya hening yang menjawab.
Di sudut lain, terdengar jeritan Karyo, anak yang paling muda di kelompok itu. Ia terkena serpihan peluru di paha, lalu terseret jatuh saat mencoba mundur. Dua rekannya yang lain, Surip dan Bagito, berusaha menolong, tetapi justru menjadi sasaran tembakan yang datang bertubi-tubi. Ridwan menyaksikan sendiri bagaimana Bagito terhuyung, memegang lehernya yang berdarah sebelum jatuh ke lutut. Sementara Surip tumbang dengan debu yang mengepul di sekeliling tubuhnya.
Pertempuran semakin sengit ketika pasukan Belanda maju lebih dekat. Para tentara pelajar terpaksa bangkit, berlari, dan menyerbu menggunakan persenjataan seadanya dengan teriakan yang lebih menyerupai keputusasaan daripada keberanian. Ridwan ikut menerjang, matanya memanas oleh amarah dan ketakutan yang saling bersilangan. Ia memberi bara semangat kepada rekan sejawatnya, meski ia tahu banyak dari mereka mulai kelelahan—atau bahkan menyerah. Ledakan kecil dari granat tangan melemparkan debu dan serpihan tanah ke wajah Ridwan. Ketika kabut debu mereda, ia melihat kenyataan yang menghancurkan: lima, enam, tujuh rekannya tergeletak tak bergerak. Beberapa masih bernapas pelan, tapi dengan tatapan kosong yang membuat hatinya mencicit ngeri. Suara rintihan pun terdengar di mana-mana, bercampur dengan tembakan yang tak kunjung berhenti.
Di tengah kekacauan itu, Ridwan berlari, menyerang, mundur, kemudian menyerang lagi—semuanya terjadi tanpa ia benar-benar sadar. Ia hanya tahu satu hal: ia terus hidup sementara teman-temannya berguguran satu per satu. Dan ketika akhirnya pasukan Belanda mundur karena bala bantuan dari pihak Republik datang, Ridwan terperosok duduk di atas tanah basah, menatap mayat-mayat muda yang beberapa jam sebelumnya masih tertawa bersamanya. Hari itu, Ridwan tahu bahwa sebagian dari dirinya ikut gugur bersama rekan-rekannya dan tidak akan pernah kembali. Meski raganya selamat, tetapi jiwanya terasa ikut tercerabut menyusul kawan-kawannya yang gugur lebih dulu.
Situasi perlahan berangsur mulai kembali kondusif beberapa hari setelahnya. Mayat-mayat yang gugur mulai dikubur dengan layak. Namun, Ridwan termenung di sudut barak, cukup lama. Mencoba menenangkan gelombang emosi yang tak lagi bisa ia bendung. Dari tiga puluhan orang yang gugur, ia mengenal hampir sepuluhnya. Wajah-wajah pahlawan itu muncul satu per satu dalam benaknya, menatapnya dari balik kelam seperti bayang-bayang yang tak mau pergi. Tubuh muda penuh semangat mereka kini hanya tinggal kenangan dan terus berputar di kepalanya. Ridwan merasa seolah ia sedang hidup di antara dua dunia, satu yang terus menuntut keberanian, dan satu lagi perlahan menggerogoti jiwanya.
Untuk pertama kalinya, keinginan untuk mengundurkan diri benar-benar menyeruak dari hatinya. Suara itu tak lagi terdengar samar, tetapi semakin keras bahkan mendobrak kesadarannya. Ia mulai bertanya-tanya, sampai kapan ia sanggup bertahan? Sampai kapan ia harus melihat sahabat-sahabatnya meregang nyawa di depannya, sementara ia sendiri terus dipaksa hidup dengan luka yang tak tampak di tubuh? Ridwan meraih topinya, menatapnya lama seakan mencari jawaban pada kain lusuh itu. Ada bagian dalam dirinya yang ingin kembali menjadi pelajar biasa: duduk di bangku sekolah, mencoret-coret buku, dan berbicara tentang masa depan yang jauh dari bau mesiu. Namun bagian lainnya masih terikat oleh rasa bersalah—rasa bahwa jika ia pergi, ia akan meninggalkan perjuangan yang telah menelan banyak nyawa sejawatnya.
Ridwan memejamkan mata. Dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya semenjak awal perjuangan, ia benar-benar merasa lelah. Ia memberanikan diri menghadap Mukarto, yang saat itu sedang mengobati luka tusukan di telapak tangannya, membebetnya dengan kasa.
Belum sempat Ridwan mengutarakan niatnya, Mukarto lebih dulu membuka mulut. “Kebetulan kau di sini. Aku mau menyampaikan hal penting.”
“Siap, Komandan!”
“Aku dapat surat panggilan,” katanya akhirnya.
Ridwan menoleh. “Surat panggilan, Komandan?”
“Dari Angkatan Udara. Masa dinasku dimulai minggu depan.” Mukarto menatap langit gelap. “Artinya… aku harus meninggalkan Batalyon 4000.”
“Lalu siapa yang akan memimpin Besakih?” tanyanya hati-hati.
Mukarto menoleh, menatap Ridwan dalam-dalam. Tatapannya tajam, namun mengandung kepercayaan yang jarang ia tunjukkan. “Ya kau.”
Ridwan hampir tersedak napasnya. “Maaf, kok saya, Komandan? Saya---”
“Aku sudah memperhatikanmu sejak awal.” Mukarto memotong, suaranya tegas namun tak keras. “Kau tenang saat yang lain panik. Kau berani, tapi tidak ceroboh. Dan yang paling penting, anak-anak itu mendengarkanmu.”
Ridwan menggeleng perlahan, menunduk. “Saya hanya berusaha melakukan apa yang harus dilakukan, Komandan. ”
“Justru itu alasan kau cocok.” Mukarto menepuk bahunya. “Pemimpin tidak lahir dari orang yang ingin memimpin. Pemimpin lahir dari orang yang melakukan apa yang harus dilakukan, bahkan ketika tidak ada yang melihat.”
Ridwan terdiam cukup lama. Embun malam menempel di lengan seragamnya, tapi dadanya terasa panas oleh campuran gugup dan tanggung jawab yang tiba-tiba diberikan kepadanya, tanpa tedeng aling-aling.
“Wilayah Besakih butuh seseorang yang bisa mereka percaya. Dan aku percaya padamu. Mereka jauh lebih percaya padamu. Lebih dari yang kau bayangkan.”
Ridwan mengangkat wajahnya, menahan napas. Membalas kepercayaan komandannya meski dengan nada bicara yang penuh ragu. “Kalau begitu… saya akan mencoba, Komandan.”
“Jangan mencoba. Kau akan melaksanakannya.”
Ridwan menelan keras, lalu berdiri dan memberi hormat tanpa mengucapkan sepatah kata. Mukarto bangkit, membalas hormatnya. “Mulai malam ini, panggil aku Mukarto saja. Kau adalah komandan sekarang.”
“Baik,” katanya akhirnya. “Terima kasih… Mukarto.”

***
Waktu berjalan. Ridwan semakin menunjukkan gemilang kariernya dengan penunjukkannya menjadi komandan wilayah Besakih dan Jombor sekaligus. Sesuatu yang sangat di luar dugaannya. Dan karena itu, ia juga harus lebih tahan banting dari rekan-rekan sejawatnya, menjadi pimpinan yang tegas dan membawa wibawa. Rekan-rekan sejawatnya juga setuju akan hal itu. Ridwan memang terlahir sebagai pemimpin hijau.