Memori Tanpa Makam

Corvi Aldhecca Russida
Chapter #10

Komitmen

Pada akhirnya keduanya mulai menjalin hubungan jarak jauh. Ridwan dan Oetari saling berkirim surat. Jarak antara Surabaya dan Solo membuat mereka tak bisa sering-sering bertemu. Ridwan yang masih aktif di beberapa kegiatan senat kampus, tidak bisa meninggalkan rutinitasnya itu. Rapat sana dan sini. Menjadi delegasi A—Z. Sampai akhirnya di tahun terakhir, Ridwan lulus dengan predikat memuaskan.

                Sebelumnya, Ikhsan bersedia menjadi perantara perjodohan adiknya dengan kawannya itu. Ia cukup memahami karakter adiknya yang tekun dan cerdas. Seseorang dengan kepribadian seperti itu biasanya mudah kagum dengan orang pintar. Ridwan adalah orang yang tepat. Sosok yang supel, pintar, dan memiliki daya juang yang tinggi karena sepak terjangnya menjadi komanda tentara di masa lalu dalam membela kedaulatan negara. Ditambah Oetari telah mengundurkan diri dari kuliahnya di Yogya. Kadang-kadang gadis itu masih rindu kegiatannya di kampus. Kesempatan inilah yang diambil Ikhsan untuk mengajak adiknya itu ke Surabaya untuk menghadiri rapat pleno Dewan Mahasiswa, itung-itung untuk mengobat kerinduannya pada kampusnya di Yogya, dan juga tujuan utamanya untuk mengenalkan adiknya itu kepada kawannya secara organik.

                “Mas, aku orang luar kampus. Ndak papa kalau aku masuk?” tanya Oetari.

                Ikhsan lalu menyerahkan jas kampus yang sudah dilipat rapi. “Pakai ini.”

                “Ini jas siapa, Mas? Ada yang punya?”

                “Itu punya seniorku. Sudah lulus. Jasnya memang dilungsur buat disumbangkan.”

                Oetari memasuki ruangan senat yang cukup luas di hadapannya, kursi-kursi kayu tersusun rapi dari kiri ke kanan, dari baris paling belakang berjejer hingga barisan paling depan, membentuk pola bertingkat yang teratur dan disiplin. Di depan barisan kursi itu berdiri sebuah meja, kokoh dan memanjang, berada di atas lantai yang lebih tinggi—sekitar tiga undakan—menciptakan batas yang tegas antara yang berbicara dan yang mendengarkan. Meja itu tampak sebagai pusat gravitasi ruangan, tempat keputusan-keputusan penting pernah dilahirkan, kadang dengan suara bulat, kadang dengan perdebatan yang alot. Dari posisinya, siapa pun yang duduk di sana seolah berada selangkah lebih dekat pada kekuasaan simbolik yang dimiliki institusi.

                Lalu, di pojok kanan ruangan, sebuah mimbar podium berdiri tegak, tempat para pejabat kampus biasanya ber-orasi. Di belakang mimbar itu, tergantung dengan gagah bendera negara, lambang Garuda Pancasila, dan bendera lambang universitas. Melihat semua itu membuat Oetari merindukan sesuatu yang sudah lama hilang dalam genggamannnya. Kehidupan kampus yang penuh dialektika akademik.

                Rapat dimulai. Semua pengurus lama dan baru berkumpul di ruangan itu. Oetari melirik satu per satu orang masuk ke ruangan melalui pintu di sisi kirinya, berharap paling tidak ia mengenal satu sosok yang ia kenal selain Ikhsan. Barangkali teman SMA-nya. Atau teman SMP-nya. Atau teman SD-nya yang, barangkali berkesempatan melanjutkan kuliah. Bekas tentara pelajar atau pejuang kemerdekaan lainnya yang mendapatkan hadiah dari negara untuk melanjutkan studi. Namun setelah ditunggu 30 menitan, nyatanya tidak ada satu pun ia kenal selain Ikhsan.

                Ridwan maju ke podium sebagai ketua organisasi, memimpin jalannya rapat sekaligus menyampaikan pertanggungjawaban program-program Dewan Mahasiswa selama setahun belakang, termasuk itu keikutsertaannya dalam KAA di Bandung bersama rekanan yang lain. Saat Ridwan menyampaikan laporan dan berpidato, Oetari merasa seperti melihat sosok bapaknya ketika melihat Ridwan berdiri memimpin di podium. Sepertinya pernah bertemu? Di mana ya? Begitu pikir Oetari. Intonasi dan nada bicara laki-laki yang berdiri di depan itu terdengar tegas. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya mengimplikasikan semangat perjuangan yang tiada ujung dan proses berpikir yang matang. Dia seorang intelektual, pantas didapuk sebagai ketua Dewan Mahasiswa. Laki-laki ini pasti punya bekal bacaan yang banyak. Perasaan kagum mulai mekar dalam hati Oetari. Hatinya terasa merambat hangat.

                “Keren ya dia,” puji Ikhsan. Pujian ini bagian dari rencananya.

                “Iya, Mas. Pasti dia orang pintar, ya?”

                “Woh, memang. Sejak sekolah sudah kelihatan pintarnya. Bahkan pernah tergabung dalam tentara pelajar. Bantu usir Londo,” Ikhsan sedikit membual.

Lihat selengkapnya