Acara syukuran pertambahan usia ke-91 Nenek berjalan lancar. Dalam acara ini, Alif mengundang anak-anak panti asuhan untuk syukuran sekaligus mendoakan Nenek agar sehat. Setiap tahun, Alif memang selalu mengadakan syukuran dengan mengundang anak-anak yatim dari berbagai panti asuhan yang berbeda, entah saat ulang tahunnya atau ulang tahun Nenek. Jika tahun ini ulang tahun Nenek, maka ia akan mengadakan lagi untuk ulang tahunnya di tahun berikutnya. Tradisi ini sudah dilakukan oleh Nenek saat Alif masih kecil, tepatnya saat Alif menjadi yatim piatu.
Tadinya Nenek melakukannya untuk merayakan ulang tahun Alif agar cucunya itu tidak merasa kesepian di hari lahirnya. Nenek seringkali melihat wajah sedih cucunya ketika diundang dalam perayaan ulang tahun anak tetangga. Ada adegan sang anak tiup lilin dengan ditemani oleh kedua orang tuanya lengkap. Alif hanya mengingat momen seperti itu satu kali saat usianya lima tahun. Kedua orang tuanya mengundang teman-temannya di TK untuk hadir di acara perayaan ulang tahun sekaligus perpisahan akan masuk SD. Setelah itu, perayaan ulang tahun Alif setiap tahunnya hanya diadakan makan-makan sederhana sampai kedua orang tuanya wafat di usianya menginjak 8 tahun. Tradisi tersebut mulai dilakukan saat perayaan ulang tahunnya yang ke-10 sampai ia dewasa dan sudah memiliki karier mapan. Alif mulai mengambil alih tradisi ini secara bergantian dengan perayaaan ulang tahun Nenek.
“Anak-anak yang kusayangi, kalian tidak sendirian. Aku sudah tidak punya orang tua. Dan karena itu jangan khawatir, kalian masih punya harapan hidup lama sampai usia 90 tahun. Lalu, kakak ini (menunjuk Alif) tidak punya orang tua dua-duanya, kakak yang itu (menunjukku) juga sudah tidak punya bapak. Kita semua sama dan masih memiliki hidup yang baik,” ucap Nenek dengan nada jenaka saat memberi sambutan. Anak-anak yatim itu juga tampak gembira.
Bertemu dengan banyak orang sepertinya membuat Nenek cepat lelah. Saat anak-anak yatim itu sudah pulang, Nenek minta untuk segera diantar tidur. “Kok rasanya capek sekali ya,” katanya. Aku menjawab,”Karena Nenek sudah 90 tahun. Tenaganya sudah tidak sama lagi dengan anak-anak itu.” Saat aku hendak mengantar Nenek tidur, lagi-lagi Alif menyergahku dan memberi isyarat untuk dia saja yang mengantar Nenek tidur sambil membersihkan popoknya.
Ponselku tiba-tiba berdering, bunyi notifikasi panggilan suara. Siapa yang telepon malam-malam begini? Nama “Nina” muncul di layar. Ada apa?
“Rin..” terdengar suara parau menyayat hati di ujung sana.
“Ada apa, Nin? Kamu kenapa?”
Suara tersebut berubah menjadi isak tangis.
“Suamiku, Rin..”
“Andre? Kenapa heh?”
“Suamiku meninggal, tanpa organ.”
“HAH? MAKSUDNYA?” spontan dan tanpa sadar aku berdiri.
“Nanti aku certain lagi.” Sambungan telepon langsung diputus.
Oh, tiba-tiba aku teringat berita tentang perdagangan manusia di Kamboja. Orang-orang diimingi pekerjaan dengan gaji tinggi namun harus menetap di Thailand. Orang-orang itu ternyata tidak dibawa ke Thailand, tetapi ke Kamboja. Orang-orang yang pekerjaannya tidak sesuai target akan dihukum. Bahkan, lebih gilanya lagi akan dibunuh dan diambil organ dalamnya untuk dijual sebagai ganti rugi atas kinerjanya yang buruk. Apakah jangan-jangan Andre……? Ah, tidak mungkin. Andre kan teknisi barang elektronik. Sebelum aku pulang, Andre masih bekerja, meski serabutan, di pinggiran Jakarta.