Memori Tanpa Makam

Corvi Aldhecca Russida
Chapter #12

Surat

3 bulan setelahnya…          

                Puluhan surat itu tertumpuk di meja. Surat dari penjara. Surat dari suaminya yang tiga bulan terakhir sudah tidak ia terima lagi.

                Buk, perkataannya pada saat melamarku ternyata bukan hanya rayuan semata. Aku benar-benar dijadikan teman hidup selama sisa usianya di usia pernikahan yang belum genap 10 tahun.

                 Tangisnya pecah. Pernikahan yang semula indah di bayangannya mengapa harus berakhir tragis seperti ini? Tari benar-benar tidak sempat mempersiapkan kemungkinan buruk seperti ini dalam hidupnya. Benar-benar di luar perkiraan. Petaka ini tidak pernah ada dalam daftar keinginannya ketika ijab dinyatakan sah oleh saksi nikah. Menurutnya, Ridwan adalah sosok yang sempurna sebagai suami. Ia benar-benar merasa bertemu dengan cinta sejati. Namun, kalau kejadiannya begini, apakah masih bisa disebut cinta sejati? Bukankah cinta sejati itu hidup bersama dan mati bersama, seperti Romeo dan Juliet?

                Tuti, adik iparnya, menghampirinya ke kamar belakang setelah mendengar suara tangis Tari. Tanpa kata, ia langsung memeluk kakak iparnya itu.

                “Apa ada kabar dari suamiku?”

                “Belum.”

                “Sudah tiga bulan lho..”

                “Iya, kami juga menunggu, Mbak.”

                “Apa dia sudah lupa aku?”

                “Mas Ridwan nggak mungkin lupa.”

                “Trus kenapa?”

                “Mungkin aturan di penjara lebih ketat, Mas Ridwan tidak bisa berkirim surat lagi. Semoga Mas Ridwan baik-baik saja di sana.”

Lihat selengkapnya