Memori Tanpa Makam

Corvi Aldhecca Russida
Chapter #13

Reset

Ikhsan buru-buru mengumpulkan semua dokumen milik Ridwan, mulai dari ijazah, kartu keluarga, surat nikah, hingga akta kelahiran keempat anaknya untuk secepatnya dimusnahkan. Polisi sudah berhasil menangkap Tari, jangan sampai mereka juga menangkap anak-anak tak berdosa ini.

                Ia membakar habis seluruhnya tanpa sisa. Ayik, maaf, ini demi kebaikan anak-anakmu. Kalau memang harus mengurus semuanya lagi dari awal, setidaknya tidak ada nama Ridwan di dalam dokumen. Dan jika orang-orang berseragam itu kemari untuk menangkap anak-anak ini, ia bisa tunjukkan identitas keluarga atas namanya, sehingga orang-orang itu tidak punya bukti kuat untuk memenjarakan anak-anak ini.

                Di suatu sore yang cerah, seorang pria dengan kisaran usia 30-an tahun tampak celingak celinguk di depan rumah Ikhsan sambil beberapa kali menengok secarik kertas yang ia genggam. Wajahnya bulat, tetapi lemak di lehernya tertutup dengan jenggot dan cambang yang menutupi hampir seluruh bagian bawah bibir dan dagunya. Ia mengenakan kupluk berwarna putih yang ngepres kepalanya yang bulat. Dua titik hitam menghiasi dahinya. Hera, istri Ikhsan, yang sedang menyiram tanaman, sejak tadi mengamati pria tersebut dengan pandangan waspada. Takut kalau itu polisi lagi. Tetapi setelah ia amati baik-baik, pria itu tampak benar-benar kebingungan.

                “Cari siapa, Pak?”

                “Apa benar ini rumah Bapak Ikhsan?”

                “Sampeyan ini siapa?” nada Hera agak meninggi.

                “Kula Djarot, Bu, sopirnya Pak Ridwan.”

                Hera masih belum mau membukakan pintu untuk pria tersebut. Beberapa kali ia amati pria ini, mungkin ada sampai 20x, untuk memastikan bahwa ia bukan polisi yang sedang menyamar—dengan modus pura-pura mencari alamat.

                “Saya bukan orang orang jahat, Bu, Demi Allah. Saya sopirnya Pak Ridwan saat beliau masih menjabat sebagai bupati.”

                “Sampeyan ini sopirnya Ridwan kok cari Pak Ikhsan?”

                “Nganu…, Pak Ridwan menyuruh saya buat menemui Pak Ikhsan.”

                Mendengar keterangan itu, Hera bergegas membukakan pintu dan mempersilakan masuk. “Suami saya sedang keluar. Ada perlu apa?”

                “Ada yang mau saya sampaikan dari Pak Ridwan. Hmm.. apakah Bu Ridwan di sini?”

                “Bu Ridwan sudah ditangkap.”

                “Innalillahi. Maaf, saya ndak tahu. Saya juga baru keluar dari penjara.”

Lihat selengkapnya