Memori Tanpa Makam

Corvi Aldhecca Russida
Chapter #14

Ibu

4 tahun setelahnya…

                Sejak ditahan, kewajiban mengajar Tari sebagai guru matematika SMP 1 dicabut. Artinya, ia tidak bisa mengabdi sebagai guru lagi karena catatan pernah dipenjara tiga tahun meski akhirnya tidak terbukti bersalah. Namun, pandangan masyarakat tentang dirinya—seorang istri dari pejabat yang disokong oleh Partai Arit Nasional yang dilarang pemerintah—tentu tidak akan hilang. Ia sangat merasakan perbedaan mencolok perlakuan warga kampung sebelah setiap kali ia pergi berbelanja di pasar langganannya. Mereka memandangnya dengan tatapan awas dan takut, seperti Tari akan menyerang mereka. Untungnya, warga Kampung Kranji, tempatnya tinggal, mengenalnya dengan baik. Perlakuan mereka dari Tari masih aktif mengajar, masih menjadi istri bupati, hingga bebas dari penjara masih sama. Malahan mereka semakin bersimpati. Kadang-kadang mengirimi makanan ke rumah.

            Tari pun putar otak bagaimana caranya agar ia bisa hidup di tengah keterbatasan: keterbatasan uang dan keterbatasan seorang laki-laki. Hidupnya serasa berjungkir balik secara drastis. Ia sudah tidak memiliki sosok laki-laki yang menjadi pelindungnya: bapak dan suaminya. Meski ia masih memiliki empat orang saudara laki-laki yang siap menanggung nafkah dirinya dan empat anak-anaknya, Tari tentu saja tidak mau merepotkan mereka. Apalagi, masing-masing dari kakak dan adiknya itu sudah berkeluarga. Dengan kesepakatan tertentu, empat anak-anak Tari, untuk sementara waktu sampai usia mereka 18 tahun, menjadi tanggung jawab Ikhsan, karena nama mereka berada dalam satu atap kartu keluarga dengan pamannya itu.

                Sementara itu, Tari memanfaatkan kemampuan menjahitnya untuk sedikit demi sedikit mendapatkan nafkah untuk dirinya sendiri. Ia membuka jasa menjahit. Pakaian sobek, pakaian yang mau dipermak, bahkan mendesain kebaya untuk acara lamaran, Tari menerimanya semua. Sambil bekerja, sambil belajar. Ia juga membeli buku peningkatan skill menjahit dan mempelajarinya secara autodidak demi meningkatkan pelayanan pelanggan. Sudah ada beberapa pelanggan setia yang, paling tidak satu bulan sekali, menggunakan jasanya untuk menjahitkan pakaiannya. Usaha penjahitannya semakin meluas, bahkan hingga ke kampung sebelah. Kampung yang warganya sempat memusuhinya, kini berangsur mulai meramah kembali padanya. Tari pun mulai dengan resmi membuka jasa penjahitan dengan plang berukuran besar dipasang di atas pagar rumahnya: Tari Taylor.

                Di luar bisnisnya yang semakin dikenal, setidaknya untuk warga Kranji, Bonokan, dan Murangrejo, Tari juga aktif mengajar tetapi sebagai guru les untuk anak-anak tetangga. Murid-murid yang ia berikan bimbingan bervariasi, tetapi rata-rata adalah murid SMP dan SMA. Di kala senggang, sesekali Rukmini yang sudah kelas dua SMA, main ke rumah untuk belajar, sambil bermain dengan sepupunya. Hari itu, Rukmini datang lebih awal karena sekolah sedang melaksanakan ujian akhir semester. Besok adalah giliran mata pelajaran Matematika. Tari memang menyediakan papan tulis kecil beserta kapur di rumahnya sebagai media belajar anak-anak. Kalau sedang mengajar, jasa penjahitannya otomatis tutup. Dan jika ia sedang kebanjiran order jahitan, jadwal les diliburkan. Ia tidak bisa memegang keduanya sekaligus, salah satu harus libur.

                Boleh dibilang, Rukmini adalah keponakan yang paling dekat dengannya. Ia juga yang paling tua di antara anak-anak saudaranya yang lain. Rukmini adalah putri sulung Ahsan. Rukmini jugalah, di antara kemenakannya yang lain, yang sempat bertemu dan mengenal dengan baik almarhum Ridwan. Rukmini sempat ikut ditahan, dimintai keterangan tentang hubungannya dengan Ridwan. Namun, karena masih di bawah umur dan tidak terbukti terlibat dalam aksi pemberontakan, Rukmini dibebaskan. Barangkali sebab itulah, Rukmini ingin selalu dekat dengan buliknya. Kedekatan mereka sampai membuat wajah mereka mirip, seperti miripnya ibu dan anak.

***

10 tahun setelahnya…

                Putra sulungnya, Hilman, beberapa bulan lagi lulus SMA. Jauh sebelum itu, Hilman sudah mempersiapkan banyak hal untuk mendapatkan beasiswa. Sebab ia tahu diri, ibunya hanya penjahit dan guru les, tidak mungkin sanggup membiayainya kuliah. Pakdhe[1]nya juga punya keluarga sendiri. Ikhsan juga sudah berulang kali mengatakan bahwa ia hanya membiayai hidup sampai umurnya 18 tahun. Setelah itu bisa cari uang sendiri.

                Dan, Hilman juga ingat pesan ibunya. Kowe kudu ajar mobil. Cah lanang kudu iso nyopir mobil. [2] Di waktu senggang, Hilman dan adiknya, Herman, meminjam mobil pamannya untuk belajar nyetir. Meski berkali-kali remuk karena tertabrak, Ikhsan selalu mengizinkan dua keponakannya itu untuk menggunakan mobilnya lagi untuk keperluan belajar. Gampang, bisa diperbaiki, ucap Ikhsan setiap kali Tari minta maaf atas kerusakan mobil.

                Hari Minggu saat semuanya libur, Hilman inisiatif membantu pamannya itu mencuci mobil. Hilman menggulung lengan baju sambil menggenggam spons yang telah basah. Ia menyeka kaca depan dengan gerakan pelan, sementara Ikhsan menyiramkan air dari selang, memastikan tak ada sisa debu yang tertinggal. Di sela-sela bunyi gemericik air dan gesekan kain lap, Ikhsan membuka obrolan.

                “Mau ke mana setelah lulus, Hil?” tanyanya sambil memutar keran ke kanan. Air pun berhenti mengalir.

                “Sekarang baru proses daftar beasiswa kedokteran, Pakdhe.”

                Ikhsan lantas menepuk bahu kurus keponakannya itu, tanda memberi semangat. “Mau ambil di mana?”

                “Hayam Wuruk saja, Pakdhe, yang dekat dari rumah.”

                Ikhsan tersenyum. “Podo bapakmu[3].”

                Sambil menggosok bemper, Hilman melanjutkan.”Bapak meninggal karena sakit apa ta, Pakdhe? Kenapa kita ndak pernah berziarah? Apa penyakitnya menular?”

Lihat selengkapnya