Aku mengambil cuti lima hari selama Idul Fitri. Di momen silaturahmi ini, anak-anak dan cucu Nenek pulang ke rumah. Rumah tua itu kembali menjadi tempat persinggahan keluarga besar. Aku memantau kondisi Nenek dari jauh melalui Alif.
Uti senang sekali kedatangan cucu dan cicitnya, begitu Alif berkisah.
Aku belum pernah lihat Uti sebahagia ini. Mungkin momen seperti inilah yang selalu ia rindukan. Sayangnya, cuma sekali setahun.
Alif tampak sangat menyayangi Utinya. Aku bisa rasakan itu dari nada pesan yang ia kirim. Sosok pria penyayang keluarga. Rasa bahagianya persis seperti seorang anak laki-laki yang bahagia ketika keinginannya untuk beli mainan terpenuhi. Dan lagi, aku belum pernah melihat Alif memanfaatkan kuota jumlah katanya per hari untuk bercerita sebanyak ini. Kadang-kadang ia mengirim pap (post a picture) Nenek yang sedang menyantap hidangan opor dan sambal goreng ati ditemani anggota keluarga yang lain. Alif juga memintaku untuk update kehidupanku ketika berlebaran. Lebaranku sangat sepi, tidak ada kumpul keluarga, sehingga aku mengirim foto Tatang yang baru saja disterilisasi seminggu yang lalu.
Dengan interaksi yang cukup intens itu, aku merasa hubunganku dengan Alif tidak hanya sekadar majikan dan pekerja saja, tetapi berkembang lebih dalam sebagai…teman. Sebab, Alif sudah tidak lagi memanggilku dengan “Mbak”. Kata sapaan itu selain ditujukan untuk perempuan yang lebih tua (dan punya hubungan keluarga), juga ditujukan untuk seseorang yang tidak kita kenal, tidak peduli berapa pun usianya. Dalam budaya Jawa, kata sapaan “Mbak” juga menunjukkan sikap hormat kita kepada orang yang tidak dekat atau tidak kita kenal. Kalau kata sapaan itu dihilangkan, itu artinya….
Sebuah notifikasi pesan berbunyi. Dari Alif lagi. Kali ini ia mengirim foto keluarga besarnya dengan Nenek. Anak-anak Nenek kini tinggal tiga karena yang satu, ibu Alif, sudah meninggal dunia. Aku memperhatikan satu per satu wajah dari kerabatnya itu lalu menemukan dua wajah yang cukup familiar. Dua wajah milik dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan yang sangat jelas karena mereka berpose jongkok di depan Nenek. Loh, ini kan Miko dan Mira, anaknya Nina?
“Kamu masih kerabat dengan Nina?” tanyaku pada Alif di sambungan telepon.
“Iya. Dia sepupuku. Anaknya Pakdhe Hilman.”
“Kok dia nggak kelihatan ya di foto?”
“Nina sudah meninggal.”
“HAH?” ucapku spontan. “Innalillahi wa inna illaihi rajiun.”
“Dia tewas menabrakkan diri di rel kereta. Kasihan sebenarnya. Dia begitu karena shock atas kejadian yang menimpa suaminya. Kamu kenal?”
“Dia teman SMA-ku. Dia juga yang menawariku pekerjaan sebagai caregiver ini. Terakhir aku masih video call-an sama dia. Cuma sebulan terakhir aku nggak pernah dapat kabar lagi dari dia.” Ketakutanku selama ini pun terbukti.
“Lalu anak-anaknya diurus siapa?”
“Aku nggak tahu gimana ceritanya. Yang jelas sekarang Miko dan Mira diurus sepenuhnya oleh orang tua Nina. Rumit banget kalau menyimak cerita keluarganya Pakdhe Hilman. Nina minggat dan kembali untuk pertama kalinya sudah dalam keadaan mayat. Kasihan sekali.”
Fiuuh… untungnya orang tua Nina masih menerima kehadiran Miko dan Mira. Malang sekali nasib kedua anak itu ditinggal kedua orang tuanya dengan cara tidak wajar. Dengan dikembalikannya mereka berdua kepada kakek dan neneknya, aku berharap baik Miko maupun Mira bisa meneruskan cita-cita kedua orang tuanya sebagai dokter yang sempat gagal.
Keesokkan harinya, aku langsung minta diantarkan ke makam Nina yang berada di komplek pemakaman Makamhaji, satu komplek dengan pemakaman Papa. Kuburannya masih basah. Dalam sunyi, aku mendoakan keselamatan Nina di alam sana. Semoga mendiang ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Setelah doa kupanjatkan selesai, aku menengok ke belakang, ke arah Alif yang juga sedang berdoa di samping sebuah makam.
“Sebaris ini adalah makam keluarga. Ini makam ibuku,” ucap Alif menjelaskan.
“Oh.” Aku turut menunduk mendoakan almarhum ibu Alif. “Maaf, kalo papamu? Apa juga dimakamkan di sini?”
“Enggak. Beda makam. Jauh dari sini.”
“Oh, bukan di makam keluarga?”
Alif menghela napas. “Biasa, kelurganya ribet. Mereka juga punya makam sendiri. Jadi ya sudah kita ngalah.”
Di sepanjang baris makam-makam yang ada di hadapanku ini, selain makam Nina dan ibu Alif yang bernama Bilqis, ada empat makam lain leluhur Alif, masing-masing nisan atas nama: Soepardi Poncodikromo (kakek moyang), Soeprapti (nenek moyang), Ikhsan bin Soepardi (kakek paman), dan Herawati (nenek bibi).
“Semalam, Uti tiba-tiba saja bilang mau pesan makam satu di sebelah orang tuanya. Aku jadi takut kalau hari itu tiba.” Ada ketakutan mengalir dari suaranya. Ketakutan akan ditinggal orang tercinta. Nenek adalah satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa. Meski masih punya paman dan bibi, mereka semua tinggal jauh dan hanya bertemu pada saat lebaran seperti ini. Alif mengakui ia memang tidak begitu dekat dengan paman dan bibinya. Ia mulai memikirkan pertanyaan Nenek yang semula dianggapnya mengganggu: kapan mau menikah? Di titik ini, ia baru menyadari bahwa orang tua selalu melempar pertanyaan semacam itu semata-mata tidak untuk membuat kita tidak nyaman, tetapi bentuk rasa khawatir jika sewaktu-waktu mereka meninggal, ke mana anaknya akan pulang kalau ia belum menikah?
“Kamu, kan, pintar dan mapan, pasti banyak yang mau,” ucapku dengan nada bercanda semata-mata untuk menghiburnya.
Alif menoleh dan hanya tersenyum. Ia memandangiku lama. Matanya perlahan menyipit. Senyumnya melibatkan mata. Tentu saja dengan tatapan yang intens ini, aku mengalihkan pandanganku. Tidak kuat menahan arus listrik antah berantah yang menyengat jantungku.
“Ada. Tapi kebanyakan mahasiswi caper.”
“Ya, apa salahnya? Toh banyak kok dosen yang menikahi mahasis…”
“Masalahnya aku nggak mau menikah dengan mahasiswi.”
Aku mengangguk, namun dengan pandangan tetap lurus ke depan. “Hmm, lalu sama siapa?”
Alif menghela napas. “Entah. Biar Tuhan yang arahkan.”
“Btw, kamu juga kelahiran 1992?” lanjut Alif.
“Iya, kita seumuran dan aku sudah lebih dulu tahu sebelum kita bertemu.”
“Aku… eh, maksudku, sepertinya banyak kisah menarik dari kamu yang belum aku tahu. Misalnya, fakta kalau kamu ternyata mantan pembaca berita. Itu bener-bener buat aku kaget. Berarti sebelum ini kamu merantau di Jakarta?”
“Hehe, biasa aja. Aku sudah sepuluh tahun di Jakarta. Awal tahun ini aku apes kena layoff dari perusahaan, lalu menganggur selama tiga bulan. Trus datanglah Nina menawari aku pekerjaan ini. Waktu itu aku punya pikiran mau terima pekerjaan apa saja asal halal. Dan kebetulan aku pernah merawat Papa yang sakit stroke. Oh ya, kita sambil jalan yuk ke makam papaku. Nggak jauh kok dari sini.”
Angin sejuk menerpa kulit dengan lembut. Langit hari ini berawan putih, hanya sedikit warna biru tampak bersembunyi di ujung sana, di balik serabut awan. Cuaca yang seperti inilah yang ideal, tidak panas dan tidak hujan. Kalau hujan tentu saja makam yang masih basah menjadi becek. Kalau panas, kami juga tidak akan berlama-lama di makam. Banyak orang juga tampak berziarah ke makam keluarganya. Setiap lebaran dan menjelang puasa, makam selalu diramaikan orang. Aku menyebutkan ini musim ziarah. Entah memang niatnya untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal atau ada dorongan lain seperti meminta wangsit, aku tidak tahu.
Setelah tiba di makam Papa, aku dan Alif menunduk sejenak untuk berdoa.
“Menarik. Kita sama-sama anak yatim,” kata Alif setengah bercanda. Candaan yang hanya bisa dilakukan anak yatim.
“Apa itu sebabnya dari saya—Mas/Mbak jadi aku—kamu?” aku membalas juga dengan candaan.
Tanganku tiba-tiba terasa hangat karena digenggam. Aku tidak berani menengok ke arah Alif. Tampaknya wajahku sudah memerah dan ia tahu itu. “Yuk, pulang. Kayaknya sudah mau hujan,” katanya sambil tetap menggegam tanganku.
***
Satu per satu anggota keluarga sudah kembali lagi ke perantauan. Cepat sekali. Rumah yang tadinya ramai oleh cucu dan cicit, kini kembali sepi melompong. Wajah Nenek selalu memerah ketika anak-anak dan cucunya pamit kembali ke tanah rantau. Beliau seperti menahan tangis. Aku juga ikut sedih. Tak jarang Nenek masih melamun karena semuanya menghilang begitu cepat. Kegalauan Nenek itu membuat kondisinya melemah.
Dua pekan setelah kloter keluarga terakhir—keluarga Bu Betty—kembali ke Jakarta, kondisi kesehatan Nenek menurun. Awalnya, nafsu makannya berkurang, sampai sudah aku buatkan bubur pun tetap tidak termakan. Kemudian Nenek mengeluh tenggorokannya sakit, lalu batuk-batuk. Sudah kuminumkan obat, batuknya justru semakin parah. Nenek mengeluh susah bernapas. Karena sudah menyangkut pernapasan dan Nenek sempat pingsan, akhirnya Alif membawanya ke IGD.
Untungnya, tidak butuh waktu lama untuk penanganan. Melihat kondisinya yang memburuk, Nenek masuk ke ruang ICU. Tentu saja di ruangan ini siapa pun tidak boleh masuk selain petugas. Kegamangan mulai terlihat di wajah Alif. Puluhan panggilan dari paman dan bibinya di Jakarta tidak terjawab. Entah, Alif sudah telanjur kalut. Ia sama sekali tidak tertarik berinteraksi sosial, bahkan melalui telepon dan sekadar memberi kabar. Akhirnya, aku diberinya izin untuk menjawab telepon-telepon itu melalui ponselnya.
“Pulanglah. Biar aku yang gantian menjaga Nenek,” kataku. Jujur, aku kasian melihatnya tampak pucat dan lesu.
“Aku nggak bisa pulang sebelum Uti sadar.”