Barang-barang Uti mulai kubersihkan satu per satu. Baju-baju yang masih layak pakai aku kumpulkan untuk kusumbangkan ke panti jompo. Sebagian ada yang sudah dilirik tetangga, dipesan agar barang itu kuberikan kepada mereka. Kecuali barang-barang antik seperti gelas dan piring yang konon dibeli Uti saat melawat ke beberapa negara di Eropa bersama Kakung. Aku menyimpannya. Tidak kujual juga tidak akan kuberikan secara cuma-cuma kepada orang lain. Barang ini seperti peninggalan sekaligus dari Uti dan Kakung.
Oh ya, aku lupa satu hal. Rianti sempat menyerahkan tumpukan surat-surat dalam sebuah map rapi punya Uti. Uti pun juga mengizinkan aku untuk membukanya. Tumpukan surat itu kusimpan di bawah meja kerjaku, tertumpuk dengan berkas-berkas kampus.
Surat-surat itu… aku mulai membacanya. Semakin mataku bergeser dari kiri-kanan sampai bawah, tanganku gemetar, seperti kertas-kertas tua itu masih menyimpan dingin ruang tahanan tempat Kakung pernah bernapas terakhir kali. Setiap kalimat terasa seperti reruntuhan yang jatuh satu per satu ke dadaku. Tulisan tangan Kakung sangat rapi, tenang, dan nyaris terlalu tenang untuk seseorang yang tahu hidupnya sedang digenggam ketakutan di balik senjata. Tidak ada jeritan, tidak ada sumpah serapah, hanya kabar seadanya, doa pendek, dan harapan yang dititipkan dengan kata-kata yang hemat, seakan Kakung sengaja menghemat penderitaan agar tidak melukai siapa pun yang membacanya kelak. Justru di situlah perih itu tumbuh tanpa ampun. Kesedihan yang disembunyikan. Ketakutan yang ditulis dengan sopan.