Memori Tanpa Makam

Corvi Aldhecca Russida
Chapter #17

Kita

Beberapa jam sebelum meninggal

                            Aku hanya bisa mendengar suara alat kesehatan yang memonitor detak jantung dan tekanan darahku. Sayup-sayup suara Betty dan suaminya juga terdengar sedang mengobrol. Dari sisi telinga sebelah kanan, aku mendengar dengan jelas Herman melantunkan ayat-ayat suci. Iya, Nak, Ibu dengar. Ibu dengar ayat-ayat yang kau ucapkan itu. Namun, ibu tidak bisa menirukan apa yang kamu baca. Lidah ibu sudah kelu.

                                  Tidak lama, aku mendengar suara pintu kamar terbuka, bersamaan dengan itu ucapan salam menyapa. Salam dari putra sulungku. Akhirnya, kamu datang juga, Nak. Kalau tubuhku ini sanggup berdiri, aku akan memeluk kalian semua. Namun, sayang, tubuh ibu pun sudah tidak mampu lagi bangun. Ujung kaki ibu sudah mati rasa.

 

           Satu jam sebelum meninggal

                            Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Hilman, yang jelas sayup-sayup aku mendengar ia mengatakan saturasi oksigen. Yang bisa kudengar jelas hanyalah lantunan ayat-ayat suci dari mulut Herman yang sejak tadi tidak putus dilantunkan. Jelas sekali. Kucoba membuka mataku perlahan, semua tampak buram. Pandanganku mendadak memburuk, sangat buruk. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah anak-anakku, hanya siluet mereka saja yang tampak dalam pandanganku. Namun, aku melihat sosok tinggi besar berwajah tampan, sangat rupawan, berdiri di belakang salah satu anak atau menantuku di ujung ranjang. Wajahnya sangat jelas terlihat: bentuk matanya, bentuk hidungnya, semua bisa kugambarkan. Siapa itu? Dia tampan sekali. Sepertinya anak cucu dan cicitku tidak ada yang setampan dia.

                                  Perasaan mati rasa sudah menjalar sampai bagian pinggang. Oh, mungkin seperti inikah perjalanan jiwa yang akan berpisah dengan jasadnya? Napasku juga semakin berat. Untuk menghirup oksigen saja sudah sangat kesusahan hingga aku terpikir, barangkali tidak bernapas akan lebih enak dan melegakan.

           

           Lima belas menit sebelum meninggal

                             Sebuah tangan mendekat ke arah wajahku, aku tidak tahu itu tangan siapa. Tangan itu melepas alat bantu pernapasan yang sudah beberapa jam terakhir membantuku mendapatkan oksigen. Tepat saat alat itu tidak lagi menyentuh area wajahku, perasaan mati rasa menjalar dengan cepat sampai ke dada, tenggorokan, hingga….

 

           Tujuh menit sebelum meninggal

                            Tiba-tiba saja aku kembali ke masa lalu. Momen saat aku berdiri di depan kelas berbicara dengan bahasa Belanda, lalu guru dan teman-temanku memberiku tepuk tangan meriah. Lalu, tiba-tiba aku berada di kelas bersama tim olimpiade matematika dan bertemu cinta pertamaku di sana. Namun, aku malah ditinggal menikah. Aku menangis.

                                  Aku tidak tahu apakah aku sudah di alam lain, yang jelas kejadian demi kejadian yang kualami seperti time travel kembali ke masa lalu dan berlalu begitu cepat. Sangat cepat. Tiba-tiba saja aku sudah berada di kampus, di ruang kuliah dan mengikuti perkuliahan seperti biasa. Senang sekali akhirnya bisa kembali ke bangku kuliah. Aku selalu memimpikan bisa kuliah lagi, tetapi rasanya itu sudah tidak mungkin bisa kulakukan. Lalu sampai akhirnya aku bertemu cinta sejatiku, Ridwan Aminullah.

                                  Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana kami bertemu, kejadian yang bisa dibilang konyol. Aku sedang membereskan piring kotor, lalu ia tiba-tiba saja meminta berkenalan, selepas acara doa bersama almarhum bapak. Kami mulai menjalin kedekatan yang tidak begitu lama sampai akhirnya ia mengucapkan kalimat itu: “Tari, maukah kamu menjadi teman hidupku sampai mati?”

                                  Aku menerima pinangannya. Kami pun menikah dengan sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga dan teman dekat. Lalu, ia membawaku jauh dari keluarga. Ia membawaku mengarungi perjalanan ke arah Timur Pulau Jawa. Kami menetap di sana hingga melahirkan dua pasang anak, laki-laki dua, perempuan dua.

                                  Momen saat aku melahirkan anak pertamaku. Ibuk, rasanya menjadi ibu sakit ya? Aku meregang nyawa demi melahirkan seorang bayi tidak berdosa. Namun, semua rasa sakit itu terbayar ketika aku mendengar suara tangisannya. Hilman adalah pengalaman pertamaku menjadi seorang ibu.

                            Hidupku bersama Ridwan bisa dibilang sempurna. Ridwan adalah sosok laki-laki yang luar biasa. Ia mencintaiku sepenuh hati. Ia tidak banyak menuntut, meskipun sebagai suami, ia harus lebih dominan daripada aku. Ia justru lebih banyak mengalah demi keluarga. Sampai akhirnya aku turut menghantarkan kariernya menjadi bupati. Sampai-sampai presiden memberinya dua tiket ke Mongolia. Kami terbang ke Mongolia selama kurang lebih dua pekan, meninggalkan anak-anak yang kutitipkan kepada paman dan bibinya.

                                  Semua tampak indah di mataku. Kenangan-kenangan itu…  

           

           Satu detik sebelum meninggal

                            Lailahaillallah muhammadurrasulullah.

                                  Selamat tinggal, anak-anakku.

***

                            Tubuhku terasa ringan. Kucoba menggerakkan kedua tanganku dan meraih apa pun yang bisa kupegang di samping kanan-kiri, depan-belakang, aku tidak menemukan apa-apa. Tempat ini kosong. Kucoba membuka mulutku dan bersuara. Suaraku kembali. Aku bisa kembali berbicara. Tetapi di sekelilingku tak tampak satu pun kehidupan. Semua tampak putih. Aku menengok ke arah bawah kakiku. Aku melayang!

Lihat selengkapnya