Bau antiseptik dan karbol rumah sakit masih menempel di kemeja Syamira. Bagi mahasiswi koas ini, kelelahan bukan lagi kondisi fisik, melainkan mode bertahan hidup. Empat belas jam jaga malam di IGD menguras habis sisa kewarasannya. Di atas ojek online yang menembus kemacetan kota, yang ada di kepalanya hanya kasur empuk, bantal dingin, dan masakan Ibu.
Syamira mendorong pagar besi rumahnya yang berderit pelan. Rumah berlantai satu dengan cat mengelupas di beberapa sudut ini selalu menjadi suakanya. Sejak Ayah meninggal delapan tahun lalu, rumah terasa lebih lengang — tapi Ibu, guru honorer yang entah bagaimana berhasil menyekolahkan ketiga anaknya hingga jenjang yang tidak murah, memastikan kehangatannya tidak pernah pudar.
Syamira membuka pintu depan. Aroma gurih tumis bawang putih dan kecap manis langsung menyambutnya. Itu aroma ayam kecap, menu favorit Syamira. Senyum tipis mengembang di wajah pucat gadis berusia dua puluh empat tahun itu. Ia melepaskan sepatu ketsnya yang lusuh, menaruh tas ranselnya yang berat berisi buku-buku tebal dan stetoskop di atas sofa, lalu melangkah menuju dapur dengan langkah terseret.
Di balik meja makan kayu yang permukaannya sudah penuh goresan, Ibu sedang berdiri membelakangi Syamira. Wanita berusia empat puluh delapan tahun itu sedang memindahkan lauk dari wajan ke dalam mangkuk keramik. Rambutnya yang mulai dihiasi uban diikat asal-asalan. Bahunya yang dulu tegap, kini tampak sedikit melengkung, menanggung beban tak kasat mata yang sering kali berusaha disembunyikannya dari anak-anaknya.
“Bu,” panggil Syamira, suaranya serak karena kurang tidur. Ia berjalan mendekat, berniat mencium punggung tangan ibunya seperti rutinitas yang telah ia lakukan selama dua dekade terakhir. “Syamira pulang. Hari ini IGD kacau banget, ada kecelakaan beruntun. Syamira rasanya mau pingsan berdiri tadi.”
Syamira mengulurkan tangannya, menunggu ibunya berbalik, menunggu omelan lembut tentang bagaimana ia harus menjaga kesehatannya sendiri sebelum merawat orang lain.
Ibu berbalik. Tangannya masih memegang sendok sayur. Namun, alih-alih senyum hangat atau tatapan khawatir yang biasa ia berikan, wajah Ibu kosong.
Mata cokelat redup itu menatap Syamira dari atas ke bawah. Bukan permusuhan yang terpancar dari sana, melainkan sesuatu yang jauh lebih membingungkan: ketidaktahuan. Tatapan sopan seseorang kepada orang asing yang berpapasan di lorong supermarket.
Senyum Ibu mengembang, tapi itu bukan senyum yang biasa Ibu berikan ke Syamira atau adik-adiknya. Itu adalah senyum formal seorang tuan rumah kepada tamu yang tak diundang.
“Maaf…” Suara Ibu terdengar lembut, tapi setiap suku katanya terasa seperti kepingan es yang ditusukkan ke dada Syamira. “...kamu siapa?”
Syamira membeku. Tangannya yang masih terulur menggantung bodoh di udara. Suara kipas angin di sudut ruangan tiba-tiba terdengar sangat keras.
“Bu?” Syamira tertawa kecil, tawa yang sumbang dan canggung. “Ini Syamira, Bu. Jangan bercanda deh, Syamira capek banget ini, belum tidur dari kemarin.”
Ibu memiringkan kepalanya sedikit. Alisnya bertaut, menunjukkan kebingungan yang tidak dibuat-buat. Ia mundur setengah langkah, sebuah refleks protektif ketika menghadapi orang asing yang masuk ke wilayah pribadinya. Matanya menyapu pakaian kusut Syamira dengan tatapan menyelidik.
“Maaf, Mbak ini temannya Saskiya, ya?” tanya Ibu, suaranya sedikit bergetar, mencoba mempertahankan kesopanan meski jelas ia merasa terganggu. “Atau gurunya Said? Kalau mau cari Saskiya, dia ada di kamarnya di belakang. Tapi tolong jangan langsung masuk ke dapur begini, ya, Mbak. Saya kaget.”
Dunia di sekitar Syamira seolah kehilangan gravitasinya. Paru-parunya mendadak lupa bagaimana cara menarik oksigen.
Temannya Saskiya? Mbak?
*
Otak Syamira, terlatih bertahun-tahun berpikir taktis di bawah tekanan medis, mulai memproses informasi dengan kecepatan kilat. Demensia? Alzheimer onset dini? Delirium akibat infeksi? Stroke iskemik di hipokampus?
“Ibu…” Syamira melangkah maju.
“Tolong jangan mendekat.” Nada suara Ibu kini berubah menjadi defensif. Ia meletakkan sendok sayurnya di atas meja dengan bunyi klenting yang nyaring. Tangannya mencengkeram tepi meja makan. Matanya menatap Syamira dengan kewaspadaan penuh.
Tepat pada detik itu, pintu kamar belakang terbuka. Saskiya, anak kedua di keluarga itu, keluar dengan kaus oblong yang penuh cipratan cat akrilik. Mahasiswi seni rupa berusia dua puluh tahun itu berjalan santai sambil menggaruk rambutnya yang dikucir kuda dengan asal-asalan.
“Bu, ayam kecapnya udah mateng be—” Langkah Saskiya terhenti saat melihat ketegangan di dapur. Matanya berpindah dari ibunya yang tampak ketakutan, ke kakak sulungnya yang berdiri mematung dengan wajah seputih kertas. “Ada apa nih? Kak Syamira kok pucet banget? Belum makan, ya?”
Mendengar suara Saskiya, wajah Ibu langsung berubah lega. Ketegangan di bahunya menghilang. Ia menoleh ke anak keduanya dengan tatapan keibuan yang sangat familier.
“Saskiya,” panggil Ibu cepat. “Alhamdulillah kamu keluar. Ini lho, ada teman kamu tiba-tiba masuk ke dapur. Ibu kaget. Tolong suruh tunggu di ruang tamu saja, Nak. Enggak sopan masuk-masuk rumah orang tanpa permisi.”
Saskiya terdiam. Mulutnya setengah terbuka. Ia menatap ibunya, lalu menatap Syamira secara bergantian, mencari tanda-tanda bahwa ini adalah sebuah prank yang tidak lucu. Namun, saat ia melihat mata Syamira yang mulai berkaca-kaca dan tubuh kakaknya yang bergetar hebat, Saskiya tahu ada yang tidak beres.
“Bu... Ibu ngomong apa, sih?” Suara Saskiya menurun, kehilangan nada cerianya. “Ini Kak Syamira, Bu. Anak sulung Ibu. Mbakku. Ibu lagi ngetes akting buat acara panggung sekolah, ya?”
“Anak sulung?” Ibu tertawa pelan, tawa yang meremehkan. “Saskiya, kamu jangan ikut-ikutan bercanda. Anak Ibu cuma dua. Kamu sama adikmu, si Said. Sejak kapan Ibu punya anak perempuan lagi? Sudah, suruh temanmu ini keluar atau Ibu teriak panggil tetangga.”
*
Lima belas menit kemudian, ruang tamu rumah itu berubah menjadi ruang periksa dadakan. Suasananya mencekam.
Syamira duduk di sofa tunggal, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan untuk menghentikan tremor yang menjalar. Saskiya duduk di sofa panjang, merangkul Said, si bungsu berusia lima belas tahun yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Said baru saja pulang sekolah dan langsung disambut oleh kekacauan ini. Wajah remaja laki-laki itu pucat pasi, matanya merah karena bingung dan takut.