Memoria Exchange

Andi Hasna
Chapter #2

#2

Pagi turun di langit Bekasi dengan warna abu-abu yang muram, seolah semesta tahu bahwa rumah sederhana itu baru saja kehilangan porosnya. Syamira terbangun di lantai kamarnya dengan leher yang kaku dan mata yang membengkak. Sinar matahari pucat menyelinap dari celah tirai, menyorot seragam koasnya yang masih melekat di badan, kini kusut masai.

Untuk beberapa detik pertama, saat kesadarannya masih mengumpulkan kepingan realita, Syamira berharap kejadian semalam hanyalah manifestasi dari kelelahan fisiknya. Sebuah mimpi buruk yang dipicu oleh shift jaga IGD selama empat belas jam. Namun, ketika ia membuka pintu kamarnya dan melangkah ke ruang tengah, keheningan yang menyambutnya terasa berbeda. Ada ruang hampa di udara.

Dari arah dapur, terdengar denting piring dan spatula. Rutinitas pagi Ibu yang sudah Syamira hafal di luar kepala. Syamira melangkah ragu, berdiri di ambang pintu dapur. Ibu sedang membalik telur dadar di wajan, sementara Saskiya duduk di meja makan, menopang dagu dengan wajah luar biasa kuyu. Di sebelahnya, Said mengaduk-aduk sereal di mangkuknya tanpa minat.

“Pagi, Bu,” sapa Syamira pelan. Suaranya serak.

Ibu menoleh. Tidak ada senyum, tidak ada binar mata yang biasanya menyambut anak sulungnya. Wajah itu datar. “Oh, Mbak yang semalam masih di sini? Saya kira sudah pulang. Maaf, saya cuma masak telur tiga porsi untuk anak-anak saya. Kalau Mbak mau sarapan, di lemari masih ada sisa roti tawar.”

Syamira merasakan dadanya seperti ditikam sembilu. Ibu tidak sedang marah. Ibu benar-benar menawarinya roti dengan kesopanan yang kaku, layaknya tuan rumah kepada teman anaknya yang menginap tanpa izin.

Tempo bicara Ibu berubah. Saat seperti ini, sensitivitas Syamira naik drastis. Dulu, suara Ibu memiliki intonasi yang dinamis, meliuk hangat saat membujuk, atau meninggi secara alami saat mengomel. Kini, artikulasinya terlalu rapi, temponya konstan dan datar, seolah ia adalah seorang pengisi suara amatir yang sekadar membaca naskah tanpa memahami konteks emosi di balik kata-katanya.

Saskiya menatap Syamira dengan mata berkaca-kaca, lalu menggeser piring telurnya. “Kak Syamira makan punya aku aja.”

“Saskiya,” tegur Ibu, nada suaranya berubah tegas namun tetap tanpa lapisan kehangatan yang biasa ia gunakan untuk anak perempuannya. “Kamu ada kelas pagi, kan? Makan sarapanmu. Temanmu bisa mengurus dirinya sendiri.”

Syamira menarik kursi dan duduk di seberang ibunya. Ia mencoba menahan air mata yang kembali mendesak. Ia harus menguji batas memori ini.

“Bu,” Syamira mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke mata wanita yang telah melahirkannya. “Ibu tahu hari ini tanggal berapa?”

“Dua belas Mei,” jawab Ibu sambil meletakkan spatula.

Syamira menahan napas. “Ibu ingat ada peristiwa penting apa di tanggal dua belas Mei, dua puluh empat tahun yang lalu?”

Itu adalah hari ulang tahun Syamira. Setiap tahun, sekering apa pun dompet mereka, Ibu selalu menyempatkan diri membuat nasi kuning kecil-kecilan.

Kening Ibu berkerut. Matanya menyipit, mencoba menggali arsip di dalam kepalanya. “Dua puluh empat tahun lalu? Tidak ada. Tahun segitu saya baru menikah dengan almarhum suami saya. Kami masih tinggal di rumah kontrakan.”

“Lalu... Ibu ingat Universitas tempat Saskiya kuliah?” kejar Syamira.

“Institut Kesenian,” jawab Ibu cepat.

Saskiya dan Syamira saling melirik.

“Kalau saya kuliah di mana, Bu?” tanya Syamira. “Ibu yang mengantar saya tes masuk waktu itu. Ibu yang menangis sujud syukur di teras saat pengumuman kelulusan saya keluar. Saya mahasiswi kedokteran, Bu. Ibu yang membiayai semuanya.”

Ibu mendengus. Sebuah tawa kecil yang merendahkan meluncur dari bibirnya. Ekspresi itu sangat asing di wajah Ibu yang biasanya penuh empati.

“Mbak, jangan ngarang cerita pagi-pagi,” kata Ibu, nada suaranya kini terdengar terganggu. Ada pergeseran makna yang sangat kentara dalam cara Ibu memilih kata—sebuah semantic shift yang mengerikan. Kata ganti lekat seperti 'kita' atau 'anakku' lenyap sepenuhnya saat berbicara dengan Syamira, digantikan oleh diksi berjarak dan fungsional. “Kuliah kedokteran itu mahal. Gaji saya sebagai guru honorer tidak akan pernah cukup untuk membiayai anak masuk Fakultas Kedokteran. Membayar uang semester Saskiya dan sekolah Said saja sudah membuat saya berutang ke sana kemari. Tolong, jangan bicara sembarangan di rumah saya.”

Syamira bungkam. Kata-kata itu lebih menyakitkan daripada tamparan fisik. Bukan hanya eksistensi Syamira yang dihapus, melainkan seluruh sejarah pengorbanan Ibu untuk menyekolahkan anak sulungnya telah terhapus dari logikanya sendiri. Otak Ibu memformulasikan alasan yang masuk akal (gaji kecil, utang) untuk menutupi ruang kosong yang ditinggalkan oleh hilangnya kenangan tersebut.

Lihat selengkapnya