Memoria Exchange

Andi Hasna
Chapter #3

#3

Tiga bulan sebelum anomali di ruang makan itu terjadi, kalender di kamar Ibu seolah berubah menjadi alat penyiksa otomatis. Setiap angka merah adalah tenggat waktu; setiap pergantian minggu adalah lonceng kematian bagi masa depan anak-anaknya.

Malam itu, hujan turun deras mengguyur atap seng rumah mereka di Bekasi. Ibu duduk sendirian di meja makan, ditemani pendar kuning dari lampu bohlam yang mulai meredup. Di hadapannya, berserakan kertas-kertas yang mengancam kewarasannya: Tagihan uang kuliah tunggal (UKT) Syamira untuk semester koas yang nominalnya membuat napas sesak, rincian biaya pameran seni Saskiya yang tak bisa ditunda, dan surat peringatan tunggakan SPP Said dari pihak sekolah.

Ibu menekan tombol kalkulator plastik di tangannya berulang kali. Hasilnya selalu sama. Defisit.

Tabungan pensiun almarhum Hendra sudah habis tanpa sisa dua tahun lalu. Gaji sebagai guru honorer dan hasil katering kecil-kecilan hanya cukup untuk menambal biaya makan sehari-hari. Ia sudah meminjam ke koperasi sekolah, meminjam ke kerabat, dan bahkan nyaris menyerahkan sertifikat rumah mungil ini kepada rentenir.

Ibu memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Syamira yang selalu kelelahan sepulang jaga malam. Syamira yang selalu memaksakan diri tersenyum dan berkata, "Sedikit lagi, Bu. Sumpah dokter tinggal di depan mata. Nanti Naya yang gantian biayain Ibu dan adik-adik."

Air mata Ibu menetes jatuh ke atas kertas tagihan. Ia merasa gagal. Ia telah berjanji di depan pusara suaminya untuk mengantarkan anak-anak mereka ke gerbang kesuksesan, namun kini realita sedang memaksanya bertekuk lutut. Jika ia tidak membayar UKT Syamira besok lusa, anak sulungnya itu harus mengambil cuti paksa. Di dunia kedokteran, tertinggal satu langkah sering kali berarti tertinggal selamanya.

Di tengah keputusasaan itu, tatapan Ibu jatuh pada sebuah kartu nama hitam matte yang terselip di dalam dompet lusuhnya. Kartu itu tidak memiliki nama perusahaan, apalagi alamat lengkap. Hanya ada sebuah logo perak cetak timbul—dua garis melengkung yang saling berpotongan menyerupai simbol infinity ganda. Di bawahnya tertera deretan nomor telepon dan satu baris kalimat:

Memoria Extraction — Kami Menghargai Hal yang Paling Berharga dari Diri Anda.

Kartu itu ia dapatkan seminggu yang lalu dari Bu Ningsih, sesama guru honorer yang tiba-tiba mampu melunasi semua utang keluarganya dan membeli mobil baru. Saat Ibu mendesak Bu Ningsih, menanyakan dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu dalam semalam, rekan kerjanya itu hanya tersenyum tipis—sebuah senyum yang aneh, dingin, dan kosong.

"Ada tempat di Jakarta Selatan, Jeng," bisik Bu Ningsih waktu itu, matanya menerawang jauh. "Mereka tidak butuh ginjal atau kornea mata kita. Mereka hanya butuh... apa yang ada di kepala kita. Orang-orang kaya di luar sana punya terlalu banyak uang, tapi hidup mereka kosong. Mereka rela membayar miliaran rupiah hanya untuk merasakan bahagia. Dan kebahagiaan kita... laku keras di sana."

Malam itu, dengan tangan gemetar, Ibu mengambil ponselnya dan menekan nomor di kartu tersebut.

Kawasan Sudirman di siang bolong adalah hutan beton yang angkuh. Gedung-gedung pencakar langit berlapis kaca memantulkan cahaya matahari, menyilaukan mata siapa saja yang berani menatapnya. Ibu berdiri di lobi Menara Elysium, merasa sangat kerdil dan salah tempat dengan setelan batik guru yang ujung lengannya sudah berserabut dan tas tangan imitasi yang kulitnya mulai mengelupas.

Tidak ada plang bertuliskan klinik atau pialang emosi. Ketika Ibu menunjukkan pesan konfirmasi di ponselnya, resepsionis yang berpenampilan bak model profesional langsung menuntunnya ke lift khusus yang melesat mulus tanpa suara ke lantai empat puluh dua.

Pintu lift terbuka, dan Ibu melangkah masuk ke dunia yang sama sekali berbeda.

Ruangan itu luas, sepi, dan berlapis karpet tebal yang meredam setiap langkah kaki. Udara beraroma lavender dan ozone yang menenangkan. Dindingnya dilapis panel kayu walnut dengan pencahayaan temaram yang tersembunyi. Di ujung ruangan, seorang pria berkemeja tailor-made bangkit dari kursi kulitnya yang mewah.

"Selamat datang. Ibu pasti yang menghubungi kami semalam," sapa pria itu dengan senyum ramah yang sangat presisi, seolah sudah dilatih ribuan kali. "Nama saya Aris. Saya adalah Broker Konsultan Anda hari ini. Silakan duduk."

Ibu duduk di sofa yang begitu empuk hingga ia merasa seperti tenggelam. Jantungnya berdebar kencang. "Pak Aris... saya... teman saya, Bu Ningsih bilang..."

"Kami tahu siapa Anda, Ibu," potong Aris lembut. "Dan kami sangat memahami situasi Anda. Tidak perlu ada rasa malu di sini. Memoria Extraction didirikan untuk menciptakan keadilan keseimbangan psikologis. Anda memiliki apa yang tidak dimiliki oleh klien VVIP kami, dan klien kami memiliki sumber daya finansial yang Anda butuhkan. Kami hanyalah fasilitator."

Aris menekan sebuah tombol di mejanya. Permukaan kaca meja itu seketika berubah menjadi layar interaktif yang menampilkan grafik dan ilustrasi otak manusia.

"Sebelum kita mulai, saya harus menjelaskan aturannya," kata Aris, suaranya kini mengambil nada yang lebih profesional dan berat. "Teknologi kami memanen engram memori secara biologis. Kenangan manusia bukanlah sekadar gambar, melainkan impuls listrik yang terikat erat dengan hormon dan jaringan saraf. Kami tidak mengambil ingatan Anda tentang rumus matematika atau letak ibu kota. Kami mengambil memori episodik yang mengandung emosi absolut."

Ibu menelan ludah. "Maksudnya... kenangan itu akan diambil dari saya?"

"Tepat," angguk Aris. Matanya menatap tajam. "Kenangan yang dijual, akan hilang permanen dari otak Anda. Tidak bisa di-copy ulang. Tidak bisa dibuat cadangannya. Otak Anda akan menyesuaikan diri dengan menghapus jejak emosional terkait peristiwa tersebut. Jika Anda menjual kenangan hari pernikahan, Anda akan tahu bahwa Anda pernah menikah secara fakta, tetapi Anda tidak akan pernah lagi merasakan getaran cinta, haru, atau kebahagiaan dari hari itu."

Lihat selengkapnya