Memoria Exchange

Andi Hasna
Chapter #4

#4

Perjalanan pulang dari Jakarta ke Bekasi terasa seperti merayap di dalam peti mati yang pengap. Hujan gerimis membasahi kaca taksi online, mengaburkan pandangan Syamira ke jalan tol yang padat. Di kursi depan, Ibu duduk kaku, sesekali melirik jam tangannya dengan gestur jengkel, seolah waktu yang ia habiskan di rumah sakit saraf tadi adalah sebuah pemborosan besar.

Tidak ada simpati. Tidak ada kebingungan di wajah Ibu. Hanya ada kekosongan yang diisi oleh rasionalitas yang dingin.

Setibanya di rumah, rutinitas sore berjalan dengan canggung. Ibu langsung pergi ke dapur, menyiapkan makan malam hanya untuk tiga orang. Ia menyisihkan satu piring kosong di ujung meja, tidak menawarinya kepada Syamira, namun juga tidak secara eksplisit mengusirnya. Bagi Ibu, Syamira kini hanyalah anomali di ruangannya—seorang tamu tak diundang yang entah mengapa anak-anaknya biarkan tinggal.

Syamira masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia berdiri di depan cermin kecil yang menempel di lemari pakaiannya. Bayangan yang terpantul di sana adalah seorang wanita muda dengan kantung mata hitam, rambut berantakan, dan bahu yang merosot kalah. Hatinya masih hancur, tetapi air matanya telah mengering.

Kata-kata Dr. Hermawan kembali menggema di kepalanya. Otak ibu kalian seratus persen sehat.

Syamira membasuh wajahnya dengan air dingin dari botol minumnya. Ia menatap lekat-lekat pantulan dirinya di cermin. Sebagai calon dokter, ia diajarkan untuk mencari sumber infeksi, bukan sekadar mengobati gejalanya. Menangis dan meratapi nasib tidak akan mengembalikan ibunya. Berperan sebagai korban hanya akan mempercepat keruntuhan keluarganya. Jika ilmu kedokteran tidak bisa menjawab, maka ia harus menggunakan metode lain.

Ia harus berhenti menjadi keluarga pasien dan mulai menjadi penyidik atas tragedi keluarganya sendiri.

Malam merangkak pelan. Pukul dua dini hari, rumah di Bekasi itu akhirnya tenggelam dalam keheningan total. Suara dengkuran halus Said terdengar samar dari kamar sebelah. Syamira membuka pintu kamarnya tanpa suara. Ia berjalan mengendap-endap dengan kaus kaki agar langkahnya di lantai keramik tidak memantulkan gema.

Targetnya satu: Kamar Ibu.

Pintu kamar Ibu tidak dikunci—kebiasaan lama sejak Ayah meninggal, agar anak-anaknya bisa masuk kapan saja jika mereka bermimpi buruk. Syamira mendorong pintu kayu itu perlahan. Engselnya berderit sangat pelan, nyaris tak terdengar.

Di atas ranjang, Ibu tertidur menyamping, memeluk guling yang sudah kempis. Napasnya teratur. Ruangan itu berbau kapur barus, minyak kayu putih, dan wangi bedak tabur yang sudah bertahun-tahun tak diganti mereknya. Semuanya terasa begitu familiar, sangat kontras dengan kenyataan bahwa wanita yang tidur di sana telah berubah menjadi cangkang kosong.

Mata Syamira langsung tertuju pada meja rias di sudut ruangan. Laci paling bawahnya sedikit terbuka.

Dengan tangan bergetar, Syamira berjongkok di depan meja rias. Ia menarik laci itu perlahan. Di bawah tumpukan kain sarung dan dokumen-dokumen lama, ia menemukan dua benda yang ia cari: Buku jurnal bersampul kulit hitam tebal dan sebuah kotak kecil berbahan beludru biru gelap.

Syamira meraih keduanya, mendekapnya di dada seperti memegang bom waktu, lalu menyelinap keluar, kembali ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat.

*

Di atas meja belajarnya, di bawah sorot lampu belajar yang temaram, Syamira meletakkan kedua benda tersebut. Ia menatap kotak beludru biru itu terlebih dahulu. Logo perak cetak timbul di atasnya—dua garis melengkung yang berpotongan menyerupai simbol infinity—terlihat sangat elegan sekaligus mengancam.

Syamira membuka kotak itu. Di dalamnya tidak ada perhiasan. Hanya ada sebuah kartu logam hitam matte seukuran kartu kredit yang terasa berat dan dingin, serta sebuah modul flash-drive kecil dengan pemindai sidik jari. Di bagian belakang kartu logam itu, terdapat Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan sebuah alamat situs web di bawahnya: exchange.memoria-corp.net/client-portal.

Dunia Memoria mulai menunjukkan wujud aslinya. Ini bukan sekadar klinik aborsi ingatan di gang kumuh. Ini adalah sebuah sistem. Sebuah institusi finansial, korporasi berskala besar yang mengemas dan memperdagangkan memori manusia dengan balutan teknologi tingkat tinggi dan protokol kemewahan.

Syamira menyingkirkan kartu itu sejenak. Jantungnya berdegup kencang saat ia beralih pada buku jurnal kulit hitam.

Ia menyentuh sampulnya yang dingin, lalu perlahan membuka halaman pertama. Tanggal yang tertera di sana adalah tiga bulan yang lalu—tepat di masa-masa ketika Syamira nyaris putus asa karena tunggakan UKT untuk masuk ke semester koasnya.

Di bawah tanggal itu, tertulis sebuah paragraf dengan tulisan tangan Ibu yang luwes, sedikit miring ke kanan, dan ditekan cukup dalam ke atas kertas, seolah setiap kata ditulis sambil menahan tangis.

Untuk diriku di masa depan.

Hari ini aku menjual kebahagiaan pertamaku. Maafkan aku karena kamu tidak akan lagi bisa merasakan hangatnya kulit bayi Syamira saat ia diletakkan di dadamu. Aku menukarnya dengan masa depan gadis kecil kita. Tolong, saat kamu membaca ini nanti, meskipun hatimu terasa hampa saat menatap mata Syamira, percayalah bahwa kamu sangat, sangat menyayanginya. Jangan pernah hentikan transfer uang untuk kuliahnya. Anak itu memegang cita-cita lamamu dan ia adalah jantungmu, meskipun kamu tidak bisa merasakannya lagi berdetak. Ia yang membersamaimu bertumbuh menjadi seorang ibu yang bertanggung jawab dan penuh kasih sayang sampai saat ini. Ia selalu membuka pintu maafnya untuk semua kekuranganmu selama mendidiknya.

Syamira tidak sanggup menahan tangisnya. Air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah. Namun Syamira berusaha sekuat mungkin untuk menahan isaknya. Ia tidak mau mengundang Saskiya atau Said datang kepadanya. Dada kirinya terasa seperti dihantam balok beton.

Ia membaca ulang paragraf itu. Sekali lagi. Dan sekali lagi.

Air mata yang tadinya hanya membasahi pipi, kini jatuh menetes ke atas meja kayu. Tangannya meremas ujung kausnya dengan kuat, berusaha menahan suara isakan agar tidak membangunkan seisi rumah.

Tuhan... Ibu.

Lihat selengkapnya