Layar laptop itu memancarkan pendar hijau redup yang menerangi wajah pucat Syamira di tengah gulita kamar. Angka digital di sudut kanan bawah menunjukkan pukul 03:15 pagi, namun bagi Syamira, waktu seolah berhenti berdetak sejak ia membaca baris peringatan berwarna merah tersebut.
Jadwal Ekstraksi Baru Dikonfirmasi. Pukul 08:30 WIB. Klaster Memori Anak Kedua.
Syamira masih duduk mematung. Jari-jarinya melayang kaku di atas keyboard. Otaknya, yang biasanya mampu menganalisis gejala klinis terumit sekalipun dalam hitungan detik, kini mengalami kelumpuhan total. Target emosionalnya tertahan di satu titik yang menyiksa: ia akhirnya tahu apa yang merenggut ibunya, ia tahu siapa pelakunya, tetapi ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
Empat belas pembeli. Empat belas kepingan memori yang tersebar. Dan kini, Memoria Exchange kembali membuka rahangnya untuk menelan ingatan tentang Saskiya. Skala musuh yang dihadapinya terlalu masif. Ini bukan penyakit yang bisa disembuhkan dengan antibiotik atau sayatan pisau bedah. Ini adalah institusi korporat bernilai miliaran rupiah yang mengeksploitasi keputusasaan dengan sangat sistematis.
Namun, saat bayangan ibunya yang berbaring di atas meja operasi mesin pengekstraksi itu melintas di kepalanya, kelumpuhan Syamira perlahan mencair. Kengerian itu bermutasi menjadi adrenalin murni yang panas dan membakar. Ia mencabut flash-drive berlogo infinity itu, meraih jurnal hitam tebal yang tergeletak di lantai, dan bergegas keluar kamar. Ia tidak bisa menanggung beban ini sendirian. Sudah saatnya ia berhenti meratapi nasib sebagai korban, dan mulai menyusun garis pertahanan.
Syamira menyeberangi lorong, berhenti di depan pintu kamar Saskiya, lalu mengetuknya dengan ritme cepat dan pelan. “Sas. Buka.”
Terdengar bunyi gemerisik dari dalam. Pintu terbuka setengah, menampakkan wajah Saskiya yang berkerut menahan kantuk. “Kak Syamira? Ada apa jam segini? Besok aku ada kelas pagi…”
“Bangunin Said,” potong Syamira dengan nada suara yang membuat Saskiya seketika sadar sepenuhnya. “Bawa dia ke kamarmu. Jangan sampai bersuara dan membangunkan Ibu. Sekarang.”
Melihat tatapan mata kakaknya yang tajam dan nyaris putus asa, Saskiya tidak membantah. Lima menit kemudian, ketiga bersaudara itu duduk melingkar di atas karpet bulu di kamar Saskiya. Said yang baru berusia lima belas tahun masih mengucek matanya yang merah, mengenakan kaus oblong kedodoran.
Syamira meletakkan jurnal hitam dan kotak beludru biru di tengah-tengah mereka. Tanpa basa-basi, ia mulai menceritakan segalanya. Dimulai dari diagnosis dr. Hermawan di rumah sakit, anomali kognitif Ibu, hingga penemuannya malam ini mengenai Memoria Exchange.
Keheningan yang mencekik menguasai kamar itu saat Syamira selesai bicara. Saskiya menatap kakaknya dengan mulut setengah terbuka, sementara Said memeluk lututnya dengan wajah pucat pasi.
“Kakak bercanda, kan?” suara Saskiya bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. “Ini nggak lucu, Kak. Ini... ini sci-fi. Ini fiksi ilmiah! Mana ada teknologi yang bisa nyedot ingatan manusia terus dijual?!”
“Kamu pikir aku mau percaya ini?!” Syamira menaikkan nada suaranya sebelum buru-buru menahannya lagi. Ia menunjuk jurnal hitam itu. “Baca sendiri, Sas. Baca tulisan Ibu. Baca bagaimana Ibu menghitung harga setiap kenangan yang ia jual, dan membaginya untuk membayar UKT-ku, tunggakan sekolah Sami, dan biaya alat lukismu!”
Saskiya menarik jurnal itu dengan tangan gemetar. Ia membuka halaman pertama, membaca kalimat demi kalimat yang ditulis ibunya tiga bulan lalu. Air mata mulai menetes membasahi pipinya. Ia membalik halaman demi halaman. Sebagai seorang seniman yang peka terhadap ekspresi, Saskiya langsung menyadari apa yang Syamira temukan: ada kematian emosi di setiap goresan pena tersebut. Tulisan yang awalnya puitis dan penuh kasih, perlahan berubah menjadi instruksi dingin layaknya robot yang sedang memprogram dirinya sendiri.
“Kenapa…” Saskiya mendongak, menatap Syamira dengan kemarahan yang meluap dari rasa sakit yang tak tertahankan. “Kenapa Kakak baru kasih tahu kami sekarang?! Kenapa Kakak diam saja saat Ibu mulai bertingkah aneh seminggu terakhir?!”
“Karena aku sendiri baru tahu malam ini, Sas!” balas Syamira, suaranya pecah menahan tangis. “Aku pikir Ibu demensia! Aku pikir itu salahku karena terlalu sibuk koas sampai tidak memperhatikan kesehatannya! Kamu pikir aku tidak hancur membaca bahwa ibuku sendiri lupa padaku karena ia menjual kenangannya demi membiayai pendidikanku?!”
Pertengkaran tertahan itu diinterupsi oleh suara isakan pelan. Said, si bungsu yang biasanya selalu ceria dan banyak tingkah, kini menangis tersedu-sedu sambil menyembunyikan wajahnya di balik lengannya.
“Kak…” suara Said terdengar sangat rapuh, kepolosan remajanya hancur pada detik itu juga. "Berarti... berarti Ibu rela lupa sama kita? Ibu lebih milih uang daripada ingat sama anaknya sendiri?"
Mendengar pertanyaan itu, dada Syamira terasa seperti ditikam dari dalam. Ia beringsut maju, memeluk bahu adiknya erat-erat. Saskiya pun ikut memeluk Said, menumpahkan tangisannya di bahu adiknya.
“Tidak, Dek. Bukan begitu,” bisik Syamira tegas di telinga adiknya. “Ibu melakukan ini justru karena dia sangat menyayangi kita. Ibu tahu rumah ini nyaris disita. Ibu tahu kita tidak punya siapa-siapa lagi sejak Ayah meninggal. Bagi Ibu, mengorbankan separuh jiwanya lebih baik daripada melihat masa depan kita hancur. Ibu adalah martir, Sami. Ibu mengorbankan dirinya sendiri.”
Saskiya menghapus air matanya dengan kasar, meninggalkan noda kemerahan di pipinya. “Lalu sekarang apa, Kak? Di halaman terakhir ini Ibu bilang dia mau jual aku besok pagi. Itu artinya... hari ini. Tiga jam lagi! Aku nggak mau Ibu lupa namaku! Pameranku bisa kubatalkan! Aku bisa jualan lukisan di jalan! Kita harus bilang ke Ibu kalau aku nggak butuh uangnya!”
“Itu masalahnya, Sas,” Syamira menatap adiknya dengan sorot mata suram yang mematikan. “Konflik kita sekarang bukan sekadar perusahaan Memoria. Konflik kita adalah Ibu.”
Saskiya mengerutkan kening. “Maksud Kakak?”
“Ibu yang sekarang lagi tidur di kamar seberang bukan Ibu yang nulis halaman pertama jurnal itu,” jelas Syamira getir. “Bagian otak Ibu yang bisa ngerasain empati, kompromi, dan cinta yang tulus ke aku udah diangkat. Yang tersisa di kepala Ibu sekarang cuma kewajiban. Di mata Ibu, membiayai pameran kamu bukan bentuk kasih sayang yang bisa dinegosiasi, melainkan sebuah variabel mutlak yang harus dipenuhi. Ibu merasa dia melakukan hal yang benar. Kita tidak bisa berdebat dengan mesin."
Said mendongak. “Jadi... kita nggak bisa menghentikan Ibu?”
“Kita bisa,” desis Syamira, rahangnya terkatup rapat. “Tapi kita tidak bisa melakukannya dengan memohon. Kita harus memaksanya.”
Di bawah pendar lampu kamar yang temaram, ketiga bersaudara itu saling bertatapan. Di detik itulah, dinamika mereka berubah. Mereka bukan lagi sekumpulan anak yang kehilangan arah; mereka bertransformasi menjadi satu unit pertahanan. Sebuah tim yang dipersatukan oleh satu tujuan absolut: menyelamatkan sisa jiwa ibu mereka, apa pun risikonya.
Pukul 05:00 pagi. Langit di luar masih gelap, gerimis tipis menyapu atap genting, namun di dalam rumah, operasi pencegatan telah dimulai.
Terdengar suara derit ranjang dari kamar utama, menandakan Ibu telah bangun. Syamira memberikan isyarat tangan. Ketiga bersaudara itu menyebar seperti bayangan.