Perjalanan kereta Commuter Line dari Bekasi menuju Stasiun Sudirman pada pagi yang basah itu terasa seperti sebuah parade panjang menuju tiang gantungan.
Di dalam gerbong wanita yang berdesakan oleh lautan pekerja komuter—yang aroma tubuhnya bercampur dengan bau payung basah, kopi murahan, dan pendingin ruangan yang kelebihan beban—Ibu duduk tegak seperti sebuah arca batu. Matanya menatap kosong ke luar jendela yang buram oleh rintik gerimis, mengabaikan pantulan wajahnya sendiri yang pucat pasi. Tangan kanannya yang terluka akibat menghantam gembok disembunyikan di pangkuan, ditutupi oleh tas imitasinya yang sudah mengelupas. Darah segar yang sempat menetes kini mulai mengering, meninggalkan jejak kehitaman yang kontras dengan kulitnya yang keriput, menodai ujung lengan blus batiknya.
Tiga gerbong di belakangnya, terhimpit di antara belasan punggung orang asing, Syamira, Saskiya, dan Said berdiri berdesakan. Tangan Syamira mencengkeram besi pegangan erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, sementara matanya tak sedetik pun lepas mengawasi pintu penghubung antargerbong. Suara gemuruh roda kereta yang bergesekan dengan rel baja terasa seperti derak mesin raksasa yang sedang menggiling kewarasan mereka. Mereka tidak berani mendekat. Menyentuh Ibu dalam mode "kewajiban" ini sama saja dengan memicu algoritma pertahanan yang bisa berujung pada cedera fisik yang lebih parah.
“Kak, tangan Ibu berdarah terus,” bisik Saskiya di telinga Syamira. Suara adiknya bergetar hebat, nyaris tenggelam oleh suara pengumuman stasiun dari pelantang suara kereta. “Gimana kalau infeksi? Gimana kalau Ibu tetanus?”
Syamira menelan ludah, rasa pahit sisa kopi semalam menggores tenggorokannya. Mata klinisnya menatap nanar ke arah gerbong depan, mencoba mengalkulasi waktu koagulasi darah dari jarak jauh.
“Itu cuma luka fisik, Sas,” jawab Syamira, suaranya parau namun dipaksakan setegar karang. “Cuma robekan epidermis dan kapiler. Aku bisa bersihin dan jahit tangannya nanti. Tapi apa yang akan mereka lakukan pada kepala Ibu di Sudirman nanti... itu yang tidak bisa kujahit. Kita harus fokus pada otaknya, bukan tangannya.”
Said yang berdiri terjepit di antara dua kakaknya, hanya bisa menunduk menatap ujung sepatunya yang basah. Bau karat dari rel kereta menguar setiap kali pintu gerbong terbuka, menyadarkan remaja itu bahwa dunia yang ia kenal sedang runtuh berkeping-keping.
Setibanya di Stasiun Sudirman, udara Jakarta menyambut mereka dengan embusan angin dingin dan sisa gerimis yang menempel di kulit seperti jarum-jarum es. Ketiganya membuntuti Ibu dari jarak belasan meter. Ibu berjalan dengan ritme yang terlalu konstan, terlalu presisi untuk seorang wanita paruh baya yang tangannya sedang berdarah. Langkahnya menyusuri trotoar licin tanpa keraguan, membelah kerumunan pejalan kaki berpayung dengan kepastian yang mengerikan menuju sebuah gedung pencakar langit berlapis kaca gelap.
Gedung itu menjulang angkuh, membelah awan kelabu Jakarta seperti pedang raksasa.
Menara Elysium.
Syamira mendongak, menyipitkan mata menahan tetesan hujan. Jantungnya berdegup gila-gilaan, memompa adrenalin bercampur rasa horor. Tidak ada plang menyeramkan berlambang tengkorak, tidak ada kesan pasar gelap berbau amis darah. Ini adalah pusat distrik finansial, denyut nadi kapitalisme ibu kota. Gedung ini dihuni oleh bank-bank multinasional, firma hukum ternama yang mematok tarif ribuan dolar per jam, dan perusahaan teknologi elit.
Syamira menyadari satu hal yang membuat perutnya mual: Memoria Exchange tidak bersembunyi di gorong-gorong kumuh. Mereka bersembunyi di tempat paling terang, berlindung dengan aman di balik bayang-bayang kapitalisme yang sah.
Ibu melangkah melewati pintu kaca putar raksasa tanpa menoleh sedikitpun. Syamira langsung memberi isyarat pada kedua adiknya untuk setengah berlari menembus tirai gerimis.
Namun, saat mereka berhasil menerobos masuk, atmosfer lobi utama langsung membungkam kepanikan mereka. Lantai marmer Italia yang mengkilap memantulkan cahaya dari lampu kristal gantung. Udara di dalam sana terasa sangat steril, disaring oleh sistem filter tingkat tinggi, membawa semerbak aroma kopi espresso arabika dan sentuhan lavender yang menenangkan.
Di ujung lobi, Ibu baru saja melangkah masuk ke dalam sebuah lift khusus yang pintunya berlapis rose gold. Pintu itu bergerak menutup tanpa suara.
“Sial!” umpat Syamira pelan.
Ia berlari melintasi lobi, sol sepatu ketsnya yang basah berdecit kasar di atas marmer. Ia menekan tombol panggil berulang kali, telapak tangannya menampar-nampar panel logam itu. Tidak ada respons. Panel itu berwarna merah mati; lift tersebut membutuhkan kartu akses biometrik khusus.
“Permisi.”
Sebuah suara perempuan, sangat lembut dan dengan intonasi yang diatur sedemikian rupa agar terdengar menyejukkan, menginterupsi kepanikan Syamira.
Syamira menoleh. Di belakang sebuah meja resepsionis panjang yang diukir dari pualam putih tanpa celah, berdiri seorang wanita muda. Seragam blazer kremnya flawless, tanpa seutas benang pun yang keluar jalur. Riasan wajahnya sempurna, dan senyumnya begitu profesional—sebuah senyum yang pasti dipelajari secara khusus di sekolah perhotelan bergengsi untuk memberikan kesan aman, berkelas, sekaligus menjaga jarak absolut.
“Ada yang bisa kami bantu? Akses menuju lift VIP Memoria Exchange memerlukan otentikasi janji temu,” kata resepsionis itu dengan ramah. Tidak ada nada menghakimi, meskipun penampilan Syamira, Saskiya, dan Said yang basah kuyup dan berantakan sangat merusak estetika lobi tersebut.
Syamira melangkah maju mendekati meja pualam itu. Dadanya kembang kempis. Logika penyusupan ala film aksi yang tadi malam sempat membara di kepalanya menguap begitu saja melihat tingkat keamanan biometrik dan protokol tempat ini. Ia tidak bisa meretas masuk. Ia tidak bisa menendang pintu baja. Ia harus menghadapi sistem ini dari pintu depannya.
“Wanita yang baru saja naik,” kata Syamira, mencengkeram tepi meja pualam itu. Ia berusaha keras menekan suaranya agar tidak bergetar, mencoba menggunakan otoritasnya sebagai calon dokter. “Dia klien kalian. Andi Hasna. Hentikan liftnya sekarang. Hentikan prosedur apa pun yang akan kalian lakukan padanya pagi ini.”
Resepsionis itu tidak berkedip. Jari-jarinya yang lentik dengan kuku terpoles kuteks berwarna nude mengetuk sesuatu di atas layar sentuh transparan yang tertanam di mejanya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan riak kepanikan.
“Maaf,” ucap resepsionis itu, senyumnya tidak memudar satu milimeter pun. “Klien kami, Nyonya Andi Hasna, saat ini sudah tiba dan sedang menjalani proses appraisal di lantai empat puluh dua bersama konsultan utama kami. Prosedur tidak bisa diinterupsi karena beliau sudah masuk ke tahap stabilisasi gelombang otak. Interupsi mendadak dapat membahayakan fungsi saraf klien.”
“Dia ibu saya!” bentak Syamira. Kesabarannya meledak. Suaranya menggema keras, memantul di dinding pualam lobi yang sepi. Saskiya dan Said buru-buru mendekat, merapat di belakang kakak mereka dengan wajah ketakutan, seperti anak ayam yang berlindung dari elang. “Kalian sedang mengeksploitasi wanita sakit! Dia tidak tahu apa yang dia lakukan! Dia berjalan kemari dengan tangan berdarah, demi Tuhan!”
Mata resepsionis itu menatap Syamira lamat-lamat, lalu beralih menyapu wajah Saskiya yang basah oleh air mata dan Sami yang pucat pasi. Alih-alih memanggil petugas keamanan untuk mengusir pembuat onar, wanita itu justru menghela napas pelan. Sebuah desahan simpatik yang disimulasikan dengan sangat baik, namun entah mengapa terasa luar biasa merendahkan.
"Kami tahu Anda putrinya, dr. Syamira. Dan Anda pasti Saskiya, dan yang bungsu Said," kata resepsionis itu dengan nada menenangkan.