Memoria Exchange

Andi Hasna
Chapter #7

#7

Satu pekan telah berlalu sejak eksistensi Saskiya resmi dihapus dari memori kenangan ibu. Dan sudah sepekan lebih setiap Syamira pulang, disambut dengan kerut kebingungan di kening ibu. Meskipun sudah dijelaskan detail kejadian yang menimpa Ibu hingga mulut Syamira dan Saskiya berbusa, ibu hanya menerima saja—seolah menerima cerita dari Syamira dan Saskiya adalah satu-satunya logika yang bisa ia terima.

Dengan menunjukkan segala bukti berupa foto, catatan harian yang ibu tulis, cerita Syamira dan Saskiya terasa masuk akal. Sehingga ibu melanjutkan hidupnya di rumah tersebut sepert sebuah kebiasaan yang tidak bisa ia tinggalkan bergitu saja.

Dampak dari ekstraksi kedua itu jauh lebih senyap, namun memancarkan aura kematian kasih sayang seorang ibu. Rumah tidak lagi diwarnai bunyi gemerincing kuas yang dibilas di dalam gelas kaca, atau bau tajam cat minyak yang biasanya menguar dari kamar Saskiya. Tidak ada lagi teguran bernada hangat saat Saskiya menumpahkan air di karpet. Di mata Ibu, Saskiya kini benar-benar telah menyusul Syamira; menjadi sekadar deretan "Anak Kedua" dalam daftar kewajiban finansial. Sebuah entitas tak kasatmata yang bergerak bak hantu di dalam rumah, bernapas di udara yang sama, namun kehilangan ruh keintimannya.

Sore itu, langit Jakarta kembali menumpahkan gerimis yang meresahkan. Syamira duduk di balik kaca sebuah kedai kopi di seberang pintu masuk Menara Elysium. Di hadapannya, secangkir americano yang saat ia pesan dalam keadaan panas, kini telah mendingin. Saat Syamira menyesapnya, rasa asam dan pahit kopi itu menempel di lidahnya. Ujung jemarinya menekan permukaan kaca jendela yang dingin dan berembun, sementara matanya menatap pantulan wajahnya sendiri: kulit yang memucat dan kantung mata kehitaman yang menggantung seperti bayangan memar.

Selama berhari-hari sepulang dari shift koas, telinganya diredam oleh dengung suara mesin pembuat kopi dan obrolan sayup pengunjung kedai, sementara matanya terkunci pada lobi utama gedung pencakar langit di seberang jalan. Ia mencoba mencari pola, menanti kelemahan, menguliti celah apa pun yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan Memoria Exchange.

Namun, alih-alih menemukan monster, pengamatannya sore ini justru memaksanya menelan pil realita yang mengoyak tenggorokan.

Pintu kaca putar Menara Elysium bergerak lambat. Seorang wanita muda, usianya mungkin seumuran Syamira, melangkah keluar. Syamira sudah memperhatikan sosok itu tiga hari terakhir. Pakaian wanita itu selalu tampak sederhana. Tiga hari juga Syamira menangkap gestur ketakutan dan tidak nyaman dari wanita itu.

Namun kali ini lebih parah. Rambutnya berantakan. Saat berhasil keluar dari pintu kaca putar, ia menatap langit dan menutup wajahnya dengan telapak tangan.

Tepat ketika sepatu wanita itu bergesekan dengan trotoar basah, lututnya kehilangan daya dan ia ambruk ke atas genangan air.

Naluri medis Syamira langsung mengambil alih. Ia menyambar jaket waterproof-nya yang agak lembap, berlari menembus hujan menyeberangi jalan. Aroma petrikor aspal yang basah bercampur dengan bau asap knalpot menyengat hidungnya. Ia takut wanita itu mengalami sinkop atau kolaps akibat efek samping prosedur pengambilan memori.

“Mbak! Mbak nggak apa-apa?” Syamira berlutut di atas genangan air kotor, mengabaikan dingin yang merembes ke celana jinnya. Tangannya mencengkeram bahu wanita itu. Kulit di balik baju tipis itu terasa dingin dan bergetar hebat. “Saya dokter. Apa yang Mbak rasain? Pusing? Mual?”

Wanita itu mendongak. Wajahnya basah oleh campuran air hujan dan air mata yang asin. Namun, apa yang ditangkap oleh mata Syamira bukanlah kilat kesakitan. Wajah itu memancarkan euforia yang begitu masif, sebuah kelegaan ekstrem yang membuat Syamira mengembuskan napas lega. Wanita itu mencengkeram lengan Syamira dengan kuku-kukunya. Napasnya memburu beradu dengan gemericik hujan, bibirnya melengkung membentuk senyum yang lebar, patah, dan gemetar.

“Dia hilang,” lirih wanita itu, suaranya parau dan serak oleh isakan kebahagiaan. “Wajah pamanku... bau napasnya yang busuk di kamarku saat aku berumur sepuluh tahun... kasarnya sentuhan tangannya di kulitku... semuanya hilang. Kosong.”

Syamira membeku. Darahnya serasa berhenti mengalir. Tangannya yang memegang bahu wanita itu seketika terasa kebas. Bau hujan mendadak terasa menyesakkan.

“Aku menjualnya,” wanita itu tertawa kecil di tengah tangisnya, menengadah menatap langit kelabu Jakarta seolah awan mendung itu adalah kanvas terindah yang pernah ia lihat. “Mereka bilang ada penulis skenario thriller yang butuh emosi trauma asli untuk karyanya, dan dia berani bayar mahal. Aku tidak peduli pada uangnya. Aku tidak peduli siapa bajingan yang akan memakainya. Yang penting kotoran itu sudah keluar dari kepalaku.”

Wanita itu menatap Syamira. Di tengah hujan, mata wanita itu bersinar begitu terang, memancarkan binar kehidupan yang baru saja dilahirkan kembali dari kuburnya. “Malam ini untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku akan merasakan tidur dengan tenang tanpa perlu menyalakan semua lampu.”

Syamira perlahan melepaskan pegangannya. Telapak tangannya terasa hampa saat membiarkan wanita itu berdiri sendiri, memanggil taksi dengan langkah yang terlihat ringan—berbeda dengan tiga hari terakhir—seolah gravitasi bumi tidak lagi mampu menahannya menginjak bumi.

Syamira berdiri terpaku di tempatnya. Tetesan hujan yang tajam memukul-mukul pipinya, mendinginkan kulitnya yang tiba-tiba terasa terbakar. Dunia di sekelilingnya—klakson mobil, gemuruh mesin, dan suara air hujan —mendadak senyap, tenggelam oleh detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang di telinga. Pikirannya berputar liar.

Di kepala Syamira, Memoria Exchange merupakan sebuah praktik pejagalan kenangan. Tetapi bagi wanita tadi, tempat ini beraroma pembebasan. Syamira teringat deretan teks di jurnal medis tentang tingkat bunuh diri akibat PTSD. Tiba-tiba segalanya masuk akal. Memoria tidak hanya memanen manisnya cinta; mereka juga mengisap racun dari mimpi buruk.

Mungkin bagi seorang veteran perang yang telinganya setiap malam masih berdenging mendengar suara ledakan sisa pertempuran, Memoria adalah obat penawar bius yang tak bisa diresepkan psikiater mana pun. Mungkin bagi seorang ayah yang setiap kali memejamkan mata selalu melihat darah anaknya yang tewas dalam kecelakaan, teknologi ini adalah tombol reset yang mematikan rasa sakit yang menggerogoti dagingnya.

Realitas ini menghantam Syamira lebih keras dari tamparan fisik. Mulutnya mengecap rasa besi dari darah yang mengalir di bibirnya akibat ia gigit terlalu keras. Memoria ternyata tidak sepenuhnya hitam.

Jika teknologi ini hanya dipakai untuk mengeksploitasi kemiskinan dan mencuri kehangatan cinta dari kaum kelas bawah seperti ibunya, sangat mudah bagi Syamira untuk melabeli mereka sebagai ‘penjahat’ dan mencari bukti kejahatan lainnya. Tetapi, jika mesin biologi yang sama mampu membersihkan nanah trauma yang mematikan, menghentikan jeritan tengah malam, dan menanamkan napas kehidupan bagi orang-orang yang hancur, maka kompas moral Syamira berputar tak tentu arah ke area abu-abu.

Teknologinya netral. Ia sedingin dan setajam pisau bedah dari logam tahan karat. Di tangan seorang dokter bedah, pisau itu bisa mengangkat tumor dan menyelamatkan nyawa. Namun, di tangan seorang psikopat, pisau itu merobek dada siapa saja. Yang busuk berbau bangkai bukanlah alatnya, melainkan sistem eksploitatif yang melegalkannya.

Syamira menyadari satu hal yang absolut sore itu, menembus kabut hujan yang membutakan: Ia tidak bisa menghancurkan Memoria Exchange. Jika ia menghancurkan sistem itu, ia akan menutup rapat pintu keselamatan bagi ribuan korban trauma yang sangat membutuhkan mesin tersebut. Ia tidak bisa menyelamatkan keluarganya dengan membiarkan keluarga lain membusuk dalam penderitaan.

Napas Syamira berembus perlahan, membentuk uap tipis di udara dingin. Misinya kini berubah. Bukan lagi menjadi pahlawan yang meruntuhkan kastil, melainkan menyusup bagai pemburu dalam gelap. Ia akan meretas dan merampas kembali, secara presisi, hanya milik ibunya.

*

Waktu yang sama, lantai 32 Menara Elysium

Jauh di atas trotoar yang basah, tepatnya di lantai tiga puluh dua Menara Elysium, udara terasa sangat steril dan hampa. Ruangan pusat kontrol keamanan itu dipenuhi pendar kebiruan dari puluhan layar monitor raksasa yang menutupi seluruh dinding. Di tengah keheningan yang hanya dipecahkan oleh dengung konstan pendingin ruangan, Aris berdiri dengan kedua tangan bertumpu di atas meja konsol. Matanya yang tajam dan kalkulatif bergerak menyapu rekaman CCTV dari seluruh sisi gedung dan jalan raya di sekitarnya.

Satu jam lalu seorang staf keamanan memberitahunya tentang keberadaan seorang wanita yang mengawasi Menara Elysium di kedai kopi seberang. Para staf keamanan sudah memperhatikan wanita itu sudah datang tiga hari belakangan.

Fokus Aris terpaku pada satu layar di sudut kiri atas, yang ditunjuk oleh staf keamanan saat ia datang lima menit lalu. Kamera beresolusi tinggi itu menyorot langsung ke arah kedai kopi di seberang jalan. Melalui layar itu, ia melihat sosok wanita berjaket belel baru saja melangkah keluar menembus gerimis. Aris mengenali postur dan wajah itu seketika. Ingatannya pada dokumen profil biologis dan latar belakang setiap pendonor bekerja bak mesin. Ia menggeser jari telunjuknya di layar sentuh, memperbesar tangkapan gambar hingga wajah Syamira memenuhi monitor.

Seorang staf keamanan berseragam gelap melangkah mendekat, menyadari kejanggalan pada fokus atasannya. Ia ikut menatap layar yang menampilkan wajah lelah Syamira. “Perlu kita laporkan kepada tim security di bawah agar segera diurus?” tanya petugas itu dengan nada wapada.

Aris tidak langsung menjawab. Ia terus mengamati Syamira melalui lensa kamera, menelaah kilat arti di balik langkah gontai calon dokter tersebut. Perlahan, Aris menggelengkan kepalanya. “Tidak,” jawab Aris pelan.

Lihat selengkapnya