Memoria Exchange

Andi Hasna
Chapter #8

#8

Panas terik matahari Jakarta membakar aspal perumahan Bukit Golf, Pondok Indah. Panasnya berhasil membakar kulit Syamira. Udara terasa tebal dan mencekik, beraroma debu kering dan aspal. Di bawah bayangan pohon trembesi raksasa yang daunnya bergesekan ditiup angin panas, Syamira duduk di atas jok motor matic kesayangannya. Keringat menetes dari balik helm half-face yang sengaja tidak ia lepas, mengalir menuruni pelipisnya yang berdenyut.

Matanya, yang terasa perih karena kurang tidur dan silau matahari, terkunci pada sebuah gerbang besi tempa setinggi tiga meter di seberang jalan.

Itu adalah kediaman Aline Sastrawidjaja.

Selama dua hari terakhir, Syamira membolos dari jadwal persiapan OSCE-nya demi menjadikan trotoar ini sebagai pos pengintaian. Ia datang dengan satu tujuan yang membakar dadanya: mencari kelemahan Aline. Ia ingin menguliti rutinitas sang miliarder, menemukan celah keamanan, atau setidaknya memetakan kelemahan fisik wanita itu untuk merampas kembali memori ibunya.

Namun dalam tiga hari, dari balik kaca helmnya, Syamira tidak melihat sosok penjahat kartel yang dikelilingi puluhan penjaga bersenjata.

Rumah bergaya mediterania itu memang luar biasa megah, memancarkan bau uang lama dan kemewahan absolut, tetapi rumah itu terasa mati. Sangat sepi. Hanya ada seorang tukang kebun yang sesekali menyiram rumput dalam kebisuan, dan seorang sopir pribadi berbaju safari yang rajin memoles bodi mobil Toyota Alphard hitam di garasi. Tidak ada suara tawa, tidak ada tamu yang datang berkunjung. Rumah itu lebih menyerupai mausoleum indah daripada tempat tinggal.

Pukul sepuluh pagi, gerbang besi itu berderit terbuka. Mobil Alphard hitam meluncur mulus keluar. Syamira segera menyalakan mesin motornya, getaran mesin murahan itu merambat ke kedua telapak tangannya. Ia menjaga jarak sekitar tiga puluh meter, membuntuti mobil mewah itu membelah kemacetan Jakarta Selatan.

Aline Sastrawidjaja memiliki rutinitas yang monoton. Kemarin, Syamira mengikutinya ke sebuah rumah sakit khusus perempuan kelas atas. Hari ini, mobil itu berbelok memasuki pelataran mal premium.

Syamira memarkir motornya, melepas helm, dan mengusap wajahnya yang lengket. Bau knalpot dan parfum murah bercampur di bajunya. Ia segera berlari kecil memasuki mal, disambut oleh embusan udara pendingin ruangan yang sedingin es dan aroma diffuser lavender yang menyengat hidung.

Ia menemukan sosok Aline melangkah pelan di lantai dua. Untuk pertama kalinya, Syamira bisa melihat wanita itu dari jarak yang cukup dekat.

Aline mengenakan gaun sutra berwarna krem yang jatuh sempurna menutupi tubuhnya, dipadukan dengan tas Hermès di lengan. Namun, kemewahan itu gagal menyembunyikan kerapuhan fisiknya. Tulang selangkanya menonjol tajam di balik kerah bajunya. Kulitnya pucat, dan meski ditutupi kacamata hitam berbingkai besar, Syamira bisa melihat lekukan pipi yang cekung. Aline berjalan diiringi seorang asisten wanita berpakaian rapi, melangkah gontai seolah gravitasi bumi menariknya terlalu kuat.

Aline berbelok memasuki sebuah toko buku impor yang sepi. Syamira ikut masuk, menjaga jarak dengan berpura-pura membaca sinopsis novel di rak depan. Telinganya menangkap suara alunan musik instrumental lembut dan gesekan kertas. Aroma buku baru yang khas—campuran pulp kayu dan tinta cetak—memenuhi rongga dadanya.

Dari celah rak buku, mata Syamira mengamati Aline. Sang miliarder tidak berjalan ke bagian bisnis, arsitektur, atau fiksi populer. Ia melangkah lurus menuju sudut yang dipenuhi karpet warna-warni dan rak kayu yang lebih rendah: bagian buku cerita anak dan bayi.

Syamira mengerutkan kening. Insting medisnya mulai bekerja, merangkai teka-teki visual di depannya.

Aline berhenti di depan rak berisi buku-buku bantal bergambar hewan. Tangan wanita itu, yang dihiasi cincin berlian berkilau, terulur pelan. Jemarinya yang kurus dan sedikit bergetar menyentuh permukaan buku dongeng pengantar tidur. Ia membelai sampul buku itu dengan kelembutan yang menyayat hati, seolah ia sedang menyentuh pipi seorang bayi.

Tiba-tiba, suara derai tawa balita memecah kesunyian toko. Seorang ibu muda melangkah melewati lorong itu sambil menggandeng anak perempuannya yang sedang berceloteh riang memegang boneka beruang.

Syamira melihat perubahan itu secara real-time.

Saat tawa anak itu terdengar, tubuh Aline tersentak hebat seolah baru saja disengat arus listrik. Buku cerita di tangannya nyaris jatuh. Aline mundur dua langkah, punggungnya menabrak rak di belakangnya hingga menimbulkan bunyi gedebuk pelan. Kacamata hitamnya sedikit melorot, memperlihatkan mata yang seketika dipenuhi genangan air mata. Tangannya mencengkeram kain sutra di dadanya, tepat di atas jantung, meremasnya seakan ada sesuatu yang merobek organ di dalamnya. Ekspresi wajah wanita itu adalah manifestasi dari kepedihan murni. Kepedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya.

Syamira terpaku di balik raknya, napasnya tertahan di tenggorokan.

Kenapa? Batin Syamira bingung.

Jika Memoria Exchange menjual ingatan Firstborn Absolute Bond—kenangan absolut tentang kelahiran, tentang lonjakan hormon cinta, tentang kebahagiaan mendekap bayi untuk pertama kalinya—mengapa Aline tidak terlihat bahagia? Jika ia sudah membeli dan menanamkan memori kasih sayang ibunya, mengapa sosok miliarder ini masih terlihat seperti seseorang yang sedang berkabung tanpa henti?

Kebencian di dada Syamira mendadak retak. Persepsi hitam-putih yang selama ini ia bangun hancur. Aline bukanlah sosok pencuri tamak yang sedang bersenang-senang menikmati barang rampasan. Wanita ini sedang kesakitan. Sangat kesakitan.

Beberapa menit kemudian, Aline yang tampak kehabisan tenaga keluar dari toko buku, dibimbing oleh asistennya menuju sebuah kafe eksklusif bernuansa temaram di sudut mal.

Syamira mengikuti mereka, memesan secangkir espresso pahit, dan duduk di meja yang terhalang pilar beton berhias tanaman hias rambat, hanya terpisah jarak dua meja dari Aline. Suara gemerincing sendok perak yang mengaduk cangkir teh terdengar dari meja sang miliarder.

Syamira memejamkan mata, memfokuskan pendengarannya untuk menyaring suara bising musik kafe.

Di sana, ia melihat Aline meletakkan sesuatu di atas meja. Sebuah bingkai foto kecil berukir perak. Dari tempatnya duduk, Syamira tidak bisa melihat gambar di dalamnya, tetapi ia bisa melihat tangan Aline terus-menerus mengusap kaca bingkai itu dengan jari telunjuknya.

“Nyonya,” terdengar suara asistennya, penuh kehati-hatian. “Nyonya harus meminum obat penstabil sarafnya. Prosedur dari Memoria minggu lalu masih membebani sinapsis Nyonya.”


Lihat selengkapnya