Udara sore di pelataran klinik Pondok Indah itu mendadak terasa hampa, seolah oksigen baru saja tersedot habis ke hamparan awan mendung di atas sana.
Pernyataan Syamira menggantung di antara mereka, tajam mengoyak udara yang berbau campuran disinfektan rumah sakit dan parfum vanilla mahal yang menguar dari tubuh Aline Sastrawidjaja. Di ujung lidahnya, Syamira mengecap rasa besi; ia menggigit bibir dalamnya terlalu keras karena tegang hingga berdarah.
Mata Aline yang biasanya memancarkan arogansi seorang miliarder kini melebar, dipenuhi teror yang membingungkan. Jari-jemarinya yang berhias cincin berlian bergetar hebat, mencengkeram kerah gaun sutranya sendiri hingga kusut. Syamira bisa mendengar suara napas wanita paruh baya itu memburu, beradu dengan deru halus mesin mobil Alphard hitam di belakangnya.
“Syamira…” Aline menggumamkan nama itu. Suaranya pecah, bergetar menyedihkan.
Saat nama itu terucap, tubuh Aline mencondong ke depan. Tangannya perlahan terulur ke udara.
“Saya tidak tahu kenapa setiap melihat wajah kamu…” bisik Aline, matanya memerah dan berkaca-kaca menatap Syamira. Wanita itu menelan ludah dengan susah payah. “...saya ingin memeluk kamu.”
Naluri pertahanan Syamira mengambil alih. Ia mundur selangkah.
Melihat penolakan itu, pertahanan Aline runtuh. Air matanya tumpah merusak riasan mahalnya. Aline menarik tangannya kembali dan memukul dadanya sendiri dengan putus asa.
“Dan itu yang paling menakutkan,” isak Aline, suaranya dipenuhi kepedihan yang murni dan menyayat hati. Ia menatap Syamira dari balik pandangan yang buram oleh air mata. “Karena saya tahu Anda bukan anak saya.”
Asisten Aline berusaha memegangi lengan majikannya, namun Aline menepisnya. Penderitaan Aline bukanlah kebohongan. Ia adalah sandera dari sebuah memori yang salah tempat. Syamira menelan ludah, rasa darah di mulutnya berbaur dengan empedu yang naik ke kerongkongan. Amarah yang membawanya jauh-jauh ke Pondok Indah perlahan memudar, digantikan oleh simpati yang membingungkan.
“Kembalikan memori itu,” ucap Syamira pelan, meremas tali tasnya. “Memori itu menyiksa Anda, dan ibu saya membutuhkannya. Kita bisa kembali ke Menara Elysium. Mungkin kita bisa meminta mereka mengekstraknya lagi.”
Aline tertawa getir di sela isakannya. Ia menatap Syamira dengan pandangan nanar.
“Katakanlah itu bisa dilakukan,” desis Aline, menyeka air matanya dengan punggung tangan yang gemetar. “Katakanlah mereka bisa membelah kepalaku dan merampas kenangan itu kembali. Bagaimana kalau ibu kamu melihat kamu besok... lalu tahu bahwa kamu anaknya, tetapi tidak merasakan apa-apa?”
Aline menatap tepat ke dalam mata Syamira, melemparkan sebuah pertanyaan yang membekukan darah Syamira. “Apakah kamu lebih memilih itu daripada keadaan sekarang?”
Sebuah mobil berhenti di sisi mereka. Asisten Aline tidak membuang waktu lagi. Ia setengah menarik majikannya yang hancur itu masuk ke dalam mobil. Syamira terlalu terpana untuk bergerak. Isi kepalanya bahkan terlalu kosong untuk melakukan apapun.
Pintu mobil itu menutup, memutus pandangan Syamira dengan Aline. Ban mobil yang dinaiki Aline berdecit di atas aspal, meninggalkan Syamira yang berdiri mematung di pelataran klinik, ditemani rintik gerimis pertama yang jatuh.
*
Hujan menderas lima menit kemudian. Tapi hal itu tidak menghentikan keinginan Syamira untuk membelah hujan dan menuju halte di seberang klinik tempatnya berdiri. Mungkin ia butuh hujan itu untuk mengguyur kepalanya—berharap dengan begitu, ia bisa sekaligus membersihkan isi otaknya.
Air hujan yang dingin merembes menembus kemejanya, membuat kulitnya merinding. Aroma tanah basah bercampur debu aspal dan asap knalpot memenuhi rongga dadanya setiap kali ia menarik napas. Ia menengadah, mengecap tetesan air hujan yang tawar dan dingin di bibirnya, mencoba mendinginkan otaknya yang mendidih.
Suara derau hujan yang menghantam atap seng halte membuat halte sangat bising, meskipun hanya ada Syamira di sana. Di tengah kebisingan seng tersebut, indra pendengaran Syamira menangkap suara langkah sepatu pantofel yang mendekat. Teratur. Tenang.
Syamira menoleh. Dari balik tirai hujan kelabu, seorang pria dengan payung hitam dan setelan jas rapi melangkah masuk ke halte. Pria itu menutup payungnya, mengibaskan sisa air, lalu menyodorkan sebuah gelas berisi kopi panas yang baru dibelinya dari mesin penjual otomatis ke arah Syamira.
“Untuk menghangatkan tangan, dr. Syamira,” ucap pria itu. Suara baritonnya mengalun tenang.
Syamira menegang. Ia mengenali suara pria di depannya. Matanya menyipit, tapi ia tidak mengenali wajah pria ini. Seketika otaknya memutar seluruh ingatan yang ia punya dan seperti pencarian yang menemukan hasil, Syamira langsung terkesiap. Itu adalah suara pria di dalam rekaman video consent ibunya saat menyetujui donor memori.
“Nama saya Aris. Konsultan senior di Memoria Exchange.” Pria itu memperkenalkan diri—sebelum Syamira sempat angkat bicara. Dan karena Syamira tidak mengambil kopi yang Aris sodorkan, ia berinisiatif meletakkan gelas kopi panas itu di atas bangku besi—tepat di sisi Syamira.