Memoria Exchange

Andi Hasna
Chapter #10

#10

Sinar matahari pagi menembus celah gorden tipis di jendela dapur, melukis garis-garis keemasan berdebu yang melayang menari di atas lantai linoleum rumah Bekasi yang kusam. Udara pagi itu terasa tebal dan pekat, membawa aroma kuat dari minyak goreng yang dipanaskan, berpadu dengan bau tajam bawang putih cincang yang mendesis keras di atas wajan besi hitam.

Syamira berdiri diam di ambang pintu dapur. Ubin keramik yang dingin merambat naik melalui telapak kakinya yang telanjang, mengirimkan sensasi menggigil yang menjalar hingga ke tengkuk. Biasanya, pemandangan di hadapannya ini—punggung ibunya yang sedikit melengkung dalam balutan daster pudar di depan kompor—akan memicu gelombang kerinduan yang menyiksa dada. Biasanya, dalam skenario masa lalu yang kini telah raib diperjualbelikan, Syamira akan berdehem pelan. Lalu Ibu akan menoleh dengan senyum hangat yang membuat kerutan di sudut matanya terlihat, menyapanya dengan sebutan 'Anak sulungku yang paling cantik', dan memastikan apakah ia tidur nyenyak setelah berjam-jam berjibaku dengan shift jaga malam di IGD.

Namun pagi ini, Syamira menelan ekspektasi itu bulat-bulat. Kerongkongannya terasa kering. Ia menarik napas perlahan, membiarkan aroma gurih telur dadar dan bawang putih memenuhi paru-parunya, lalu melangkah masuk ke wilayah kekuasaan ibunya.

Bunyi desis minyak yang berisik menyambutnya. Ibu tidak menoleh. Tangan wanita paruh baya itu bergerak kaku dan luar biasa presisi. Ia membalik telur dadar di wajan dengan spatula kayu tanpa sedikit pun keraguan, seolah ia adalah mesin perakit di pabrik yang sudah memprogram kalibrasi gerakannya.

"Telur?" tanya Ibu tiba-tiba. Suaranya datar, monoton, memotong suara desis wajan tanpa intonasi. Persis seperti seorang pramusaji restoran cepat saji yang sedang mengonfirmasi pesanan pelanggan asing di jam sibuk.

Syamira terdiam sebentar. Matanya menatap lekat-lekat bahu ibunya yang bergerak naik turun mengikuti irama napas. Beberapa hari lalu, sebelum pertemuannya dengan Aline dan Aris di bawah guyuran hujan Pondok Indah, sapaan tanpa nyawa seperti ini akan membuat dada Syamira sesak, mengundang air mata kekecewaan untuk turun. Tapi hari ini, Syamira memejamkan mata sejenak, menata hatinya. Ia memaksa otot bibirnya melengkung, membentuk senyum tipis yang tulus. Ia harus berhenti menggali kuburan masa lalu.

"Iya, Bu. Terima kasih," jawab Syamira tenang, suaranya mengalun lembut.

Ibu hanya mengangguk patah-patah. Tidak ada momen sentimental. Tidak ada usapan lembut di punggung atau belaian di rambut yang berantakan. Ibu mengangkat wajan, lalu menyodorkan piring keramik putih berisi telur dadar panas itu ke atas meja makan. Kekakuan dan ketiadaan emosi itu, anehnya, justru membentur kesadaran Syamira dengan cara yang melegakan; ia akhirnya menerima kenyataan absolut bahwa jika ia ingin ibunya kembali, ia tidak bisa terus-menerus memanggil hantu dari masa lalu. Ia harus berkenalan ulang dengan wanita asing yang berdiri di depannya sekarang.

Seiring berjalannya pagi, rumah itu mulai bernapas dengan ritme yang ganjil namun konstan. Syamira duduk di kursi kayu meja makan yang sedikit berderit, memotong telur dadarnya dengan garpu. Ia mengunyah perlahan. Teksturnya renyah dan kecokelatan di bagian tepi, namun lembut dan setengah matang di bagian tengah—tingkat kematangan yang selalu ia sukai sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Dari sudut matanya, ia melihat Ibu mondar-mandir mempersiapkan pagi keluarga itu. Ibu melangkah ke dekat rak buku, lalu meletakkan sebotol vitamin C cair tepat di sebelah tas ransel kanvas milik Saskiya—botol kuning yang selalu Saskiya lupakan jika tidak ditaruh tepat di depan matanya. Tak lama kemudian, Ibu menyalakan kompor air. Bau tajam dan wangi pekat dari bubuk kopi robusta murahan yang diseduh air mendidih seketika mengusir sisa kantuk Syamira, meresap ke dalam pori-pori ruangan.

Ibu meletakkan cangkir porselen putih—yang sedikit retak di bagian ujung gagangnya—ke hadapan Syamira. Bunyi benturan keramik dan kayu meja terdengar pelan, klak.

Syamira mengangkat cangkir itu dengan kedua tangan. Hawa panasnya menjalar menembus porselen, menghangatkan telapak tangannya yang selalu dingin di pagi hari. Ia meniup uap tipis yang mengepul, lalu menyesapnya. Cairan hitam pekat itu menyentuh lidahnya. Ada rasa pahit yang menendang kuat, diimbangi oleh jejak rasa manis yang sangat tipis di akhir sesapan. Sempurna. Itu adalah takaran spesifik yang selalu ia minum sejak ia mulai begadang mati-matian untuk ujian masuk fakultas kedokteran bertahun-tahun lalu. Hanya setengah sendok teh gula pasir. Tidak lebih, tidak kurang.

Syamira menurunkan cangkirnya, menatap ibunya yang sedang mengelap sisa air di meja dapur dengan kain lap lembap. Gerakan Ibu sangat teratur, membersihkan noda berulang kali di titik yang sama.

"Ibu kok tahu aku suka kopi begini?" tanya Syamira pelan, memecah keheningan yang hanya diisi oleh detak jam dinding.

Gerakan tangan Ibu terhenti di udara. Kain lap itu mengambang di atas meja. Kening Ibu berkerut samar, menciptakan garis-garis halus di antara kedua alisnya. Matanya yang kosong beralih menatap stoples gula pasir dari kaca yang tutupnya berkarat dan isinya tinggal separuh.

"Saya tidak tahu," jawab Ibu dengan nada bingung yang tulus. Tangan Ibu yang memegang lap tampak sedikit bergetar, seolah sistem kognitifnya sedang mengalami korsleting ringan saat mencoba mencari data yang tidak ada di server otaknya. "Tapi... saat saya memegang sendok tadi, tangan saya hanya mengambil gula setengah sendok. Otak saya menghitung satu sendok penuh sebagai standar rasa manis, tapi otot lengan saya menolak mengambil lebih dari setengah."

Ibu berbalik dan kembali berjalan cepat ke arah wastafel, seolah percakapan itu adalah error sistem yang harus segera ia abaikan.

Di sudut meja, Syamira menatap punggung berbalut daster itu dengan dada yang bergemuruh riuh. Ingatan deklaratif ibunya—kenangan tentang nama, peristiwa, rasa haru, dan alasan di balik segalanya—telah dicabut paksa dan dijual ke Memoria Exchange. Tetapi memori prosedural—ingatan otot dan naluri repetitif dari rutinitas belasan tahun merawat anak-anaknya—ternyata tertanam terlalu dalam di sumsum tulang ibunya. Mesin di Sudirman itu bisa menyedot memori, tetapi gagal mencabut insting. Kasih sayang ibunya tidak lenyap; ia hanya kehilangan kamus bahasanya.

Satu jam kemudian, saat Syamira beranjak menuju pintu depan, merapikan tali sepatunya untuk bersiap berangkat ke rumah sakit, ia merasakan sesuatu yang keras dan dingin menyentuh betis kanannya. Ia menunduk. Gagang kayu melengkung dari sebuah payung panjang sengaja disandarkan Ibu di dekat rak sepatunya.

"Bawa," suara Ibu terdengar menggema dari arah ruang tengah, diiringi bunyi televisi yang menyiarkan berita pagi. "Awan kumulonimbus terpantau sangat pekat di ufuk barat. Barometer menunjukkan tekanan rendah. Kelembapan udara tinggi. Probabilitas presipitasi sembilan puluh persen."

Syamira menggenggam gagang payung yang dingin dan halus itu, mengusap kayunya dengan ibu jari. Ia tersenyum kecil, matanya berkaca-kaca menatap awan mendung di luar pintu. Bahasa ibunya mungkin telah berubah menjadi laporan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, tetapi bagi Syamira, maknanya tetap sama: Ibu tidak ingin kau kehujanan di jalan, Nduk.

Sore merangkak menjadi malam, membawa serta prediksi cuaca Ibu menjadi kenyataan. Hujan deras mengguyur atap seng sejak siang, menyisakan hawa dingin yang menusuk pori-pori kulit. Di ruang makan, lampu neon putih berdengung pelan, memancarkan cahaya yang membuat segalanya terlihat sedikit lebih pucat. Meja makan kecil mereka kini dipenuhi mangkuk berisi sayur asem yang asapnya masih mengepul, piring berisi ikan asin goreng yang berbau tajam menggugah selera, dan cobek tanah liat berisi sambal terasi merah menyala.

Malam itu, atas inisiatif dan desakan Syamira, mereka berempat duduk mengelilingi meja yang sama. Sebuah usaha putus asa namun penuh harapan untuk membuat "kenangan baru", membangun fondasi dari puing-puing keluarga mereka.

Suasana awalnya terasa sangat kaku dan mencekik. Bunyi denting sendok stainless steel yang beradu dengan piring keramik terdengar terlalu nyaring. Saskiya mengunyah makanannya dengan kepala tertunduk, matanya tak berani menatap ke seberang meja. Sementara Said sesekali melirik ke arah Ibu yang makan dengan postur tegak lurus bak prajurit militer, mengunyah ikan asinnya dengan ritme hitungan yang presisi. Syamira merasakan kuah sayur asem yang merica dan pedasnya pas itu menghangatkan kerongkongannya, namun ketegangan di udara membuat perutnya terasa melilit mual.

Tiba-tiba, ritme mengunyah Ibu berhenti. Sendoknya diletakkan perlahan. Matanya yang dingin dan analitis menyapu wajah ketiga anak di sekelilingnya, berpindah dari Syamira, ke Saskiya, lalu ke Said.

"Kita..." Ibu menjeda kalimatnya, keningnya sedikit berkerut menatap formasi piring-piring yang tersusun rapi membentuk lingkaran. "Kita biasanya makan bersama seperti ini dalam satu meja?"

Saskiya mengangkat wajahnya lambat-lambat. Matanya yang lelah berkaca-kaca memantulkan cahaya pendar lampu neon. "Dulu hampir setiap malam, Bu. Ibu selalu yang selesai masak paling terakhir, lalu kita rebutan lauk, dan Ibu yang selalu mengalah makan sisanya."

Ibu menatap Saskiya selama beberapa detik. Ia mengangguk pelan. Ekspresinya tetap datar. Tidak ada otot wajah yang bergerak menahan tangis. "Oh."

Kata singkat itu memukul udara hingga kembali hening, seolah mematikan saklar mesin. Tidak ada air mata haru dari Ibu. Tidak ada deklarasi penyesalan. Syamira menelan ludah, merasakan gigitan kekecewaan merambat di tengkuknya, sedingin udara hujan di luar.

Namun, beberapa menit kemudian, saat Said dengan ragu-ragu mengambil potongan ikan asin terakhir dengan garpunya, Ibu meletakkan gelas air putihnya. Bunyi klak pelan memecah kesunyian yang membeku.

"Kalau begitu," ucap Ibu, matanya menatap piringnya sendiri yang sudah kosong dan bersih. "Mulai besok kita siapkan piring lebih awal di atas meja. Kita makan bersama lagi."

Sederhana. Terlalu sederhana. Tanpa intonasi berlebihan, tanpa drama opera sabun. Tetapi bagi Syamira, sebaris kalimat itu mengalir seperti air hangat yang membasuh luka bernanahnya. Itu adalah sebuah janji komitmen.

Namun, penerimaan bukanlah garis lurus di atas grafik pasien. Kesembuhan emosional selalu memiliki jebakannya sendiri, siap menerkam saat pertahanan mulai diturunkan.

Lihat selengkapnya