Memoria Exchange

Andi Hasna
Chapter #11

#11

Untuk mengembangkan Bab 11 ini menjadi narasi yang mendalam dan mencapai target panjang yang diinginkan, kita perlu memperluas aspek psikologis, deskripsi latar, dan kontemplasi batin Syamira. Pengembangan ini akan berfokus pada detail "perang batin" Syamira sebelum mengambil keputusan, serta pendalaman suasana rumah yang kini menjadi "ruang tunggu" bagi hubungan baru mereka.

Gedung Menara Elysium berdiri dengan megah, membelah langit Jakarta yang hari itu tampak pucat, seolah semesta sendiri sedang menahan napas. Di balik dinding kaca antipelurunya, denyut kapitalisme emosi berdetak tanpa henti, sebuah mesin raksasa yang tidak peduli pada badai kecil yang berkecamuk di kepala manusia-manusia di luar sana. Bagi gedung ini, air mata hanyalah variabel data, dan kenangan hanyalah komoditas yang bisa dilikuidasi.

Syamira melangkah masuk ke dalam lobi berlantai marmer Italia yang beraroma lavender dan espresso . Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dibandingkan hari pertamanya datang ke tempat ini dengan sejuta amarah yang membakar dada. Saat itu, ia adalah mangsa yang tersesat. Hari ini, ia adalah saksi yang telah menanggalkan ilusi. Tidak ada lagi kepalan tangan yang gemetar di dalam saku jaketnya, tidak ada lagi napas yang memburu karena cemas. Yang ada hanyalah keheningan—sebuah ketenangan yang didapat dari penerimaan bahwa dunia memang tidak pernah adil, dan kadang, kita harus berhenti melawan arus untuk sekadar bisa bernapas.

Lift khusus dengan pintu berlapis rose gold membawa Syamira melesat ke lantai empat puluh dua. Pintu terbuka, menyambutnya dengan karpet tebal yang meredam setiap langkah kakinya.

Aris menyambutnya di ruang konsultan yang temaram dan tenang. Pria berjas rapi itu tidak terlihat terkejut dengan kedatangan Syamira. Ia justru menyambutnya seperti seorang kawan lama yang sedang menunggu giliran untuk diskusi filosofis. Aris mempersilakan Syamira duduk di sofa kulit yang empuk, lalu meletakkan sebuah tablet tipis di atas meja kaca. Di layar tablet itu, tertera berkas otorisasi untuk prosedur Replikasi Engram Sekunder—sebuah jalan pintas bagi Syamira untuk mendapatkan kembali seluruh kepingan memori ibunya yang telah hilang.

"Tim bedah saraf kami sudah menyiapkan salinan dari file fail-safe server lokal," ucap Aris dengan nada profesionalnya yang khas, tanpa sedikit pun celah keraguan. "Prosedur ini bisa mengembalikan memori Nyonya Andi Hasna sepenuhnya. Ibu Anda akan mengingat hari ulang tahun Anda, hari pertama Anda masuk kedokteran, dan semua kehangatan masa lalu yang Anda rindukan. Ini adalah salinan murni dari engram yang ia jual tiga bulan lalu."

Syamira menatap layar itu lekat-lekat. Angka-angka parameter biologis, grafik gelombang otak yang stabil, dan diagram saraf berkedip pelan. Godaan itu begitu besar, merayap masuk ke saraf-sarafnya. Rindu di dadanya meronta-ronta, membisikkan janji manis tentang pelukan Ibu yang dulu, tentang suara tawa saat mereka makan malam bersama, tentang rasa aman yang selama ini dirampas oleh mesin-mesin dingin milik korporasi ini.

Aris menatapnya dengan pandangan menilai, seolah sedang membaca isi kepala Syamira layaknya buku terbuka. "Anda hanya perlu menyetujuinya, Dokter. Satu ketukan jari, dan semuanya bisa kembali seperti semula. Anda akan mendapatkan Ibu Anda yang lama kembali."

Syamira terdiam cukup lama. Ruangan itu begitu hening hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, sebuah ritme kehidupan yang anehnya, terasa sangat nyata di tengah dunia yang palsu ini. Ia menelan ludah. Ada ribuan kenangan yang ingin ia raih kembali, namun setiap kali ia mencoba membayangkan masa lalu itu, bayangan Ibu yang sedang menyisir rambut Saskiya dengan penuh kehati-hatian muncul di benaknya. Ibu yang, meskipun lupa, tetap berusaha belajar menjadi orang tua yang baik.

Ia mengangkat pandangannya, menatap Aris lurus-lurus.

"Saya ingin ibu saya kembali," ucap Syamira pelan namun tegas.

Aris mengangguk kecil, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Kalau begitu, lakukan prosedurnya. Otoritas sudah ada di tangan Anda."

Syamira terdiam sejenak. Ada jeda yang berat, sebuah kekosongan yang membentang di antara mereka, sebelum ia menggelengkan kepalanya perlahan. Keputusan itu tidak jatuh begitu saja; keputusan itu adalah hasil dari ribuan jam renungan di ruang IGD, di halte bus, dan di ruang makan rumahnya yang sepi.

"Bukan," kata Syamira, suaranya kini tenang tanpa keraguan, jernih seperti air yang mengalir. "Saya ingin ibu saya. Bukan ingatannya."

Aris mengerutkan kening, sedikit terkejut oleh jawaban yang di luar prediksinya. Ia melepas kacamata peraknya. "Anda menolak? Padahal Anda tahu konsekuensinya—ibu Anda selamanya tidak akan pernah mengingat masa lalu kalian. Memori prosedural yang ia miliki sekarang hanyalah sisa-sisa insting. Tanpa restorasi ini, sejarah kalian akan hilang selamanya."

Syamira menarik napas panjang, meresapi beban dari kalimat yang akan ia ucapkan. "Saya masih ingin semuanya kembali. Saya rindu cara Ibu memanggil nama saya, saya rindu pelukannya, saya rindu detail-detail masa lalu kami. Tapi... saya tidak ingin mendapatkan masa lalu dengan mengorbankan masa kini. Ibu sedang berusaha membangun dirinya yang baru. Jika saya memaksakan masa lalu itu masuk ke kepalanya, saya khawatir saya akan membunuh sosok Ibu yang sekarang sedang belajar mencintai saya dengan cara yang berbeda."

Aris tertegun. Ia bersandar di kursi mahalnya, menatap wanita muda di hadapannya dengan sudut pandang yang sepenuhnya bergeser. Pria itu menatap Syamira bukan lagi sebagai klien, melainkan sebagai seseorang yang telah menemukan kedewasaan di tempat yang paling gelap.

Pria itu tersenyum pahit, sebuah senyum langka yang menanggalkan topeng korporatnya. "Anda tahu apa yang paling aneh dari pekerjaan kami, Dokter?"

Syamira menatapnya dengan rasa ingin tahu. "Apa?"

"Selama ini kami mengira orang datang ke sini untuk menjual kenangan karena mereka ingin melupakannya," gumam Aris pelan, menerawang jauh ke balik jendela kaca yang menampilkan cakrawala Jakarta. "Ternyata, sebagian besar datang karena mereka tidak tahu bagaimana hidup bersama kenangan itu. Mereka merasa kenangan itu adalah beban yang tak sanggup mereka pikul."

Syamira mengangguk kecil, membiarkan kenangan tentang perjuangan ibunya melintas di benaknya. Ia tidak lagi menghakimi ibunya. Ia akhirnya mengerti bahwa menjual memori adalah bentuk cinta yang menyakitkan, sebuah pengorbanan yang tidak ingin ia sia-siakan dengan memaksakan kehendaknya sendiri.

Lihat selengkapnya