Di bandara Soekarno Hatta, terlihat dua orang remaja tengah mencari seseorang dan setelah menemukan apa yang keduanya cari. Mereka berjalan dan menghampirinya.
"Ayah," panggil salah satu remaja yang membuat lelaki yang di panggil ayah itu tersenyum ke arahnya. Dia sangat senang saat sang anak menyetujui ajakannya.
"akhirnya kalian sampai juga, kenapa lama sekali?" herannya yang membuat sang anak memutar bola matanya malas.
"Oh, ayolah Ayah. Kita dari Amerika itu membutuhkan waktu 28 jam. Jadi wajar jika lama, lagipula Ayah tidak mungkin menunggu kedatangan kita selama itu, kan?" tanya remaja laki-laki yang membuat laki-laki paru baya itu berdeham sebentar.
"Yeah, begitu lah," balasnya apa adanya yang membuat sang anak menatap kesal ke arah.
"Sudah simpan rasa kesalmu itu, kita segera ke mobil. Aku sudah tidak sabar untuk segera tidur," lerai remaja lainnya.
"Haya," rengek remaja laki-laki itu merasa tidak terima. Sedangkan sang ayah hanya bisa menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah anak laki-laki itu.
"Sain, kau sudah besar. Tidak usah merengek seperti itu sama adikmu. Sangat tidak enak untuk dilihat," cibirnya yang membuat lelaki bernama Sain itu menatap sang ayah tak percaya.
"Ayah, kau...."
"Syuuut tidak perlu banyak bicara kak. Ayah, ayo kita ke mobil. Jangan meladeni kak Sain terus," potong Haya yang membuat Sain menatap kesal ke arahnya.
Pada akhirnya Sain memilih untuk mengalah, lagi pula dia tidak bisa mengalahkan adiknya itu, baik dalam berdebat atau dalam mengurus perusahaan.
Tidak ada perdebatan lagi di antara keduanya membuat sang ayah tersenyum tipis melihatnya. Maklum kedua orang ini memang selalu seperti kucing dan tikus. Tiada hari tanpa berdebat yang membuatnya pusing sendiri untuk melerai perdebatan keduanya.
Haya, Sain dan Danuel. Ketiganya berjalan menuju ke sebuah mobil keluarga yang tengah terparkir apik di parkiran bandara. Sesampainya disamping mobil Haya, langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kopernya begitu saja. Sedangkan Sain hanya bisa menghela napas sabar dan menyimpan koper sang adik ke dalam bagasi mobil, kemudian menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk bersebelahan dengan sang adik. Sedangkan ayah mereka duduk di bangku depan yang berdekatan dengan sopir keluarga mereka.
"Ayo, jalan," perintah Danuel yang langsung dilaksanakan oleh sang sopir dan kita panggil saja pak Bagas.
Mobil itu melaju membelah Kota Jakarta dan gadis itu memandangi Kota Jakarta yang ternyata sangat indah. Dia baru pertamakalinya menginjakkan kakinya di Negara ini yang ternyata pemandangan nya lumayan indah dan bahkan begitu tentram dari tempatnya dulu. Selama ini dia dibesarkan di New York.
"Bagaimana menurutmu Jakarta?" tanya sang kakak yang masih fokus dengan ponselnya.
"Cukup menakjubkan seperti yang kakak bilang," jawabnya disertai dengan senyuman manisnya.
"Syukurlah kalau kau suka dan mulai besok, kau akan satu kampus dengan kakak."
"Aku tau," jawabnya pendek.