Memulai Dari Selesai

Dandelion Archive
Chapter #1

Ini Pantas Aku Syukuri

“Raka ayo makan. Makan yang banyak biar cepat besar”, itu suara nenekku. Mengapa aku aku seperti kembali ke masa lalu? Tidak, aku bisa melihat diriku versi kecil dan nenekku ada disana. Ini di rumah nenek. Mungkinkah sebelum aku mati sungguhan, otakku sedang mengingat masa paling indah selama hidupku? Kata orang sebelum meninggal otak manusia punya waktu 7 menit untuk mengingat kenangan terindah sepanjang hidup. Aku Raka Hardianta dan aku mengenal diriku sebagai orang yang sangat tidak beruntung dalam banyak hal. Aku sangat kecewa pada dunia dan karena aku tidak keluar dari kekecewaan itu, aku mengecewakan Tuhan. Aku menyimak, peristiwa dulu dan ternyata seharusnya aku memiliki alasan untuk bersyukur.

Nenek menyuapiku dengan sabar.

“Aaaaaaa ammmm”

“Nyam nyam nyam. Nenek, kapan ibu Laka pulang?”, diriku versi kecil itu menanyakan ibu.

“Nanti kalau Raka jadi anak yang baik, anak pintar ibumu pasti pulang ya. Sekarang sama nenek dulu, jangan nakal. Sebentar lagi kita akan pergi ke rumah paman Kius, nanti jangan cengeng disana ya. Sebentar lagi kamu akan punya adik. Kamu senang kan?”, kata nenek antusias sambil terus menyuapiku.

“Baik nenek, Laka tidak akan nakal supaya ibu pulang. Setelah aku makan, kita langsung ke lumah paman Kius?”

“Ya, setelah makan dan mandi kita ke rumah paman Kius”, nenek sambil tersenyum mengusap rambutku.

Aku melihat diriku makan dengan cepat, mulutku sangat penuh sembari dengan semangat mengunyah. Oh, Raka kecil ternyata sepolos ini. Dia mungkin belum tahu apa yang akan dia alami di masa depan. Dari matanya terlihat cahaya tulus penuh harapan sebentar lagi dia akan memiliki seorang adik, temannya bermain. Dia tidak akan kesepian lagi selama menunggu ibunya atau selama menunggu nenek berjualan.

Aku berkedip dan entah bagaimana aku sudah berada di sebuah rumah sakit. Oh semasa hidupku aku bahkan tidak tahu ada rumah sakit ini di kota Arlando, tempat kelahiran ibuku ini. Hari ini memang tidak ada dalam ingatan sadarku, tapi mungkin ini adalah hari menjelang kelahiran adik sepupuku Senja Jinggaraya anak paman Kius yang tumbuh bersamaku. Aku melihat paman Kius dengan wajah harap-harap cemas berdiri di depan sebuah ruangan. Sementara nenek duduk di kursi tunggu sambil memangkuku. Aku mengerti bahwa saat ini di dalam sana bibiku dan Senja Jinggaraya sedang berjuang. Apa yang Tuhan kehendaki sehingga membawaku ke masa ini? Tapi baiklah, mari ikuti saja alurnya, aku juga sedikit penasaran.

“Duduklah Kius, tenangkan dirimu. Kau sudah bolak balik lebih dari 20 kali”, nenek akhirnya menggangu paman Kius yang sedari tadi sibuk dengan kecemasannya.

“Bagaimana aku tidak cemas ibu, Kita disini sudah enam hari dan belum lahir juga. Dokter mengatakan bayinya kembar air atau bagaimanalah, aku pun tidak mengerti. Aku sangat takut ibu”.

“Ketakutan tidak membawa hal baik apapun Kius. Hah, beruntung kau tidak diijinkan masuk oleh dokter. Kalau tidak kau pasti sudah membuat keributan”.

“Aku khawatir bu. Ini pertama kalinya untukku”

“Ayahmu dulu mengalaminya sebanyak tujuh kali. Sepertinya dia tidak secemas ini”

“Ayah berbeda dariku Bu. Bisa saja karena sudah sering mengalaminya jadi dia tidak mengalami cemas lagi. Lagi pula, mungkin ibu tidak tahu apa yang dirasakan ayah”

“Ayahmu sangat pintar menyembunyikan perasaannya Kius”.

“Tentu saja, ayah bahkan hanya memarahiku sekli semasa hidupnya”

“Kius, kamu harus ambil waktu tenang agar bisa berdoa. Hanya doa nak yang dapat membuat istrimu, anakmu dan dirimu sendiri bisa melewati segala ketakutan”.

Paman Kius terlihat menghela nafas panjang. Mengalah, lalu duduk. Mungkin dia sedang berdoa dalam hati. Aku tidak menyangka bahwa terjadi kecemasan luar biasa saat Senja lahir. Raka kecil itu, diriku itu terlihat menatap paman Kius dengan iba. Seolah dia ingin beranjak ke pangkuan paman Kius untuk menguatkannya. Aku yang sudah melewati masa depan ingin sekali mengatakan kepada paman Kius “Paman, semua akan baik. Anak yang paman nantikan akan lahir dengan sehat. Namanya Senja Jinggaraya dan dia sangat galak”. Tapi tentu tidak kulakukan, aku bahkan tidak bisa menyentuh pamanku saat ini. Aku ini apa? Hantu?

Dokter terlihat keluar dan menyampaikan kabar bahwa bayi perempuan dengan berat 2,6 kg telah lahir.

“Sudah lahir dengan sehat, bayi perempuan yang sangat cantik. Ibunya juga sehat, silahkan kalau mau dijenguk” kata dokter itu sambil tersenyum.

Raka kecil pasti tidak mengerti namun aku yang sudah besar ini, eh apakah aku masih dapat dikatakan sebagai “seseorang”? Aku tidak yakin, mungkin sekarang aku hanyalah roh yang diberi kesempatan untuk melihat kembali masa lalu. Oh mari kembali lagi ke topic. Berat bayi 2,6 kg itu hanya sedikit saja diatas normal. Senja sejak dulu dijuluki “si kecil” karena badannya memang kecil. Oh aku juga mengingat paman Kius pernah mengatakan bahwa Senja adalah kembar air dan itulah yang tadi dicemaskan oleh paman Kius saat nenek memintanya untuk tenang. Oh semasa hidupku aku tidak kepikiran untuk searching apa maksudnya kembar air. Mengapa saat sudah jadi “hantu” aku malah ingin buka google dan mencari tahu. Oh iya, dimana hpku? Hah, pasti tertinggal ditempat aku dihabisi tadi. Jangankan hpku, aku bahkan tidak tahu tubuhku ada dimana.

Paman Kius dan Nenek sangat bahagia mendengar kabar dari dokter. Mereka bergegas masuk. Paman Kius langsung menghampiri bibi yang masih terlihat sangat kelelahan. Sementara nenek dan aku langsung mendekati perawat yang sedang membersihkan baby Senja.

“Wah cucukuu cantik sekali. Sangat mirip dengan kakak kalian, Lira”, kata nenek sangat terharu. Lira adalah bibiku, kakak pertama ibu, anak pertama nenek. Yang aku tahu bibi Lira sudah lama meninggal. Kalau dari foto, aku sangat mengakui bahwa kemiripan Senja Jinggaraya dan bibi Lira hampir menyentuh 80%.

“Apakah kalian sudah menyiapkan nama untuknya?”, tanya nenek

“Entah bagaimana bisa kebetulan Bu, aku dan kak Kius sudah menyiapkan nama Senja Jinggaraya untuknya, kami tidak sangka bahwa dia benar-benar lahir disaat senja”, bibiku menjawab dengan kekuatan yang sedang dalam pemulihan. Kebahagiaan karena kelahiran putrinya membuat lelahnya hilang seketika.

“Iya, namanya Senja Jinggaraya sesuai waktu lahirnya”, tambah paman Kius.

Lihat selengkapnya