Memulai Dari Selesai

Dandelion Archive
Chapter #2

Dalam Kelam Ini, Masihkah Ada Cahaya?

Aku terampas dari hadapan Raka, Senja dan Ranum kecil. Aku kini mendarat di sebuah tempat yang tidak pernah ingin lagi aku datangi sejak hari dimana aku meninggalkannya. Aku tidak beruntung dalam pendidikan. Oh mungkin aku tidak beruntung dalam segala hal, atau mungkin sebagian besar hal dalam hidup. Keluargaku adalah orang yang sangat mendukung pendidikan. Keluarga yang aku maksud bukan ayan dan ibu kandungku. Namun paman Kius dan bibi juga nenek. Nenek sangat tau bagaimana ambisi Senja Jinggaraya dalam pendidikan. Hal tersebut bahkan sudah dapat diketahui sejak dia masih TK. Aku, tidak. Atau mungkin tidak selihai itu dalam belajar.

Sejak kecil aku cenderung menjadi people pleaser. Aku merasa harus selalu menjadi menyenangkan agar aku bisa diterima. Aku tidak boleh menangis, aku harus selalu bersedia membantu, aku harus tersenyum meskipun aku tidak suka dan aku harus selalu tertawa agar teman-teman tidak menghindariku. Terdengar sangat menyakitkan bukan? Suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang membuatku meninggalkan bangku sekolah sampai hari matiku.

Seorang bapak guru tengah mengajar di kelasku. Dia duduk dibangku guru dan membacakan entah apa. Aku kelas 5 SD. Apalah yang bisa dimengerti oleh anak kelas 5 SD, fatherless, broken home seperti aku.

“RAKA!!!!! Dari tadi kau ketawa ketawa terus. KEDEPAN!!!” dengan kasar guru itu menegurku. Oh ternyata bahkan walaupun aku sudah mati, trauma ini masih nyata. Aku ingat, aku sangat trauma dengan orang ini. Ingin rasanya aku melarikan diri. Tapi aku hanya roh, cahaya itu belum merampasku dari tempat ini.

Raka si kelas 5 SD itu melangkah kedepan. Mungkin tadi dia baru saja bercanda dengan teman sebangkunya. Namun anak-anak biasa bercanda, bukan hanya aku yang bercanda. Banyak anak lain juga bercanda juga.

Guru itu mengambil penggaris kayu dan memukulku.

“Plak”

Suara pukulan itu nyaring, menghantam lengan kiriku.

“Kau sudah bodoh, miskin, masih saja suka bercanda dalam kelas”

“Plakk”

Untuk kedua kalinya, pukulan itu menghantam lengan kiriku.

“Sana duduk, awas aku melihatmu bercanda lagi. Kau akan terima akibatnya”.

Raka kecil itu menangis sambil melangkah menuju bangkunya. Bukan hanya sakit fisik namun sakit hati. Aku yang sudah jadi roh yang melayang layang ini saja masih merasa sakit mendengarnya. Dan ya itu bukan hanya kejadian sekali saja. Entah mengapa aku masih merekam memori itu dalam kepalaku. Sangat detail dan sangat jelas. Hari hari berikutnya guru yang sama menamparku berkali kali, mengataiku bodoh, miskin dan ketika dia menyuruhku ke depan untuk menyelesaikan soal, aku salah lalu dia memakiku lagi. Dia mengatakan aku bodoh sekali karena aku tidak dididik oleh orangtua. Disitulah puncaknya. Aku memang tidak dididik oleh ayah dan ibu kandungku. Tapi aku bersama dengan nenek yang sangat baik, yang mengajariku banyak hal tentang hidup.

Nenek mungkin tidak bisa mengajariku matematika. Tapi nenek selalu mengajariku menjadi anak yang baik. Paman Kius dan paman lainnya juga sama. Tidak pernah sama sekali aku diajarkan yang tidak baik. Bukankah mengajari itu tugas guru? Mengapa guru ini menuntut aku sudah bisa? Bukankah jika seorang murid gagal mengerti itu mengindikasi gurunya gagal dalam menyampaikan ilmu? Entahlah, aku dulu hidup di dunia, dimana guru selalu benar, pasti baik dan layak dihormati. Hari itu aku memutuskan untuk berhenti sekolah. Aku tidak ingin mendatangi tempat yang menghina didikan nenekku.

Lihat selengkapnya