Cahaya itu membawaku ke sebuah rumah sakit lagi. Apakah akhirnya aku akan menemukan tubuhku. Aku masuk ke ruangan terdekat yang bisa aku masuki. Tampak disana diriku, sedang berbaring dan masih sadar. Oh jelas ini adalah kejadian masa lalu juga. Aku belum menemukan tubuhku. Aku ada di hari kecelakaan itu terjadi.
Bertahun-tahun aku bekerja di bengkel. Suatu hari aku mengalami kecelakaan kerja. Ada peralatan kerja yang tersentuh oleh jari tengahku, menyebabkan alat itu meremukkannya. Aku dilarikan kerumah sakit oleh bosku, teman paman Kius. Satu ruas jari tengahku harus diamputasi. Dokter membutuhkan tandatangan keluarga untuk bisa mengambil tindakan. Ini wajar terjadi. Ini sangat sakit tapi bisa-bisanya aku harus menunggu keluarga? Siapa yang bisa datang untuk menjadi waliku? Ayahku? Entahlah sudah cukup lama dari saat itu kami tidak berkomunikasi, tidak pernah dia datang menjengukku. Bertahun-tahun berlalu, dia juga sudah memiliki keluarga baru. Tentu prioritasnya bukan aku. Ibuku? Apalagi. Sejak lama dia juga sudah memiliki keluarga baru dan aku sama sekali tidak ada dalam jajaran prioritasnya.
Paman Kius. Yah, pamanku itu pasti bisa menjadi waliku. Aku segera menyampaikannya kepada bosku.
"Raka, berikan pada paman kontak ayahmu. Dia harus datang untuk menandatangani sesuatu"
“Paman, jangan menghubungi orangtuaku. Apapun yang terjadi padaku, hubungi paman Kius. Beliau dan bibi pasti bersedia untuk segera datang”
“Baik Raka, paman akan segera menghubungi Kius. Kau bersabarlah”
Nada sambung terdengar karena bosku memang memasang pengeras suara. Tidak sampai beberapa detik terdengar jawaban dari sebrang, paman Kius menjawab.
“Kius, Raka. Dia mengalami kecelakaan kerja”.
“Apa!?”
Terdengar nada kejut dari paman Kius. Dia pasti shock mendengarnya disebrang sana. Apalagi ketika menerima kabar kematianku ya.
“Dimana rumah sakitnya, kami segera kesana”
“RSUD, datanglah. Raka harus segera ditangani dan dia membutuhkan tandatangan keluarga”
“Kami akan bergegas”, jawab paman Kius mantap.
Aku tidak tahu paman Kius memacu sepeda motornya dengan kecepatan apa sehingga dia bisa tiba dengan sangat cepat. Dia adalah pengendara yang sangat lihai.
“Bagaimana keadaannya?”, ini adalah pertanyaan panik bibi
“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa begini?”