Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Detik-detik Keputusan

Detik-detik Keputusan yang Mengubah Arah Waktu---

Udara di Laboratorium Kuantum Arkenstone terasa begitu padat, seolah-olah molekul oksigen di ruangan itu ikut menahan napas menyaksikan sejarah yang sedang direkayasa. Jam dinding digital menunjuk tepat pada pukul 02.14 dini hari. Angka-angka merah menyala itu berkedip lambat, menandakan detik-detik terakhir sebelum eksperimen pembalikan linimasa mencapai puncaknya. Di luar gedung, hujan badai mengguyur kota megapolitan dengan ganasnya, menyisakan kilatan petir yang sesekali meretak di balik jendela kaca antipeluru setebal sepuluh sentimeter. Suara gemuruh guntur berpadu dengan dengungan mesin generator kuantum yang berdengung konstan pada frekuensi rendah, menciptakan getaran yang merayap di telapak kaki siapa pun yang berdiri di atas lantai baja berlubang.

Arka berdiri terpaku di depan konsol utama, menatap layar monitor utama yang menampilkan grafik fluktuasi energi merah menyala. Bayangan tubuhnya terpantul buram di permukaan kaca monitor yang luas, memperlihatkan wajah lelah dengan lingkaran hitam di bawah mata, sisa dari berbulan-bulan kurang tidur dan kerja paksa di bawah tekanan lembaga riset nasional. Di sebelah kirinya, sebuah tabung silinder raksasa berisi cairan kriogenik berwarna biru berpendar menerangi sudut ruangan yang remang-remang. Uap dingin mengepul keluar dari katup pelepas tekanan, mendesis pelan setiap kali sistem pendingin menyedot kelembapan udara. Di ruangan itu, tidak ada suara lain selain desisan mesin dan napas berat Arka yang memecah keheningan malam yang panjang.

"Arka, sistem pendingin inti menunjukkan penurunan suhu yang tidak stabil. Jika kita memaksa masuk ke fase sinkronisasi sekarang, risiko destabilisasi matriks waktu akan meningkat tiga puluh persen," suara Maya memecah kesunyian, terdengar melalui interkom dari ruang kendali utama di lantai atas. Suaranya diwarnai oleh keputusasaan yang tertahan, mencerminkan ketakutan yang sama yang dirasakan Arka di dalam lab.

Arka mendekatkan bibirnya ke mikrofon meja, suaranya terdengar serak dan lelah. "Kita tidak punya pilihan lain, Maya. Lembaga riset akan menyita seluruh fasilitas ini besok pagi. Kalau kita tidak membuktikan bahwa teori ini berhasil malam ini juga, semua pengorbanan kita selama lima tahun terakhir akan lenyap begitu saja dalam bentuk dokumen arsip yang dikubur di bawah karpet birokrasi."

"Tapi risikonya terlalu besar, Arka! Kau sedang mempermainkan hukum fisika dasar. Garis waktu bukanlah karet yang bisa ditarik sesuka hati tanpa ada konsekuensi fatal," balas Maya dengan nada tinggi, jelas terbawa emosi.

Arka menghela napas panjang, mencoba meredakan degup jantungnya yang bergemuruh di dada. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar hebat, sebuah efek samping dari paparan radiasi medan magnetik yang diterimanya sepanjang minggu ini. "Aku tahu risikonya, Maya. Aku yang merancang algoritma ini, dan aku juga yang harus menanggung akibatnya jika semuanya gagal."

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arka bukanlah sekadar menciptakan terobosan ilmiah yang akan mencatatkan namanya di buku sejarah atau memenangkan penghargaan bergengsi tingkat global. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, misi ini didorong oleh rasa bersalah yang menghantuinya setiap kali ia memejamkan mata. Tiga tahun lalu, adiknya, Kirana, tewas dalam sebuah kecelakaan tragis di persimpangan jalan raya akibat kelalaian sistem pengereman otomatis yang dikembangkan oleh perusahaan tempat Arka bekerja saat itu. Perusahaan tersebut menutup-nutupi kasus itu demi menjaga reputasi publik, meninggalkan Arka sendirian membawa beban penyesalan karena ia adalah orang yang menandatangani kelayakan sistem tersebut.

Arka menatap foto kecil yang terselip di sudut konsol komputernya—foto Kirana yang sedang tersenyum lebar sambil memegang kamera polaroid. Senyuman itu bagaikan belati tajam yang terus mengoyak nuraninya setiap kali ia teringat bagaimana adiknya berteriak memanggil namanya sebelum truk besar itu menghantam sisi mobil mereka. Dalam benaknya, satu-satunya cara untuk menebus dosa tersebut adalah dengan memutar kembali waktu ke titik sepuluh menit sebelum kecelakaan itu terjadi, lalu memperingatkan Kirana untuk tidak mengambil jalur jalan raya tersebut.

"Aku akan menyelamatkanmu, Kirana," bisik Arka pelan pada foto itu, seolah-olah adiknya benar-benar berdiri di hadapannya saat ini. "Apapun harga yang harus dibayar oleh alam semesta ini, aku akan memastikan kau tetap hidup."

Maya, yang kembali turun ke lantai lab melalui tangga besi darurat, berdiri di ambang pintu sambil melipat tangan di dadanya. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam saat ia melihat Arka memandangi foto tersebut. "Kau masih memikirkan Kirana, ya? Arka, dengarkan aku sebagai temanmu. Ruang dan waktu memiliki mekanisme pertahanan diri yang tidak bisa kita prediksi. Kau tidak bisa mengubah masa lalu tanpa menghancurkan masa depan."

Arka memalingkan wajahnya dari foto itu, menatap Maya dengan tatapan tajam yang penuh tekad baja. "Maya, kalau kau berada di posisiku, kalau kau melihat orang yang paling kau kasihi tewas tepat di depan matamu sementara kau memiliki kemampuan untuk mengubahnya, apakah kau akan tinggal diam dan membiarkan takdir berjalan begitu saja?"

Maya terdiam sejenak, bibirnya sedikit terbuka seolah ingin membantah, namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia tahu betul betapa tersiksanya Arka selama tiga tahun terakhir ini, hidup bagaikan mayat hidup yang hanya digerakkan oleh obsesi tunggal untuk memperbaiki masa lalu.

"Aku hanya tidak ingin kehilanganmu juga, Arka," ucap Maya akhirnya dengan suara yang jauh lebih lembut, nyaris berbisik di tengah dengungan mesin lab.

"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Maya. Aku hanya akan pergi ke masa lalu, menyelamatkan Kirana, lalu kembali ke sini seolah-olah tidak terjadi apa-apa," jawab Arka meyakinkan, meski ia sendiri tidak sepenuhnya yakin dengan teori pelarian waktu yang ia ciptakan.

Maya menggelengkan kepalanya perlahan, berjalan mendekati konsol dan mengetikkan beberapabaris kode sandi darurat. "Baiklah. Jika kau bersikeras melakukan kebodohan ini, biarkan aku yang memantau stabilitas matriks dari terminal sekunder. Setidaknya, jika terjadi lonjakan energi liar, aku bisa memutus aliran listrik sebelum tubuhmu terkoyak oleh paradoks temporal."

❖ ❖ ❖

Langkah kaki Maya yang menggema di lantai baja menandakan ia bergerak menuju terminal sekunder di sudut ruangan. Suara tombol keyboard ditekan dengan cepat terdengar bersahut-sahutan dengan bunyi bip elektronik yang menandakan sistem sedang melakukan kalibrasi ulang. Arka mengambil posisi di tengah ruangan, tepat di atas lingkaran logam besar yang tertanam di lantai—sebuah generator medan gravitasi kuantum yang berfungsi sebagai jangkar spasial bagi tubuhnya agar tidak terlempar ke dimensi hampa.

Ia mengenakan rompi sensor biometrik yang dilengkapi dengan kabel-kabel serat optik tipis berwarna hitam. Kabel-kabel tersebut terhubung langsung ke komputer pusat, siap mengirimkan data denyut nadi, suhu tubuh, dan aktivitas gelombang otak Arka secara real-time ke monitor pengawasan.

"Koneksi biometrik stabil di angka sembilan puluh delapan persen," lapor Maya dari seberang ruangan, matanya menatap tajam ke layar monitor sekunder yang dipenuhi barisan kode berwarna hijau. "Tapi aku harus memperingatkanmu, Arka. Begitu tombol aktivasi ditekan, sinyal komunikasi kita akan terputus total selama proses pelompatan berlangsung. Kau akan sendirian di dalam badai temporal itu."

"Aku mengerti," jawab Arka singkat sambil mengencangkan sabuk pengaman di pinggangnya. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma ozon dan logam dingin memenuhi rongga dadanya.

Di luar lab, badai semakin mengamuk. Suara petir menyambar gardu listrik utama di luar kompleks gedung, menyebabkan lampu-lampu di dalam laboratorium berkedip beberapa kali sebelum kembali menyala dengan cahaya darurat yang berwarna kemerahan. Suasana di dalam ruangan mendadak berubah drastis, menciptakan nuansa teatrikal yang mencekam.

"Arka, kita kehabisan waktu! Tim keamanan lembaga riset sudah menerobos gerbang utama. Mereka akan tiba di lantai ini dalam waktu kurang dari lima menit!" seru Maya dengan nada panik, sementara suara alarm keamanan gedung mulai berderit memekakkan telinga.

Arka menoleh sekilas ke arah pintu lab yang terkunci rapat dari dalam. Suara hantaman keras mulai terdengar dari luar, menandakan petugas keamanan sedang mencoba mendobrak pintu besi tersebut dengan palu hidrolik. Waktu pilihan Arka telah habis; ia harus segera memulai eksperimen ini sekarang juga atau merelakan seluruh impiannya direbut oleh aparat lembaga.

"Jalankan protokol peluncuran sekarang, Maya!" perintah Arka dengan suara tegas yang tidak bisa dibantah.

Lihat selengkapnya