
Mengembalikan Amanah: Cincin Pertunangan dan Batas Syariat---
Udara pagi di Kota Bandar Lampung terasa begitu renyah, membawa serta aroma sisa embun yang menguap perlahan tersengat hangatnya mentari dari ufuk timur. Pukul tujuh lewat lima belas menit, kesibukan di sebuah kedai kopi berarsitektur minimalis modern di kawasan Pahoman mulai menggeliat. Suara mesin espresso berdesir pelan, berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental akustik yang mengalun lembut dari pengeras suara ruangan. Di sudut ruangan yang menghadap langsung ke arah taman kecil penuh dengan tanaman monstera dan lidah buatan, seorang perempuan muda tampak duduk gelisah.
Namanya Rania. Mengenakan gamis berwarna sage green yang senada dengan jilbab pashmina instannya, ia terus-menerus melirik ke arah layar ponsel yang terletak di atas meja kayu jati berpelitur halus. Jari-jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk permukaan meja secara berirama, mencerminkan ketidakpastian yang bergolak di dalam dadanya. Di hadapannya, secangkir caffe latte hangat dengan hiasan latte art berbentuk hati perlahan-lahan kehilangan kepulannya, menyisakan permukaan kopi yang mulai mendingin.
"Apakah aku kepagian? Atau memang sengaja dibiarkan menunggu?" gumam Rania pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara denting sendok dari meja sebelah.
Suasana kedai masih cukup sepi, memberikan keleluasaan bagi Rania untuk merenungkan kembali rentetan peristiwa yang membawanya ke tempat ini pada hari Selasa yang cerah ini. Tiga hari yang lalu, sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah lama tidak ia simpan kembali muncul di layar ponselnya. Pesan itu singkat, padat, namun cukup untuk menggetarkan kembali sisa-sisa kenangan yang telah ia kubur dalam-dalam demi sebuah ketaatan.
(Flashback - Tiga Hari yang Lalu)
Pesan dari Arka:
"Rania, bisakah kita bertemu sebentar? Ada barang milikmu yang harus kukembalikan secara langsung. Ini tentang amanah, tidak ada maksud lain. Di Kedai Kopi Pahoman, Selasa jam 7 pagi."
Membaca nama itu saja sudah membuat degup jantung Rania berpacu di luar kendali. Arka adalah pria yang pernah mengisi hari-harinya, pria yang pernah menyematkan cincin perak bermata batu zirkon di jari manisnya dua tahun lalu dalam sebuah ikatan khitbah (pertunangan) resmi keluarga. Namun, takdir berkata lain. Perbedaan prinsip yang teramat tajam mengenai batasan syariat dalam mempersiapkan pernikahan—terutama terkait keinginan Arka untuk mengadakan resepsi campur baur (mixed seating) dan penggunaan pinjaman bank ribawi—membuat Rania mengambil keputusan paling berat dalam hidupnya: membatalkan ikatan tersebut.
Bagi Rania, menjaga ketaatan kepada Sang Pencipta jauh lebih utama daripada mempertahankan hubungan yang dibangun di atas fondasi kemaksiatan yang dibiarkan. Perpisahan itu terjadi tanpa drama berlebihan, namun meninggalkan luka batin yang dalam dan menyisakan satu ikatan duniawi yang belum tuntas: cincin pertunangan dan beberapa buku catatan pengajian bersama yang masih tertinggal di tangan Arka.
"Rania?"
Sebuah suara bariton yang sangat ia kenal membuyarkan lamunan panjangnya. Rania mendongak cepat. Di hadapannya kini, berdiri sosok pria berbadan tegap dengan kemeja flanel lengan panjang yang digulung sampai siku. Wajah Arka tampak sedikit tirus, dengan bayangan lelah di sekitar matanya. Pria itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rindu, ada rasa bersalah, namun juga ada ketegasan yang dipaksakan.
"Arka. Silakan duduk," ucap Rania dengan nada setenang mungkin, berusaha menyembunyikan getaran di tenggorokannya.
Arka menarik kursi di seberang Rania, lalu meletakkan sebuah tas kerja kulit berwarna cokelat tua di atas pangkuannya sebelum menempatkan kedua tangannya di atas meja. "Terima kasih sudah mau meluangkan waktu pagi-pangkalan ini, Rania. Aku tahu ini permintaan yang mendadak."
"Tidak apa-apa, Arka. Aku memang sengaja meluangkan waktu agar urusan ini bisa segera selesai dengan baik," jawab Rania, menjaga jarak pandangnya agar tidak terlalu lama menatap manik mata pria yang pernah hampir menjadi pelabuhan terakhir hidupnya.
❖ ❖ ❖
Udara di sekitar meja mereka mendadak terasa lebih padat, seolah oksigen menipis terserap oleh ketegangan yang belum diucapkan. Rania menarik napas dalam-dalam, menegakkan posisinya demi menunjukkan bahwa ia hadir bukan sebagai perempuan lemah yang datang untuk meratap, melainkan sebagai seorang hamba yang memegang teguh prinsip hidupnya.
"Langsung ke pokok persoalannya saja, Arka," ucap Rania, memulai percakapan dengan nada tegas namun tetap terjaga kesopanannya. "Kamu bilang ada barang milikku yang harus dikembalikan. Aku ingin semua urusan di antara kita benar-benar tuntas hari ini, tanpa ada lagi sisa keterikatan di masa depan."
Arka menghela napas berat, jemarinya bergerak membuka ritsleting tas kerjanya. Dari dalam tas tersebut, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalud kain beludru berwarna merah marun. Kotak itu tampak sangat familier bagi Rania. Itu adalah kotak tempat cincin pertunangan mereka disimpan pertama kali, saat kedua keluarga besar duduk bersama memanjatkan doa restu.
"Ini," kata Arka lirih sambil mendorong kotak beludru itu perlahan di atas meja menuju ke arah Rania. "Cincin ini... dan semua surat-surat perjanjian pembelian seserahan waktu itu. Aku sengaja merapikannya kembali."
Rania menatap kotak beludru tersebut tanpa sedikit pun berniat menyentuhnya. Bagi Rania, cincin itu bukan lagi sekadar perhiasan berharga, melainkan simbol dari sebuah jalan simpang yang memaksa mereka berdua mengambil arah berlawanan demi prinsip yang diyakini.
"Kenapa harus dikembalikan sekarang, Arka? Bukankah dulu kita sudah sepakat bahwa segala hal yang berkaitan dengan masa lalu itu sudah selesai?" tanya Rania, tatapannya kini lurus menatap mata Arka.
"Karena aku merasa ada hal-hal yang belum sempat aku jelaskan dengan benar, Rania," jawab Arka cepat, nada suaranya sedikit meninggi sebelum akhirnya ia sadari dan ia turunkan kembali. "Selama dua tahun terakhir ini, aku mencoba menjalani hidup seperti biasa. Tapi jujur, keputusannu untuk mengakhiri segalanya hanya karena masalah resepsi dan pembiayaan itu... bagiku terlalu kekanak-kanakan. Kita bisa berkompromi."
Mendengar kata 'kompromi' keluar dari mulut Arka, alis Rania sedikit terangkat. Di balik senyum tipis yang tersungging di bibirnya, tersimpan rasa kecewa yang kembali bergemuruh.
"Kompromi dalam urusan syariat, Arka? Apakah bagi seorang laki-laki yang dulu berjanji akan membimbingku menuju surga, urusan riba dan pelanggaran batasan pergaulan bebas dalam resepsi adalah hal yang bisa ditawar-tawar demi menyenangkan hati manusia?" balas Rania tajam, namun suaranya tetap terjaga rendah agar tidak menarik perhatian pengunjung lain.
Arka terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Ia tidak menyangka Rania masih sekaku dulu dalam memegang prinsip agamanya. "Bukan begitu maksudku, Rania. Dunia modern menuntut fleksibilitas. Tidak semua orang bisa kaku seperti caramu memandang hidup. Pernikahan itu tentang keluarga besar, tentang adaptasi sosial, bukan cuma tentang idealisme pribadi yang kamu pegang teguh sendirian."
"Justru karena pernikahan adalah ibadah terpanjang, fondasinya harus benar sejak hari pertama, Arka," sanggah Rania tanpa ragu sedikit pun. "Bagaimana kita bisa mengharapkan keberkahan rumah tangga jika akad dan prosesinya saja sudah melanggar aturan Allah? Aku tidak sedang mencari kesempurnaan dunia, Arka. Aku hanya ingin selamat sampai akhirat."
Tujuan Rania hari ini sangat jelas dan tidak bisa ditawar: ia ingin memutus tali terakhir yang menghubungkan masa lalunya dengan Arka, memastikan bahwa cincin itu kembali ke tangan pemilik asalnya, dan menegaskan sekali lagi bahwa jalan hidup mereka telah tergaris pada rel yang berbeda. Ia tidak datang untuk berdebat panjang, melainkan untuk menutup lembaran yang sudah usang.
❖ ❖ ❖
Suasana di meja kedai kopi itu tiba-tiba terasa hening, seolah dunia di sekitar mereka melambat. Hanya deru pelan mesin pendingin ruangan dan suara langkah kaki pelayan yang sesekali melintas di dekat meja kasir yang terdengar. Arka menundukkan kepalanya, menatap cincin di dalam kotak beludru merah marun yang masih terdiam bisu di antara mereka berdua. Pria itu tampak meresapi setiap kata yang dilontarkan Rania barusan. Ada rasa sesal yang menyelinap di balik ego lelakinya, namun tertutup rapat oleh gengsi yang sudah mendarah daging.
"Kamu benar-benar tidak memberi ruang sedikit pun untukku memperbaiki keadaan, ya, Rania?" tanya Arka dengan suara serak, menyiratkan kepedihan yang sudah lama ia pendam.
Rania mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap dedaunan hijau yang bergoyang diterpa angin pagi. Hatinya tidak sekeras batu; ia merasakan perih yang sama setiap kali bayangan masa lalu berkelebat di kepalanya. Namun, ia tahu persis bahwa melangkah mundur ke dalam ketidakpastian hukum syariat adalah sebuah kesalahan fatal yang akan menghancurkan ketenangan batinnya di kemudian hari.